Sang Fotografer: Cerita Apik di Ujung Lensa

Sang Fotografer

Judul: Sang Fotografer
Penyusun : Didier Lefèvre, Emmanuel Guibert, Frederic Lemercier
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi Indonesia, Tahun 2011

Sang Fotografer merupakan novel grafis yang memukau bagi saya. Dari segi grafisnya, ilustrasi dan foto, hingga alur ceritanya menghibur sekaligus menyentuh. Sudut pandang Didier, sang fotografer yang ditugaskan di Afganistan saat itu, memberikan wawasan yang berbeda mengenai kehidupan di daerah konflik. Sumbangsih kreatif dari Emmanuel Guibert dan Frederic Lemercier dalam menyusun novel grafis ini tidak dapat pula dinafikkan. Mereka melengkapi buku ini dengan ilustrasi dan tata letak yang apik.

Pada dasarnya novel ini menceritakan petualangan Didier Lefèvre di Afganistan. Didier ditugaskan ke daerah konflik tersebut untuk mengabadikan kegiatan sebuah organisasi kemanusiaan, MSF (Médecins Sans Frontières). Mereka datang dengan misi membantu pelayanan kesehatan di daerah-daerah kecil di Afganistan. Tentu saja buku ini mengabadikan perjalanan mereka dan kisah heroik para aktivis kemanusiaan saat mengobati korban perang dengan fasilitas seadanya.

Adapun yang paling seru adalah bagian saat Didier memutuskan untuk pulang sendiri tanpa didampingi teman-teman aktivis lainnya. Hingga pada satu titik, ia merasa dirinya akan mati sendirian di tengah bebatuan Afganistan. Mungkin inilah yang sering dimaksud oleh teman-teman saya yang doyan berpetualang, “kalo kamu melakukan perjalanan jauh dengan orang lain, karakter asli kalian akan muncul dengan sendirinya”. Didier sendiri kembali dari Afganistan dengan gigi yang berkurang 14 butir karena malnutrisi.

Saat membaca buku ini, emosi saya berganti dalam bilangan detik. Sesekali saya menjadi serius, sesekali trenyuh, dan seringkali tersenyum geli dengan lelucon yang ada dalam cerita. Bagi saya, yang unik dari buku ini adalah sudut pandang utama yang berasal dari seseorang yang baru pertama kali menjelajahi area konflik di Afganistan. Dia belajar bagaimana untuk bisa sampai dengan selamat. Tidak hanya peluru yang menjadi ancaman, kondisi ekonomi yang sulit pun menciptakan banyak kelompok bersenjata yang mencari uang dari para petualang asing.

Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, sudut pandang cerita yang berasal dari orang yang awam mengenai medan perang di Afganistan menjadikan saya memiliki kedekatan dengan tokoh Didier. Sebagai seorang yang pernah tinggal di daerah konflik, Merauke Papua, saya merasakan menjadi seorang sipil yang hanya bisa mengungsi ketika pecah kerusuhan. Namun, pemberitaan yang tidak imbang, desas desus yang kami dengar, justru itu yang membuat suasana jadi mencekam. Memang daerah konflik adalah daerah yang rawan, namun kehidupan tetap ada. Cara bertutur dalam novel grafis ini memberikan pandangan menyeluruh tentang daerah konflik. Dimana ada cerita tentang korban perangnya dan tetap ada cerita tentang kehidupan yang terus berjalan di sana.

Saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja. Ya, benar-benar bagi siapa saja. Karena cerita dari buku ini ringan, tidak mengandung SARA, serta tidak membosankan. Lebih dari itu, buku ini membuka pandangan saya mengenai dunia para relawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s