Ulasan Singkat: Mimpi Kala Senja dan The Ocean at The End of The Lane

Senangnya saya bisa menulis lagi setelah sekian lama mengalami disorientasi dan harus mengingatkan diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang produktif. Lebih senang lagi karena akhirnya ulasan mengenai buku-buku yang saya baca akhirnya sempat dikerjakan juga.

Saya akan menguraikan tiap buku denngan cerita yang mengantarkan saya pada buku-buku tersebut. Tanpa pembukaan yang lebih panjang lagi, saya akan mulai dari buku milik kawan sekantor saya, Mimpi Kala Senja.

1. Mimpi Kala Senja (Fifi Rizky dan Andi Yasin)
wpid-fb_img_1441249965041.jpg

Saya yakin nama Fifi Rizky dan Andi Yasin belum banyak terdengar di dunia kesusastraan Indonesia. Novel ini adalah buku pertama mereka yang mereka cetak secara independen. Walaupun, tetap dijual kepada masyarakat luas. Buku ini saya dapatkan gratis karena salah satu penulisnya, mbak Fifi, memberikan versi yang belum direvisi. Beruntung sekali bukan? Mengenai apa yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, terus terang tidak terlalu banyak. Namun demikian, saya tetap mencoba untuk memberi pandangan dari beberapa sisi.

Kalau boleh jujur, saya adalah penganut istilah “jangan menilai buku dari sampulnya” karena saya penganut istilah “nilailah buku dari bab pertamanya”. Saat saya membaca buku fiksi, terutama novel, saya selalu menilai apakah cerita selanjutnya akan menarik atau tidak dari prolog dan bab pertama. Saat membaca Mimpi Kala Senja, jujur, saya berhenti pada bab pertamanya. Hal ini dikarenakan saya karakter pemeran utamanya yang bisa ditebak dari bab pertama, dan si pemeran utamanya berkarakter ‘cowok keren pemberontak ala ftv’. Saking tidak bisa merelasikan si pemeran utama dengan kehidupan yang saya hadapi sehari-hari, terus terang saya lupa siapa nama anak muda itu. Yah, terakhir kali membaca Rahasia Meede karya E.S. Ito adalah tahun 2009, dan saya masih ingat dengan Batu dan Kalek, pemeran kunci dalam novel tersebut. Sama-sama menampilkan ‘cowok keren pemberontak’, hanya saja pada tokoh Batu dan Kalek saya melihat sisi manusiawi yang saya temukan dalam diri saya dan orang lain sehari-hari. Mulai dari keras kepala, hingga kepatuhan Batu pada perintah atasan yang mencelakakan diri dan bangsanya.

Pun dialog antara si pemeran utama pria dengan kekasihnya tidak natural. Saya pun menyebut bab pertama ini sebagai ‘anti klimaks’. Mungkin karena saya sudah belasan tahun meninggalkan bangku SMA, sehingga tidak ‘nyambung’ lagi jika disuruh menengok kehidupan anak ABG. Oh ya, pemeran utama dalam novel ini adalah seorang anak lelaki yang masih duduk di bangku SMA.

Bagi yang baru memulai membaca novel, atau mereka yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah mungkin bisa membangun hubungan yang harmonis dengan buku ini. Mengingat latar psikologis dari buku ini adalah karakter remaja yang masih menghuni sekolah menengah.

2. The Ocean at The End of The Lane (Neil Gaiman)
wpid-img_20150903_185021.jpg

Buku yang satu ini merupakan salah satu genre kesukaan saya. Fantasi, dimana cacing bisa menjadi wanita cantik dan penyihir adalah sekumpulan wanita baik yang menghuni peternakan. Imajinasi yang liar akan dimanjakan dengan latar dan cerita dari buku ini.

Walaupun saya sangat menyukai ide cerita, jalan cerita, dan latar belakang dari novel ini, namun memang ada beberapa detil cerita yang saya kritisi. Contohnya penyelesaian cerita yang terasa prematur, atau biasa. Kemunculan si nenek penyihir secara tiba-tiba untuk menyelamatkan pemeran utama terasa klise. Namun demikian, 80% dari buku ini dapat dirangkum dalam kata “seru!!”.

Bagi yang menyukai cerita-cerita fantasi yang jauh dari manisnya dunia Disney, buku ini dapat menjadi pilihan yang tepat. Jika Anda menyukai Stardust, juga karya Neil Gaiman, Little Prince, atau cerita petualangan dengan sedikit keajaiban, kemungkinan besar Andapun akan menyukai buku ini.

3. Aristotle and Dante Discover The secret of Universe ( Benjamin Alire Sáenz)
wpid-screenshot_2015-10-17-22-13-13.png
Selain kedua buku yang saya ulas secara singkat di atas, saya pun sudah menyelesaikan “Aristotle and Dante Discover The secret of Universe” yang juga harus saya ulas karena dibanding buku lain yang saya baca di dua bulan terakhir, buku ini adalah yang paling saya sukai. Dimana tokoh Soledat, yang bukan tokoh utama, menjadi karakter kesukaan saya karena, menurut saya, karakternya nyata. Walaupun bercerita tentang kisah cinta sesama jenis, buku ini tetap ‘bersahabat’ bagi mereka yang baru mengenal istilah ‘hubungan sesama jenis’. Bahkan, cerita dalam buku ini pun mampu memberi sudut pandang yang lebih jelas mengenai hubungan percintaan antara dua orang dengan jenis kelamin yang sama.

Buku lain yang saya baca adalah trilogi The Girl in The Box. Sebuah cerita tentang para mutan atau manusia super. Namun, saya tidak akan mengulas banyak tentang Sienna dan teman-temannya, karena memang buku ini tidak membuat saya ingin bercerita banyak. Dari tiga seri buku, buku kedualah yang paling saya sukai. Tetap tidak ingin bercerita banyak. Bahkan jika Anda menyukai fiksi ilmiah, saya tidak yakin Anda menganggap buku ini seseru kisah X Men.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s