Membaca Brothers Karamazov (Fyodor Dostoevsky)

fyodor destovskySaya mendapat pinjaman buku yang cukup tebal dari salah satu rekan kerja saya. Akrab saya panggil Mas Leon. Saya tidak begitu paham dari mana asal negaranya. Yang saya tahu, dia datang dari Jerman. Namun saya tidak akan menceritakan si pemilik buku ini secara mendalam, saya akan bercerita tentang apa yang saya rasa dan pikir tentang buku ini.

Buku ini ditulis dengan gaya narasi dari sudut pandang orang ketiga. Saya tidak akan bohong bahwa saya tidak bosan saat sedang membacanya, namun gaya naratif ini membuat saya merasa lebih mudah untuk membayangkan apa yang terjadi dalam cerita buku ini. Gaya bahasanya akrab, bahkan sering diselipi oleh pendapat dari si penulis. Hanya saja dialog antar tokohnya yang membuat buku ini agak membosankan.

Saya akan membahas sisi lemah dari buku ini nanti, sebelumnya akan saya jelaskan dulu sedikit mengenai jalan cerita buku ini. Brothers Kamarazov pada dasarnya berkisah tentang sebuah keluarga pengusaha yang memiliki tiga anak dari dua istrinya yang berbeeda. Jelas dalam ceritanya si antagonis, tidak memperlakukan istrinya dengan baik. Sehingga keduanya meninggal pada saat anak-anak mereka masih balita.

Selanjutanya, ketiga bersaudara Kamarazov ini memiliki hubungan erat dengan ayahnya, dalam berbagai bentuk.  Dimitry, si sulung, bermusuhan dengan Ayahnya karena persengketaan harta dan wanita. Lalu Ivan, dia seorang terpelajar yang memutuskan untuk tinggal dengan Ayahnya. Adapun si bungsu kesayangan semua orang, Alyosha, yang menjadi penengah dari sengketa keluarga. Dengan mengambil latar belakang Rusia pada tahun 1800an, saya bisa merasakan, tidak hanya kesusahan hidup rakyat jelata, melainkan juga kehidupan tragis para ningratnya. Dengan cerita bersifat narasi ini, tentu saja perjalanan psikologis dari tiap tokoh terpapar jelas. Jujur, saya bisa mengaitkan diri dan lingkungan saya dengan sifat dari hampir semua tokohnya. Bahkan dengan Fyodor Pavlovich, si antagonis dalam cerita ini.

Tidak ada yang baik seratus persen, karena dalam kebaikan pun seseorang kadang menemukan keraguan. Dalam keraguan, dan di saat amarah atau benci mempengaruhi keputusan, saat itulah orang menjadi salah langkah. Lalu saling menyalahkan. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari buku ini. Walaupun belum sampai habis saya membacanya, saya yakin pada perjalanan selanjutnya di buku ini akan banyak terungkap fakta baru.Entah pada akhirnya siapa membunuh siapa, atau siapa menipu siapa, terus terang saya lebih tertarik untuk mengupas tentang manusia, serta kehidupan di Rusia pads masa itu. Termasuk arsitektur gerejanya dan jalan-jalan di kota kecil tak bernama ini. Ya, dari halaman pertama cerita dimulai hingga hampir terkupas klimaks cerita di buku ini, saya belum tahu nama kotanya apa.

Satu trik yang saya pelajari untuk perjalanan selanjutnya dalam membaca buku ini, saya tidak boleh tenggelam dalam gurindam atau tutur yng bertele-tele. Jika ada dialog tak berinti, maka akan saya lewatkan. Gaya dialog para tokohnya, terus terang, mengingatkan saya pada novel berjudul “Najla”. Sebuah novel karya seorang penulis Arab. Terlepas dari gaya tuturnya yang puitis dan indah, dialog panjang tetap saja membosankan.

Ulasan tentang sisi lemah dan kelebihan dari cerita Brothers Karamazov karya Fyodor Dostoevsky ini, mungki tidak mampu mengulas buku ini secara mendalam. Namun, bagi penikmat sastra klasik atau sastra sejarah, buku ini dapat menjadi rekomendasi yang menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s