Apa yangsaya lakukan selama ini, dan -mungkin- Anda tidak tahu

Setahun yang lalu saat ayah dari teman saya, Nuran, meninggal, Nuran menulis tentang proses meninggal ayahnya. Tulisan itu muncul di wall Home FB saya tidak lama setelah ayahnya meninggal. Saat itu saya berfikir saya bisa setegar dia dan siap untuk berbicara tentang meninggalnya ayah saya, kalau sudah waktunya. Bulan Agustus 2013, tepatnya pada bulan puasa, ayah saya meninggal. Perkiraan saya meleset, saya selalu kesal ketika orang bertanya tentang meninggalnya beliau, yang dapat saya sembunyikan dengan baik. Bahkan, saya butuh beberapa bulan untuk siap menulis dan terbuka tentang beliau di blog ini.

Saat berita meninggalnya ayah saya, saya tidak merasakan kaget, atau sedih yang berlebihan. Saya cukup tenang bahkan menelpon beberapa anggota keluarga saya untuk memberi kabar. Keesokan harinya, saya masuk kerja, namun pada siang harinya saya mengalami panick attack. Syukur serangan itu hanya berlangsung 30 menit, setelah itu saya bisa membantu teman saya masak, bahkan kami pergi karaoke. Selanjutnya saya pulang ke tanah kelahiran saya di Merauke pada tanggal 16 Agustus. Selama empat hari disana saya cukup bahagia karena bertemu keluarga dan teman-teman saya. Salah satu peristiwa yang membahagiakan adalah saat saya berkumpul lagi dengan anak-anak asuh ayah saya.

Sepulang dari Merauke, saya bekerja dan menjalankan rutinitas seperti biasa. Walaupun saya sempat kehilangan orientasi, tapi saya bisa pulang pergi untuk bekerja seperti biasa. Lalu saya mengalami panick attack kedua, dan bos saya langsung memanggil seorang psikiater hari itu juga. Konsultasi berlangsung selama satu jam ditambah latihan relaksasi. Terus terang tidak banyak membantu, saat itu.

Saya mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan saya yang lama, karena memang saya berniat untuk menjadi penulis lepas. Selain itu, saya yakin dengan mengerjakan hal yang saya sukai, keadaan psikologi saya akan terus membaik.

Proses kedua dalam recovery saya, setelah saya tidak bekerja lagi, adalah melakukan penelitian. Saya mulai membaca teori dan dokumenter mengenai keTuhanan, mencoba untuk mempelajari konsep kematian, alam semesta dari berbagai sudut pandang, religius sampai materialis. Bagi teman-teman saya di Tegalboto (majalah kampus Universitas Jember) topik seperti ini pastinya tidak asing, oleh karena itu saya sudah terbiasa dengan proses memahami konsep-konsep baru.

Saya juga mulai melakukan meditasi, dan mempelajari secara ilmiah mengenai bagaimana sebenarnya otak manusia bekerja. Kondisi otak manusia saat bekerja, tenang, dan tidur. Ilmu-ilmu baru ini terus terang memberi saya wawasan tentang cara untuk mengatasi rasa gelisah dan membuat saya untuk tetap kreatif dan aktif. Saya bahkan mengikuti sesi meditasi di sebuah kuil beberapa kali. Walaupun saya orang Islam, saya akui saya lebih tenang saat meditasi dibandingkan saat shalat. Bahkan shalat saya terasa lebih menenangkan dan khusyuk setelah saya melakukan meditasi. Saya memang sudah tidak melakukan meditasi beberapa hari ini, namun ketika otak saya lelah bekerja saya akan diam beberapa menit untuk menyegarkan otak.

Saya tahu teman saya mencoba meyakinkan bahwa agama Islam itu paling benar. Dia melakukan hal ini karena tahu saya ikut sesi meditasi, tapi saya tidak menceritakan padanya lebih dalam mengapa saya mengikuti sesi meditasi karena saya tidak suka berdebat. Tulisan ini juga semoga dapat dibaca oleh kawan saya mengapa saya menjadi lebih tenang ketika meditasi. Saya juga berharap siapapun yang berusaha mendebat pemikiran dan kebiasaan baru saya dengan ayat Al Qur’an untuk mencari teori ilmiah dulu. Salah satunya saya tidak menceritakan hal ini kepada mereka yang ‘bergama samawi’ karena, sesuai pengalaman saya, saya akan dihakimi bukan dibantu. Terbukti kawan saya itu langsung bilang ‘jangan terpengaruh sama orang lain’ sebelum saya menceritakan lebih lanjut. Terus terang saat itu saya langsung ‘turn off’ untuk menanggapi. Tapi saya tidak boleh punya perasaan negatif pada siapapun, karena energi negatif dalam diri saya dapat mengundang energi negatif dari luar.

Orang-orang akan bilang berdoa supaya arwah beliau akan tenang. Saya yakin saudara-saudara saya yang lain akan langsung memasrahkan kepada ‘tuhan’ tentang nasib keluarga saya di alam lain. Namun, entah jalan pikiran saya yang aneh, karena sesuai pengalaman saya aneh sendiri dalam keluarga, saya harus tahu apa yang terjadi setelah seseorang meninggal. Dan pertanyaan ini menuntun saya ke berbagai teori, artikel, jurnal, diskusi ilmiah, dan dokumenter mengenai berbagai hal, saya bahkan menemukan kembali teori lama mengenai eksistensialisme yang sudah saya tinggalkan di Jember.

Ada sisi baik dari perjalanan terapis saya setelah meninggalnya ayah saya. Saya jadi banyak membaca dan kembali mempelajari sejarah. Sejarah Islam, free spirited, sejarah Jawa, menyebarnya Islam di Indonesia, bahkan mencari film dokumenter mengenai penelitian psikologis.

Ok, saya yakin pasti banyak yang bertanya mengapa satu kejadian itu bisa menuntun saya kejalur ilmiah yang, kalau Anda mau sebut, ribet. Disaat orang-orang mengambil liburan, atau berusaha mencari ketenangan setelah berduka, saya malah membenamkan diri dengan artikel dan video penelitian. Proses meninggalnya ayah saya memang terlihat biasa dan wajar. Beliau sakit, hemoglobinnya menurun, lalu meninggal. Namun pemicu penyakitnya ini yang membuat saya mempertanyakan kembali eksistensi kepercayaan saya dan ajarannya. Ditambah temuan-temuan saya dalam artikel, buku, dan video yang saya dapat, pikiran saya menjadi lebih terbuka untuk berbagai perubahan.

Orang boleh mengatakan itu takdir, tapi bagi saya ‘pemicu’ sakit ini (saya tidak akan menyebutkannya) bukanlah takdir yang dibuat Tuhan, Yang Esa, Allah, Bapa, atau apapun kalian menyebut The Higher Up. Mengingat pengetahuan beliau mengenai agama, beliau bahkan seorang sosiolog, saya jadi mempertanyakan sebenarnya apa fungsi agama. Tentangga saya yang beragama lain,  bahkan menderita kanker payudara saat ayah saya mulai sakit, namun beliau bisa kembali sehat seperti sedia kala. Orang akan bilang, doakan saja, ikhlaskan saja. Semua itu bisa saya lakukan, namun semua kejadian ini membuat saya melihat sebuah proses yang lebih besar dari sekedar ‘doakan saja’ dan ‘ikhlaskan saja’.

Saya juga tidak menyangka, dari menyaksikan kamar tidur dimana saat ayah saya meninggal, saya lalu tergerak untuk melihat kondisi makro yang selama ini, boleh dibilang, tertutup dogma. Saya tidak bilang sistem agama itu salah. Sebuah masyarakat memang membutuhkan sistem yang lebih kuat dari hukum positif, untuk membuat mereka lebih teratur dan beradab. Dalam hal ini yang saya sesalkan adalah, bagaimana orang mempelajari agama tanpa memahami esensinya. Bagaimana orang menjalankan ritual tanpa mengerti maksudnya. Bagaimana orang hanya menerima tanpa mau berfikir, hanya karena ada kalimat ‘saya dengar saya taat’.

Semua proses ini juga terasa seperti déjà vu. Saat saya SMP (saya lupa kelas berapa), saya suka sekali tidur-tiduran di kamar sembari berfikir apakah Tuhan itu ada, kenapa kita butuh sistem dalam masyarakat, kenapa kita butuh sistem sebagai individu. Syukurlah saya melewati fase itu, dan sampai pada kesimpulan Tuhan ada, dan manusia memang butuh sistem, sebagai individu dan masyarakat. Namun sistem seperti apa?

Kalau bicara tentang agama, saya sangat setuju dengan pemikiran Yusuf Estes, ‘agama bukan masalah bukti, tapi masalah keyakinan’. Semua agama melarang umatnya untuk berbuat jahat pada orang lain, semua agama mengajarkan untuk berbuat adil, semua agama mengajarkan ada ganjaran baik dan buruk untuk setiap perbuatan. Anda boleh berpendapat bahwa saya bersikap berlebihan dan terlalu dramatis, namun saya bukan orang yang hanya karena orang lain  bilang apel itu manis saya percaya apel itu manis tanpa mencoba. Saya tahu dalam fase ini saya menyentuh ranah yang abu-abu, ilmiah dan supranatural. Ranah yang diperdebatkan, terutama kalau Anda membaca tentang teori penciptaan alam semesta, Big Bang bukanlah teori satu-satunya.

Sebenarnya ada ketakutan dalam diri saya ketika saya menulis tentang hal ini, apakah nanti saya akan mendapat ‘penghakiman’ dari beberapa pihak. Tapi saya berada dalam posisi, saya ambil resiko itu. Bahkan walaupun hal itu mungkin akan datang dari keluarga saya. Saya sudah sadar dari sejak lama bahwa keluarga belum tentu memahami kita, kitalah yang harus memahami diri kita dengan baik, dan saya adalah pemikir. Bukan memuji diri sendiri, tapi saya memang suka berfikir.

Saya sudah bisa memperkirakan, karena semua orang yang saya ceritakan mengenai hal ini berkata ‘yang salah itu individu’, kalau ini masalah individu berarti saya juga bisa berkata ‘yang benar itu individu’. Saya percaya Tuhan ada dan membuat sistem yang kita sebut sebagai alam semesta, namun apakah sistem ‘berkemanusiaan’ yang selama ini kita jalankan adalah juga sistem dari Tuhan? Orang tidak perlu mengenal sistem riba untuk mengetahui bahwa mengambil hak orang lain dan mengambil keuntungan berlebihan adalah salah. Sebelum Cina mengenal hukum Islam bahwa seorang pencuri harus dipotong tangannya, Confusius sudah membuat hukum itu, dan Confusius adalah murid Lao Tze pendeta Tao.

Dalam hal ini saya tidak berusaha untuk mengajak pembaca meragukan hukum dalam Islam, yang ingin saya tekankan adalah ada kesalahan berfikir dari orang-orang yang beragama, syukurnya tidak semua. Mereka tahu agama adalah pengatur atau sebuah sistem, di satu sisi agama bukan sekedar objek ilmiah melainkan juga keyakinan. Saya melihat banyak orang yang merupakan pemuka agama melakukan hal-hal yang melanggar ‘sistem’ tersebut, namun mereka tetap memberikan doktrin pada umatnya. Sebagaimana pencerahan dari Yusuf Estes, bahwa agama bukan bukti melainkan keyakinan, orang-orang ini hanya meletakkan agama sebagai bukti, bukan keyakinan. Hasilnya adalah doktrin, kemandegan berfikir, karena agama diperlakukan sebagai bukti, hal untuk dilihat dan dipercaya, bukan diyakini. Hal ini juga membuat orang-orang percaya bahwa agamanya benar, tapi tidak mau berbuat baik karena mereka berfikir ‘asal percaya dengan keyakinan tertentu, pasti masuk surga’ (kepercayaan ini bukan hanya dalam Islam), pertanyaannya ‘tahu dari mana?’. Tentu saja mereka percaya hal ini karena itu tertulis dalam kitabnya, namun pernahkan mereka mempertanyakan kepercayaannya itu. Kalau berbicara keyakinan, kita akan bicara ranah supranatural, tidak mungkin tersentuh secara ilmiah. Belum tentu semua orang yang percaya agama, yakin akan agamanya sendiri. Kalau hal itu terjadi, dunia ini akan aman, dan tidak ada catatan perang dalam sejarah. Keyakinan adalah yang menuntun seseorang dalam mencapai pencerahan spiritual, kalau dalam Islam disebut hidayah, dalam Buddha disebut buddhi (kesadaran), atau dalam bahasa Renaisance kita kenal dengan ‘pencerahan’ atau ‘enlightment’.

Oleh karena itu, bagi saya perdebatan antar agama untuk menunjukan agama mana yang paling benar adalah konyol dan buang-buang waktu. Karena agama adalah masalah keyakinan, masalah spiritual yang notabene supranatural.  Bicara soal bukti ilmiah, setiap agama pernah diteliti secara ilmiah dan memiliki konsep masing-masing dalam hal alam supranatural. Fenomena tentang pemuka agama yang melakukan hal yang bertentangan dengan inti ajaran semua agama, yaitu kasih sayang, menunjukan bahwa mereka mendasarkan pemahaman agamanya hanya pada bukti yang merupakan natural, bukan keyakinan. Perlu saya informasikan mengani fenomena ini, saya saksikan dengan mata saya sendiri, dan terjadi pada orang-orang yang dekat dengan saya. Maka saya tidak heran kalau ujungnya saya berfikir ulang tentang sistem kepercayan dan keyakinan yang umum di masyarakat kita.

Saya bukan orang suci yang sudah menemukan pencerahan spiritual seperti Mosses, Yesus, Buddha, atau Muhammad. Saya hanya mencoba untuk berfikir ulang kembali tentang pengertian saya selama ini mengenai kepercayaan yang saya anut. Kalau orang yag saya lihat berkotbah, melakukan ritual, dapat terjebak dengan pemahamannya sendiri, apalagi saya.

Satu informasi lagi, memang butuh waktu untuk memaafkan ayah saya. Saya butuh penjelasan, seperti ‘clossure’ tentang mengapa terjadi seperti itu? Namun dengan meditasi, olah pernafasan, dan proses terapi mandiri, saya berhasil menenangkan diri dan memaafkan ayah saya. Saya mengubah keingnan saya untuk menuntut ‘clossure’ menjadi keinginan untuk mendapat jawaban mengenai ‘apa yang salah’. Dengan mengubah kemarahan menjadi rasa ingin tahu, saya berharap untuk tetap dapat bersikap positif terhadap apapun nanti yang saya hadapi.

Semoga racauan saya bermanfaat bagi Anda.

3 thoughts on “Apa yangsaya lakukan selama ini, dan -mungkin- Anda tidak tahu

  1. Kathleen Juita says:

    This article so attracted me, mba. Terus terang, gamblang, tapi tetap ada dasar/base. Accidentally, aku lagi tertarik dgn latar belakang bahkan mengumpulkan sejarah dan bukti ilmiah dari keyakinanku juga. Salah satu buku yg aku lg bca adalah sejarah alkitab-karin amstrong. I appriciate what u were searching in this article. This article truly give me a spirit to explore my belief detailly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s