Tentang Manusia

Saya baru saja membaca buku tentang filsafat ketatanegaraan yang menguraikan secara singkat pemikiran para filsuf diawal era filsafat modern. Yang menarik bagi saya adalah pernyataan Aristoteles yang menyebutkan manusia adalah gabungan antara dewa dan binatang. Dewa melakukan segala sesuatunya demi kepentingan umat atau dunia, sedangkan binatang adalah makhluk yang mementingkan hasrat mendasarnya sebagai makhluk hidup, yaitu pangan, tempat beristirahat dan berkembang biak. Posisi manusia, menurut Aristoteles, berada diantaranya. Manusia adalah makhluk yang berkebutuhan untuk mementingkan pihak lain dan dirinya sendiri.

Konsep ini telah membuka pemahaman saya mengapa manusia membutuhkan aturan dan kebebasan. Manusia adalah makhluk hidup yang rumit, sifat alamiahnya yang berada diantara dewa dan binatang ini membuat manusia dapat hidup secara dinamis. Manusia dapat beradaptasi dalam berbagai lingkungan, karena adaptasi adalah kebutuhan manusia untuk dapat bertahan hidup. Bagi mereka yang tidak dapat beradaptasi, maka akan mati atau mengalami gangguan kejiwaan.

Adaptasi terhadap perubahan peradaban manusia yang dinamis dan lingkungan yang berbeda, seta adaptasi terhadap hukum positif yang ditetapkan oleh sebuah negara pada dasarnya adalah kebutuhan dasar, sekaligus kemampuan yang bakatnya dimiliki manusia sejak lahir. Beradaptasi juga menyeimbangkan manusia sebagai makhluk unik yang memiliki hasrat , keinginan akan hal-hal mendasar yang dimiliki semua makhluk hidup, juga budi, kebutuhan untuk bersosialisasi dan mementingkan kepentingan pihak lain.

Adaptasi dapat dilakukan manusia karena manusia memiliki akal. Akal adalah perangkat ide yang dimiliki manusia, bahkan yang paling primitif, untuk menyelesaikan permasalahan dan membedakan mana yang baik dan buruk. Berbeda dengan insting, akal membuat manusia bertindak secara dinamis. Kemampuan ini juga yang menjaga manusia dari kepunahan.

Tidak dipungkiri, banyak binatang yang kekuatan tubuhnya lebih besar dari manusia, namun dengan akal manusia dapat menaklukkan mereka. Akal yang didasarkan pada budi pekerti menjaga manusia dari sikap semena-mena.  Akal yang didasarkan pada hasrat untuk bertahan hidup membuat manusia berfikir untuk melindungi dirinya.

Kompleksitas yang ada dalam diri manusia inilah yang membuat manusia membutuhkan hukum lain selain hukum alam yang statis.  Maka adalah agama untuk mengatur  manusia sebagai individu dan warga dunia, sedang hukum positif mengatur manusia sebagai warga negara. Selain itu, ada pula hukum adat yang mengatur manusia sebagai anggota kelompok tertentu yang lebih spesifik. Hukum-hukum inilah yang diinternalisasi oleh manusia dan diterapkan dalam kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu keluarga atau kelompok sosial lainnya yang lebih spesifik lagi seperti organisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s