Menggali Kuburan Leluhur

Saya mulai untuk berfikir lagi tentang mutiara-mutiara kebijaksanaan yang sering dicampakkan. Ungkapan jati diri yang sering digemakan para aktivis dan pemikir, adalah jati diri berupa kefanatisan. Kefanatisan akan pemikiran dan adab yang bukan merupakan buah rahim dari tanah Indonesia. Lagi pula pertanyaan tentang ‘jati diri’ itu perlu dilemparkan lagi ke muka si penanya. Jati diri yang seperti apa? Ada sekitar 350 suku bangsa di zamrud katulistiwa ini. Semuanya punya latar belakang dan proses pembentukan jati diri yang berbeda. Maksudnya yang mana?

saya yakin pertanyaan ini membuat kita akhirnya melirik keluar. mengenyampingkan kemampuan berfikir mendalam dengan menenggak semua pemikiran dan ideologi dari negara lain yang kita anggap rasional. Beberapa teman saya bahkan menyebut diri mereka atheis, dan beberapa lain nya memilih jalur Islam Sosialis, dan lain-lain. Tentu saja saat bersama mereka, tidak banyak yang bisa saya bicarakan. Karena kebanyakan apa yang mereka sampaikan sudah pernah saya baca di buku, majalah, artikel di internet, atau diselebaran demonstrasi mahasiswa. Akhirnya, kalau diladeni malah jadi debat kusir, bukan bertukar pikiran.

Saat membaca tentang kerajaan-kerajaan di tanah Jawa, karena butuh waktu lama untuk bisa membaca satu kerajaan, saya menangkap bahwa pada dasarnya watak orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan watak manusia di negara lain pada saat ini. Hanya saja memang, keinginan untuk dihormati, dan diuntungkan menjadi watak dominan yang harus diubah.

Perubahan karakter sosial ini, tentu tidak lepas dari pengaruh bangsa Penjajah yang mendoktrin sedemikian rupa sehingga para orang tua kita percaya kalau mereka lemah. Budaya membaca makna yang mengharuskan manusia berfikir mendalam ditinggalkan, para anak bangsawan dan keturunan raja bertapa dan mati-matian mencari ilmu di dusun. Kecintaan akan sastra dan kebijaksanaan yang dibawa para Resi saat berada di medan perang membawa para panglima pada kemenangan. Sangat berbeda dengan apa yang kita lihat saat ini.

Saya yakin ada sebuah pengaruh luar, jauh sebelum negara ini dijajah, yang berakulturasi dengan pengaruh dari dalam watak keseharian di nusantara yang menjadikan bangsa ini mudah dibodohi dan merasa diri kerdil.  Hal ini diperparah dengan doktrin Belanda yang menganggap bangsa ini bodoh dan belum pantas merdeka.

Ada pengaruh yang entah dari mana asalnya membuat bangsa ini secara turun temurun mencari kebaikan diluar dan menjiplaknya, bukan mengembangkan atau mempelajari. Membuat bangsa ini secara turun temurun mengagumi keindahan di tempat lain sampai lupa menggali kecantikan diri sendiri. Melihat apa yang kita punya dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Saat ini peninggalan Belanda yang saya lihat adalah, pertanian Indonesia, rel kereta api, pandangan bahwa bangsa barat selalu lebih baik, dan wanita berkulit putih lebih cantik. Memang tidak bisa seluruh dosa kita timpakan pada bangsa penjajah dalam membentuk watak sosial kita saat ini. Ada satu akar dimana semua itu bermula dan belum kita temukan.

Saatnya kita melihat kebelakang sejenak dan mencari. Mencari mengapa kita seperti sekarang ini. Agar kesalahan turun temurun yang kita lakukan tidak dapat lagi sembunyi dibalik pembenaran “orang tua saya juga bagitu”. Juga agar tidak lagi kita memicingkan mata melihat bangsa sendiri dengan kepesimisan dan kebencian, karena sejatinya kita seperti sekarang ini pasti ada sejarahnya. Seandainya kita mengerti perjalanan panjang karakter sosial ini, pasti kita juga akan paham bahwa segala sesuatunya bisa berubah dengan menggunakan apa yang kita miliki.

Kenapa harus bepergian jauh, kalau sebenarnya kebijaksanaan itu terserak dibelakang kita. Kita merangkai kearifan dari para leluhur. Karena jati diri bukan sekedar Jaipong, Gamelan, Tari Tor-Tor, atau patung Asmat.

 

One thought on “Menggali Kuburan Leluhur

  1. didik says:

    Iya! Ada suatu bentuk penjajahan baru paska demokrasi yang diagung-agungkan eropa sana menguniversal. Penjajahan bukan secara fisik, penjajahan, atau pun kontak fisik. Tapi melalui berbagai macam ideologi demi menguntungkan segelintir kaum, dan tentu saja melemahkan kaum lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s