Ruang Belajar Hologram

Era teknologi informasi mulai merambah masuk dalam setiap sendi kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Teknologi informasi pada dasarnya memungkinkan dan memudahkan manusia untuk dapat saling berhubungan dengan cepat, mudah dan terjangkau serta berpotensi untuk membangun masyarakat yang demokratis. Salah satu dampak besarnya adalah demokratisasi dalam bidang pendidikan. Teknologi komunikasi dan informasi dapat membantu mentransformasikan mereka yang selama ini berada pada posisi marginal dibanyak daerah dengan peralatan sebuah komputer multimedia dapat berubah dari posisi pengamat menjadi posisi partisipan aktif dan disinilah sebenarnya sebenarnya peranan teknologi informasi terhadap dunia pendidikan dalam proses demokratisasi pendidikan menjadi sangat signifikan.

Informasi yang tersebar dari layar kaca komputer (internet) memungkinkan ilmu tidak lagi didapat dari buku-buku atau sekolah. Internet bisa menjadi media alternatif yang menarik untuk mendapatkan akses pendidikan dari segala penjuru dunia dengan mudah. Perkembangan internet saat ini terjadi sedemikian pesatnya. Seiring dengan semakin baiknya sarana dan infrastruktur, dengan sendirinya hal itu juga mengubah cara hidup manusia termasuk cara manusia dalam belajar. Internet menjadi kan informasi apapun untuk bisa dicari dan tersedia secara luas. Semua ruang perlahan-lahan mulai terkoneksi dengan internet dan penyedia jasa konten di internet juga berlomba-lomba menyediakan berbagai hal yang berguna bagi orang-orang yang suka on-line. Sebut saja Google, perusahaan ini menjadi penyedia informasi terbesar sebagai search engine yang memudahkan netter untuk mendapatkan berita yang diinginkan. Ini artinya, buku-buku favorit kita dari perpustakaan kenamaan dunia dapat dengan mudah diakses. Situs-situs lainnya juga menawarkan berbagai macam ilmu pengetahuan baik berupa e-book, online article atau online journal dan sebagainya.

Inilah yang mulai dipersepsikan sebagai zaman e-learning. Namun penggunaan metode melalui ruang maya pada kebanyakan sekolah dan universitas di Indonesia sendiri belum tergolong sebagai e-Learning melainkan distance learning (Sang Guru:2005. Ekspresi). Hal ini dikarenakan media elektronik sebagai penunjang metode tatap muka di kelas bukan media utama dalam belajar mengajar. Di lain pihak, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perubahan ini, walaupun hal ini juga tidak bisa dihindari sebagai bagian dari laju zaman.

Dalam perkembangannya, e-Learning tidak hanya menjadi sarana penunjang melainkan sudah menjadi bagian utama dari proses belajar mengajar. Munculnya universitas virtual menjadi sebuah indikasi bahwa mungkin suatu saat dunia memang harus berjalan seperti itu. Namun kali ini kita tidak akan membicarakan e learning dalam sudut pandang proyeksi masa depan, namun pada apa yang terjadi ketika proses belajar mengajar jarak jauh itu berlangsung.

Apa Saja dalam E Learning

Tidak mudah tentunya menghidupkan sesuatu yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti sistem dari e-Learning sendiri, tentunya menimbulkan banyak pendapat –pro dan kontra. Sikap kontra umumnya dimunculkan berhubungan dengan ketidak hadiran guru dalam makna yang sesungguhnya. Guru dianggap dapat menjadi teladan bagi muridnya, dengan metode virtual –menurut beberapa orang- memutuskan hubungan guru dan murid. Adapun kritikan muncul tentang penerapan e-Learning mengingat kondisi sosial masyarakat di Indonesia. Di satu sisi pendidikan Indonesia butuh percepatan namun di sisi lain sekitar lebih dari separuh rakyat Indonesia belum mengenal komputer. Ditinjau dari segi kemampuan memahami teks, masyarakat di negara ini belum memiliki budaya membaca. Hal ini tentu menjadi hambatan tersendiri jika kehadiran guru untuk menjelaskan secara langsung tidak ada.

Pada dasarnya, keefektifan dari sistem belajar inilah yang menjadi tujuan utama bagi para pengguna e-Learning. Kebebasan waktu juga menjadi pertimbangan tersendiri. Seseorang pun dapat melakukan hal lain selain sekolah, berkarier misalnya. Seperti halnya sekolah atau universitas terbuka, e-learning memberikan kelonggaran bagi siswanya. Setiap pertanyaan dapat dikirim pada pengajar melalui e-mail atau membuat janji untuk chatting.

Banyak yang khawatir tentang pendidikan nilai ataupun permasalahan peran guru dalam sistem belajar ini. Pada dasarnya, sistem ini tidak mereduksi apapun dalam pola komunikasi. Yang ada hanyalah cara yang berubah. Pada perkembangannya, sekolah-sekolah virtual menyediakan virtual counseling. Fasilitas web cam pun akan membantu sebuah virtual discussion antar sesama murid maupun murid dengan guru.

Adapun fasilitas bagi mereka yang cacat. Belakangan telah dikembangakan metode e-Learning bagi penyandang tuna netra. Sebagaimana yang dilansir oleh Yayasan Mitra Netra online, bahwa saat ini telah ada teknologi speech syntheziser. Teknologi ini merubah tampilan visual yang ada di layar menjadi audio.

Dengan teknologi ini, seorang tunenetra dapat mengetik bahkan mengedit hasil ketikannya. Caranya dengan membaca kembali hasil ketikannya. Komputer dapat membaca perbaris, perkata, bahkan dieja. Komputer juga dapat membacakan format dari teks yang sudah diketik. Misalnya, dengan menekan tombol tertentu, komputer akan membaca, “Times New Roman, size 10, underline, line spacing 1,5”.

Teknologi seperti ini memang baru marak di negara-negara maju saja. Bahasa yang dugunakan pun adalah bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan lain-lain. Namun, bahasa Indonesia tidak digunakan dalam teknologi ini. Hal ini disebabkan bahasa Indonesia yang belum mendunia. Namun, sebagaimana halnya komputer, speech sythesizer pun pada akhirnya pasti akan merambah negara-negara berkembang untuk memudahkan e-Learning bagi tunanetra. Kita tentu harus bersiap akan datangnya masa itu.

E Learning dalam Tinjauan Psikoanalisis

Dalam proses belajar jarak jauh, yang lebih dikenal dengan e-Learning, dapat dikatakan sebagai metode yang tepat bagi anak dalam masa transisi maupun dewasa. Murid mendapatkan kebebasan waktu untuk mengasah kretivitasnya. juga mereka akan merasakan perasaan mendapat penerimaan. Dimana rasa diterima seperti ini sangat penting bagi perkembangan murid, baik secara psikologi maupun intelektualnya.

Dalam metode ini, seseorang tidak akan memepedulikan baju apa yang dipakai lawan bicaranya atau merek komputer apa yang dipakai lawan bicaranya. Komunikasi akan terjalin secara profesional. Hal ini dapat menghindarkan seorang murid dari rasa minder (wikipedia).

Menurut Ghafani bin Awang, dalam artikelnya, masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa merupakan hal penting. Di masa ini pulalah seorang anak mencari konsep tentang dirinya. Kebanyakan orang tua menghadapi anak-anaknya yang sedang dalam masa transisi dengan melepas mereka. Diharapkan mereka dapat belajar menentukan hidupnya tanpa bergantung pada orang tua. Karena pada masa ini, mereka tidak dianggap anak-anak pun tidak dianggap dewasa.

Menurut Corey (1986), ada beberapa teori penting yang menjelaskan tentang tabiat manusia. Salah satunya ialah teori transaksi. Dalam teori ini, seseorang hidup berdasarkan skrip. Semasa kecil ia merekam apa saja yang diberikan oleh orang tuanya dan skrip inilah yang mempengaruhi cara berpikir juga emosinya di masa datang.

Dengan e-Learning, keseimbangan akan ‘pencarian konsep diri’ dari si anak dan perhatian orang tua akan seimbang. Tidak perlu keluar rumah –minimal tujuh jam dalam empat hari- untuk mendapatkan ilmu secara formal. Murid akan lebih sering berada di rumahnya, maka orang tua pun akan mudah mengawasinya. Bahkan dapat pula bersama keluarga ‘menikmati’ materi pelajaran di ruang keluarga. Dengan begitu, orang tua dapat pula menyaksikan proses belajar anaknya dan tidak hanya ‘menagih’ hasil di akhir semester. Hal ini berpengaruh posistif bagi perkembangan psikologi anak ke depannya. Dimana saat ia akhirnya dikritk, ia mengerti mengapa ia mendapatkan kritikan itu, sebab ia tahu bahwa orang tuanya mengerti proses belajar yang berlangsung.

Selain itu, para orang tua mungkin bisa sedikit tenang karena anak-anaknya bisa terhindar dari pegaruh buruk di sekolah. Tidak akan ada murid yang mengalami tradisi ‘gencet’ saat MOS ataupun pada hari-hari sekolah biasa. Sebagaimana hal ini lumrah terjadi pada sekolah-sekolah di beberapa kota di Indonesia. Permasalahan picisan yang menyebabkan tawuran pun sedikit banyak dapat dihindari. Semua itu karena pla komunikasi jarak jauh akan menghindarkan siswa dari pengaruh negatif. Seseorang tentu akan lebih bisa menjaga sikapnya ketika berada dalam situasi formal, karena para siswa bertemu hanya pada saat virtual discussion.

Permasalahan sifat individualis yang tumbuh karena proses seperti ini juga menjadi salah satu perhatian. Banyak yang mengkhawatirkan teralienasinya seseorang dari kehidupan sosial yang sesungguhnya jika ia harus belajar dengan sistem e learning. Sifat pragmatis akan muncul karena ia hanya akan menghubungi seseorang jika itu menguntungkan. Hal-hal seperti itu memang menjadi perdebatan antar praktisi pendidikan.

Namun pada dasarnya justru dengan pengelolaan fasilitas elektronik yang proporsional kesadaran sosial justru akan tumbuh. Seperti kebanyakan orang lainnya, seorang murid dapat dengan mudah mengakses informasi yang berkaitan dengan lingkungannya. Tentu saja bukan hanya lingkungan di sekitarnya, melainkan juga lingkungan bangsa bahkan di negara lain. Informasi-informasi seperti ini dapat membiasakan murid untuk menganalisa apakah teori atau materi yang ia dapatkan dari gurunya dapat diaplikasikan di lingkungannya. Mengingat informasi, terutama berita, di internet biasanya sesuatu yang aktual, murid dapat menerima informasi terbaru tentang sesuatu kemudian merelasikannya dengan materi yang ia terima.

Dalam Pandangan Konstruktivis

Seorang murid dapat menampilkan beberapa bahan sekolah sekaligus. Dengan mudah ia tidak perlu ke perpustakaan atau terpaku dengan materi yang diberikan gurunya. Hal ini membentuk diskusi anatara guru dan murid, karena sumber materi yang beragam. Selain itu, pemahaman tentang materi juga menjadi lebih berkembang. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan hubungan yang terjadi kemudian bukan lagi sekedar mengajar dan diajar, lebih dari itu, mereka dapat berbagi karena si murid mendapat hal baru di dunia maya.

Tentu saja hal tersebut berbeda dengan apa yang selama ini terjadi di sekolah konvensional. Bahkan tidak jarang seorang murid harus berani menerima konsekuensi mendapat nilai jelek jika berani membantah teori pemberian sang guru. Dapat ditarik kesimpulan bahwa, yang terjadi pada umumnya di sekolah konvensional ialah, bukan membentuk pemahaman murid melainkan ‘mencekoki’ murid dengan pemahaman guru. Timbul sebuah pertanyaan kemudian, apakah kebanyakan guru di Indonesia dididik untuk pandai menghafal sehingga hal yang sama pulalah yang terjadi saat ia mengajar.

Murid menanyakan secara bebas tentang apa saja yang menarik baginya. Sebuah diskusi yang terbuka dapat terjadi, karena kedua belah pihak –guru dan murid- menyadari bahwa media yng mereka pakai dapat menghubungkan mereka kemanapun dengan mudah. Dengan begitu tidak ada kesulitan bagi guru maupun murid untuk membuka wawasan. Mengingat internet dapat menghubungkan siapapun saat itu juga (dalam keadaan normal tentu).

Tidak akan memuaskan tentunya tulisan sederhana ini. Banyak hal dapat digali dari metode belajar jarak jauh dengan menggunakan ruang maya. Sebuah dorongan kecil untuk perubahan iklim pendidikan Indonesia yang monoton, mungkin itulah tepatnya tujuan tulisan ini. Dengan mengadopsi cara baru yang ‘membebaskan’, diharapkan generasi mendatang adalah generasi dengan daya kreatifitas yang tinggi juga dengan pengalaman yang mumpuni.[]

Diterbitkan di majalah mahasiswa Tegalboto edisi 12

One thought on “Ruang Belajar Hologram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s