Simbol Tak Berjiwa*

Belum lagi jelas benang merah di langit, semua penduduk kampong berduyun-duyun ke surau. Samara-samar suara dzikir mereka terdengar sampai ke kamar losmen ini. Aku baru memulai pengembaraan ini, jadi baru dua kampung kudatangi. Berbeda dengan penduduk kampung sebelumnya yang suka maksiat, penduduk kampung ini kelihatannya gemar sekali beribadah. “Rajin-rajin orang di sini”, pikirku.     

Tepat setelah kudirikan dua rakaat shalat sunah, adzan berkumandang. “Allahu akbar! Allahu akbar”“Allahu akbar! Allahu akbar”, sahut jamaah. Begitu seterusnya, mereka bersahut-sahutan hingga adzan selesai. Sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Sedikit risih, jadi kuputuskan untuk menjawab adzan dalam hati.           

Tidak laki perempuannya, dari yang anak-anak sampai yang renta. Mereka semua tampak sabar menunggu penceramah. Tidak ada satupun jamaah yang beranjak dari tempatnya setelah shalat sunah Ba’diyah. Seketika suara gemerincing terdengar. Berani sekali perempuan memakai perhiasan yang banyak keluar rumah. Seorang laki-laki berpakaian serba emas naik ke podium. Ia mengangkat tangannya membari salam, lalu gemerincing itu terdengar lagi. Dandanan yang aneh untuk seorang Da’i. Bisa kupastikan gelang yang dipakainya menutupi separuh lengannya.            

Seluruh jamaah masih terdiam sumringah. Aku penasaran apakah Da’i ini sangat berpengaruh, sehingga semua orang begitu menantikan ceramahnya. Namun, tak satu kata pun keluar. Tak satu bunyi pun keluar. Hanya suara gemerincing gelangnya saat sesekali ia menggerakkan tangannya. Serta mulut komat-kamit. Sangat tidak lumrah, padahal penduduk di sini berbicara seperti orang-orang lain di luar sana. Tiba-tiba suara riuh terdengar. Semua jamaah bertepuk tangan dan mengelu-elukan sang penceramah. Seru sekali seperti menyambut kedatangan pahlawan di medan perang. “Saudaraku, maaf. Tapi apakah pantas beradab seperti ini di rumah Tuhan?” kataku menegur salah satu jamaah di sampingku. Dia tidak peduli, terus saja bertepuk tangan dan mengelu-elukan sang penceramah. Aku beranjak dari tempatku kemudian kembali ke losmen.           

Bukannya ingin menghindar dari orang-orang di kampung ini, aku harus mencari rumah seseorang di sebrang hutan. Seseorang yang kata Ayah mampu jadi guru yang baik untukku. Semua sudah kukemasi. Perbekalan untuk melanjutkan perjalanan pun sudah siap.            

Aku mengucapkan terima kasih pada salah satu pelayan yang membawakan barang-barangku menuruni tangga. “Assalammu’alaikum”, sapaku.“Waalaikumsalam. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?”, jawab si pemuilik losmen.“Ini biaya losmennya, dan ini tipnya”.Si pemilik hotel menerima uangku lalu mengucapkan terima kasih.           

Pemilik losmen yang baik. Seorang pelayan mengangkat barang-barangku ke atas kereta. “Terima kasih. Pelayanan kalian memuaskan.”“oh iya.” Kepalanya menunduk seolah perkataanku salah.“Ada apa? Kenapa Bapak kelihatan murung seperti itu?”“Aku memikirkan keluargaku. Semua kebutuhan naik harganya. Para penjual menuipu pembeli.” Ia melihat kanan kiri seolah hendak mengatakan sebuah rahasia. “Apa Bapak memberi uang tip juga pada pemilik losmen itu?”, aku mengangguk.“Dia salah satu orang kaya dan ternama di kampung ini begitu juga Pak penceramah. Tapi mereka tak pernah sedekah. Jangankan sedekah, menjenguk kami karyawannya yang sakit saja tidak pernah.”“Bukankah kalian suka beribadah? Aku lihat, kalian juga sering mendengar ceramah. Kalian pasti diajarkan banyak hal baik oleh penceramah.”“Kami tidak pernah mendengar suara penceramah itu. Sekalipun..”           

Roda kereta bergerak. Aku meninggalkan beberapa keping untuk pelayan tadi. Kasihan orang-orang disini. Suara sepatu kuda yang beradu dengan tanah berbatu menyadarkanku bahwa aku makin menjauhi kampung tadi. Tak kusangka, apa yang sebenarnya tidak seperti kelihatannya. Aku hanya bisa berdoa semoga para pembesar kampung itu diberi hidayah oleh Allah SWT.*Diterbitkan UKPKM Tegalboto dalam bulletin edisi lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s