Bising

Laron

Hujan

Lalat

Nyamuk

Atau sekedar teriakan mayat hidup kelaparan

Tidak ada yang seramai ini

Dalam redup pengelihatan manusia

Suara dalam nyanyian dan jeritan

Semua merayakan kesunyian

Menyentak, mengejek, merobek dalam jiwa yang sekarat

Kenapa bumi begini ramai

Kenapa aku begini ramai

Sabar

Akan ada saatnya semua diam

Advertisements

Perempuan Tidak Akan Bersaing

Dengan tulisan ini saya berharap makin banyak orang yang mau melihat dan sadar akan peran perempuan. Peran dalam konteks domestik dan juga publik.

Berbicara tentang peran perempuan dan semua seluk beluknya membutuhkan cara pandang yang jernih dan terlepas dari ideologi dan ajaran yang sudah kita kenal sejak kecil. Karena saya yakin, sebagai orang Indonesia, kebanyakan dari kita tumbuh dengan pola pikir bahwa walaupun wanita berpendidikan dan bekerja, mereka harus tetap sempat bangun lebih pagi untuk nge”babu” di rumah sendiri.

Bukannya saya berfikir berlebihan, tapi saya hanya ingin kita semua, laki-laki maupun perempuan, untuk memikirkan ulang apa yang sudah kita anggap lumrah. Saya berharap kita semua dapat berfikir mengapa kondisi kita seperti sekarang.

“Dandan sana di luar saingannya banyak”

Selain ungkapan di atas saya yakin kita pasti banyak mendengar celetukan senada. Seperti jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, dan ungkapan yang membangkitkan rasa bersaing di diri perempuan untuk menjadi yang tercantik, yang paling menonjol, yang paling diperhatikan oleh kaum Adam.

Saya yakin, bahwa ungkapan dan nasehat senada menyuruh perempuan bersaing satu sama lain masih terus dilontarkan oleh para orang tua hingga saat ini. Satu hal yang luput dari perhatian adalah ungkapan inilah yang nantinya akan lahir dalam diri anak perempuan mereka dalam bentuk perilaku.

Maka jangan heran jika saat ini kita melihat perempuan yang menjatuhkan satu sama lain karena urusan perhatian. Jangan pula heran jika kita masih menemukan ibu-ibu muda, atau yang tidak muda lagi, berlomba-lomba untuk mempercantik diri agar suami tidak jatuh ke pelukan perempuan lain. Adapun mereka yang sudah menikah masih menginginkan perhatian lebih dan menganggap teman perempuan lainnya adalah saingan.

Seolah-olah hidup dihabiskan untuk bersaing. Menanamkan pola pikir bahwa perempuan lainnya adalah saingan hanya akan menjauhkan anak-anak perempuan dari memikirkan hal-hal yang lebih penting. Seperti berkontribusi pada masyarakat, atau menolong orang-orang lainnya.

Jika ingin berfikir lebih rumit lagi, baiklah akan saya ungkapkan kecurigaan saya. Mengapa anak perempuan harus diburu sedemikian rupa hingga selalu tampil cantik dan “laku”. Bahkan tidak jarang perempuan diperingatkan untuk merendah dihadapan laki-laki. Seolah mereka tidak boleh lebih pintar, atau lebih maju karena itu bisa mengintimidasi laki-laki. Padahal perasaan terintimidasi oleh perempuan merupakan bentuk didikan dari lingkungan dan norma sosial.

Ya, seolah perempuan hanya boleh cerewet soal uang belanja dan anak-anaknya.

Satu pertanyaan simpel yang ingin saya lontarkan untuk kita semua,

“Mengapa angka perempuan berpendidikan di negara maju lebih banyak daripada di negara miskin?”

Represi terhadap perempuan, bahkan di negara merdeka macam Indonesia, harus terus dikuatkan, karena jika perempuan terdidik dan mapan maka anak-anak akan terdidik dengan baik dan memiliki pemikiran yang maju. Artinya, beberapa puluh tahun kemudian, para tiran dan mereka yang menginginkan kendali atas negara-negara berkembang dan miskin harus berhadapan dengan pemberontak yang menghendaki kemanusiaan dan kemerdekaan.

Ingatkah mengapa RA Kartini bertanya, kalau perempuan tidak terdidik bagaimana dia mendidik anaknya?

Kemajuan perempuan dalam pendidikan bahkan kehati-hatian perempuan dalam memiliki anak hingga mereka siap bukan karena perempuan ingin menjadi saingan laki-laki. Melainkan karena perempuan adalah sekolah pertama bagi setiap manusia. Lalu bagaimana perempuan mau mendidik anaknya kalau dia tidak terdidik, kalau dia belum siap mendidik?

Kemajuan perempuan dalam pendidikan bahkan kehati-hatian perempuan dalam memiliki anak hingga mereka siap bukan karena perempuan ingin menjadi saingan laki-laki. Melainkan karena perempuan adalah sekolah pertama bagi setiap manusia. Lalu bagaimana perempuan mau mendidik anaknya kalau dia tidak terdidik, kalau dia belum siap mendidik?

Lepaskan apa yang lah kita percayai selama ini, mulailah telaah satu per satu doktrin yang kita dengar selama ini. Sudah terlalu banyak korban karena norma bentukan entah siapa, kepercayaan buatan entah siapa, dan hal lain yang harus kita telan pemberian entah siapa.

Silakan permalukan perempuan yang berfikir dengan sebutan – sebutan jahat agar kami malu dan mundur teratur. Mungkin itu caranya supaya manusia bebal merajalela.

Perempuan dengan pemikiran yang baik tidak akan bersaing dengan sesama perempuan sekedar untuk perhatian, perempuan juga tidak akan bersaing dengan laki-laki untuk menjatuhkan mereka. Doktrin tentang perempuan yang menghendaki kesempatan publik yang lebih baik selama ini,  salah. Kami tidak di sini untuk menyebar kebencian dan persaingan tidak sehat, kami di sini karena kemanusiaan.

 

Ulasan: Mari Berbincang Bersama Platon (Lakhes)

Baru saja saya membaca ulang buku yang, menurut saya, mencerahkan. Kembali ke zaman sebelum tahun masehi dimulai. Sebuah percakapan yang diterjemahkan oleh ditafsir oleh A. Setyo Wibowo dan diterbitkan oleh iPublishing. Percakapan yang ditangkap Plato kali ini adalah antara Sokrates, Lakhes (yang juga digambarkan sebagai keberanian), Nikias (digambarkan sebagai ilmu pengetahuan), dengan Lysimakhos (seorang Ayah yang ingin menyekolahkan putranya).

Pada bagian awal buku kita akan diajak untuk melihat sosok Sokrates sekilas. Tentu saja Socrates merupakan seorang bijak yang disegani. Berbeda dengan muridnya, Plato, Socrates tidak menulis buku atau mengajar dalam sebuah sekolah resmi. Sedangkan Plato membuat konsep akademia yang dipakai hingga saat ini.

Namun demikian, sekolah-sekolah filsafat menganggap Sokrates adalah gurunya. Ia mengajar dengan cara berbicara secara langsung dengan murid-muridnya. Gaya hidup yang apa adanya dan berpegang teguh pada prinsip kebijaksanaan ini, membuat Socrates memiliki nama besar hingga saat ini, sekaligus juga membuat ia memilih untuk meminum racun di hadapan pengadilan.

Ada decak kagum pada sosok Socrates saat membaca riwayat singkatnya. Ada satu baris kata yang terngiang dalam pikiran saya setelah membaca buku ini:

Tak seorangpun berumur panjang jika ia harus selalu melawan suara terbanyak. Yang namanya suara terbanyak tidak memiliki prinsip, selalu berubah sesuai temperatur suhu politik,….

Agaknya kondisi inilah yang membuat Socrates tidak bisa menuliskan kata-kata dan pemikirannya. Karena dengan sikap kritisnya, dia bisa saja dihukum mati jauh sebelum tuduhan “penyesatan” dijatuhkan.

Socrates merupakan warga negara yang baik, ia ikut dalam peperangan juga menjadi anggota dewan di polisnya. Di sisi lain, Socrates merupakan sosok yang kritis, terutama dengan sistem demokrasi yang sudah digunakan Athena saat itu.

Kekritisannya akan demokrasi ini juga akan terlihat pada percakapannya dengan Lakhes, Nikias dan Lysimakhos. Sikapnya ini juga yang memberatkannya dengan tuduhan “penyesatan”. Pengadilan menganggap Socrates sebagai orang yang menyebarkan atheisme. Padahal, jika ditelusuri, Socrates juga turut serta dalam upacara-uparacara keagamaan. Bahkan dalam pledoinya, Socrates menyebutkan bahwa ia hanya melakukan apa yang dibisikan oleh daimonionnya (suara ilahi). Kesaksian tentang daimonion ini juga disampaikan di depan pengadilan.

Kehidupan dan kematian Socrates yang terkenal tentunya menyisakan pertanyaan, lalu apa sebenarnya motif dijatuhkan hukuman pada Socrates? Ada yang menganggap bahwa Socrates merupakan sosok berbahaya bagi penguasa polis. Ia kritis terhadap sistem demokrasi, dan pemikirannya ini disampaikan pada murid-muridnya. Adapun anggapan lain, bahwa hukuman bagi Socrates merupakan bentuk kekecawaan terhadap kaum pemikir Yunani saat itu. Merek dianggap tidak memberikan kontribusi bagi kemajuan polis.

Namun, mari kita abaikan sejenak tentang motif penangkapan dan pengadilan Socrates. Yang menarik adalah, pilihan Socrates untuk mati daripada diasingkan. Padahal melihat jasa-jasanya, bisa saja dia tidka dihukum mati, melainkan diasingkan. Tapi demi memegang kebenarannya, Socrates memilih meminum racun.

Jujur, memang bagi saya yang menarik dari buku ini adalah bagian awalnya, yaitu bagian pengantar tentang riwayat Socrates. Setelahnya, bagi yang ingin langsung membaca dialognya, silahkan melompati bagian yang menjabarkan perdebatan tentang siapa sebenarnya yang menulis dialog ini, atau di mana dialog ini berlangsung.

Isi dialog adalah Lysimakhos yang bertanya pada Lakhes dan Nikias tentang pendidikan apa yang cocok untuk putranya. Lakhes mengatakan bahwa sebaiknya seoarang anak laki-laki diajarkan tentang strategi perang. Nikias kemudain mengemukakan pendapatnya bahwa yang terpenting adalah ilmu pengetahuan.

Di tengah perdebatan ini, akhirnya Lakhes dan Nikias meminta Lysimakhos untuk bertanya pada Socrates. Alih-alih memberi jawaban apa yang harus dipilih, Socrates menanggapi dengan pertanyaan pada Lysimakhos. “Apa tujuannya belajar?” Pertanyaan ini sebagai pijakan awal untuk memilih. Socrates menganggap bahwa saran atau pendapat terbanyak belum tenteu yang terbaik. Seseorang harus mencari seorang bijak atau seorang ahli untuk ditanyakan pendapat.

Satu hal lagi yang menarik dari gaya Socrates menengahi perdebatan antara Lakhes dan Nikias mengenai keberanian dan kebijaksanaan adalah ia lebih sering mengutarakan pertanyaan daripada menyimpulkan. Socrates ingin Nikias dan Lakhes menjelaskan sendiri maksudnya, walaupun sebenarnya Socrates memahami apa yang dimaksud oleh kedua temannya itu. Metode ini memancing jawaban sebenarnya dari kedua lawan bicara Socrates. Sikap Socrates ini menunjukkan karakternya sebagai seorang yang selalu memposisikan dirinya pada posisi “tidak tahu”. Hingga akhirnya peserta diskusi lain mendapatkan jawaban dan solusi dengan sendirinya.

Buku ini tidak hanya ditulis untuk sekedar mengetahui riwayat dan dialog Lakhes ini. Lebih dari itu, pemikiran dan sosok Socrates sebagai guru besar filsafat dihidupkan kembali untuk membentuk ulang pikiran kita mengenai hal-hal “lazim” yang terjadi dan ada di sekitar kita. [3/5/2017]

Sumber gambar dari bukalapak.com

 

 

 

 

Kembali

Aku mencari sudut tergelap.

Tempat dahulu aku pernah tumbuh di sana

Biasanya aku akan berada di sana dalam sekejap

Biasanya

Biasanya tempat itu selalu ada, bahkan di saat aku tidak membutuhkannya

Sekarang

Sekarang waktunya pulang

Aku tidak lagi berada di tempat yang gelap

Dan aku  merindukannya

Mirror

What’s behind?
“If you have a goal, then you can go beyond that goal” Sean Lew
“I don’t have plan B” Ed Sheeran
I stumbled, pick it up
Fall again
Keep it up
Drained
Dried out
Will it go far… how far?
I started to pick a figure
Is it even there
Did I pull it near
Did I push it far
How far
The reflection through broke glass
I am not shattered
Never
Shhh yourself
See behind your mirror
Who is watching

Sang Fotografer: Cerita Apik di Ujung Lensa

Sang Fotografer

Judul: Sang Fotografer
Penyusun : Didier Lefèvre, Emmanuel Guibert, Frederic Lemercier
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi Indonesia, Tahun 2011

Sang Fotografer merupakan novel grafis yang memukau bagi saya. Dari segi grafisnya, ilustrasi dan foto, hingga alur ceritanya menghibur sekaligus menyentuh. Sudut pandang Didier, sang fotografer yang ditugaskan di Afganistan saat itu, memberikan wawasan yang berbeda mengenai kehidupan di daerah konflik. Sumbangsih kreatif dari Emmanuel Guibert dan Frederic Lemercier dalam menyusun novel grafis ini tidak dapat pula dinafikkan. Mereka melengkapi buku ini dengan ilustrasi dan tata letak yang apik.

Pada dasarnya novel ini menceritakan petualangan Didier Lefèvre di Afganistan. Didier ditugaskan ke daerah konflik tersebut untuk mengabadikan kegiatan sebuah organisasi kemanusiaan, MSF (Médecins Sans Frontières). Mereka datang dengan misi membantu pelayanan kesehatan di daerah-daerah kecil di Afganistan. Tentu saja buku ini mengabadikan perjalanan mereka dan kisah heroik para aktivis kemanusiaan saat mengobati korban perang dengan fasilitas seadanya.

Adapun yang paling seru adalah bagian saat Didier memutuskan untuk pulang sendiri tanpa didampingi teman-teman aktivis lainnya. Hingga pada satu titik, ia merasa dirinya akan mati sendirian di tengah bebatuan Afganistan. Mungkin inilah yang sering dimaksud oleh teman-teman saya yang doyan berpetualang, “kalo kamu melakukan perjalanan jauh dengan orang lain, karakter asli kalian akan muncul dengan sendirinya”. Didier sendiri kembali dari Afganistan dengan gigi yang berkurang 14 butir karena malnutrisi.

Saat membaca buku ini, emosi saya berganti dalam bilangan detik. Sesekali saya menjadi serius, sesekali trenyuh, dan seringkali tersenyum geli dengan lelucon yang ada dalam cerita. Bagi saya, yang unik dari buku ini adalah sudut pandang utama yang berasal dari seseorang yang baru pertama kali menjelajahi area konflik di Afganistan. Dia belajar bagaimana untuk bisa sampai dengan selamat. Tidak hanya peluru yang menjadi ancaman, kondisi ekonomi yang sulit pun menciptakan banyak kelompok bersenjata yang mencari uang dari para petualang asing.

Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, sudut pandang cerita yang berasal dari orang yang awam mengenai medan perang di Afganistan menjadikan saya memiliki kedekatan dengan tokoh Didier. Sebagai seorang yang pernah tinggal di daerah konflik, Merauke Papua, saya merasakan menjadi seorang sipil yang hanya bisa mengungsi ketika pecah kerusuhan. Namun, pemberitaan yang tidak imbang, desas desus yang kami dengar, justru itu yang membuat suasana jadi mencekam. Memang daerah konflik adalah daerah yang rawan, namun kehidupan tetap ada. Cara bertutur dalam novel grafis ini memberikan pandangan menyeluruh tentang daerah konflik. Dimana ada cerita tentang korban perangnya dan tetap ada cerita tentang kehidupan yang terus berjalan di sana.

Saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja. Ya, benar-benar bagi siapa saja. Karena cerita dari buku ini ringan, tidak mengandung SARA, serta tidak membosankan. Lebih dari itu, buku ini membuka pandangan saya mengenai dunia para relawan.

Ulasan Singkat: Mimpi Kala Senja dan The Ocean at The End of The Lane

Senangnya saya bisa menulis lagi setelah sekian lama mengalami disorientasi dan harus mengingatkan diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang produktif. Lebih senang lagi karena akhirnya ulasan mengenai buku-buku yang saya baca akhirnya sempat dikerjakan juga.

Saya akan menguraikan tiap buku denngan cerita yang mengantarkan saya pada buku-buku tersebut. Tanpa pembukaan yang lebih panjang lagi, saya akan mulai dari buku milik kawan sekantor saya, Mimpi Kala Senja.

1. Mimpi Kala Senja (Fifi Rizky dan Andi Yasin)
wpid-fb_img_1441249965041.jpg

Saya yakin nama Fifi Rizky dan Andi Yasin belum banyak terdengar di dunia kesusastraan Indonesia. Novel ini adalah buku pertama mereka yang mereka cetak secara independen. Walaupun, tetap dijual kepada masyarakat luas. Buku ini saya dapatkan gratis karena salah satu penulisnya, mbak Fifi, memberikan versi yang belum direvisi. Beruntung sekali bukan? Mengenai apa yang ingin saya sampaikan tentang buku ini, terus terang tidak terlalu banyak. Namun demikian, saya tetap mencoba untuk memberi pandangan dari beberapa sisi.

Kalau boleh jujur, saya adalah penganut istilah “jangan menilai buku dari sampulnya” karena saya penganut istilah “nilailah buku dari bab pertamanya”. Saat saya membaca buku fiksi, terutama novel, saya selalu menilai apakah cerita selanjutnya akan menarik atau tidak dari prolog dan bab pertama. Saat membaca Mimpi Kala Senja, jujur, saya berhenti pada bab pertamanya. Hal ini dikarenakan saya karakter pemeran utamanya yang bisa ditebak dari bab pertama, dan si pemeran utamanya berkarakter ‘cowok keren pemberontak ala ftv’. Saking tidak bisa merelasikan si pemeran utama dengan kehidupan yang saya hadapi sehari-hari, terus terang saya lupa siapa nama anak muda itu. Yah, terakhir kali membaca Rahasia Meede karya E.S. Ito adalah tahun 2009, dan saya masih ingat dengan Batu dan Kalek, pemeran kunci dalam novel tersebut. Sama-sama menampilkan ‘cowok keren pemberontak’, hanya saja pada tokoh Batu dan Kalek saya melihat sisi manusiawi yang saya temukan dalam diri saya dan orang lain sehari-hari. Mulai dari keras kepala, hingga kepatuhan Batu pada perintah atasan yang mencelakakan diri dan bangsanya.

Pun dialog antara si pemeran utama pria dengan kekasihnya tidak natural. Saya pun menyebut bab pertama ini sebagai ‘anti klimaks’. Mungkin karena saya sudah belasan tahun meninggalkan bangku SMA, sehingga tidak ‘nyambung’ lagi jika disuruh menengok kehidupan anak ABG. Oh ya, pemeran utama dalam novel ini adalah seorang anak lelaki yang masih duduk di bangku SMA.

Bagi yang baru memulai membaca novel, atau mereka yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah mungkin bisa membangun hubungan yang harmonis dengan buku ini. Mengingat latar psikologis dari buku ini adalah karakter remaja yang masih menghuni sekolah menengah.

2. The Ocean at The End of The Lane (Neil Gaiman)
wpid-img_20150903_185021.jpg

Buku yang satu ini merupakan salah satu genre kesukaan saya. Fantasi, dimana cacing bisa menjadi wanita cantik dan penyihir adalah sekumpulan wanita baik yang menghuni peternakan. Imajinasi yang liar akan dimanjakan dengan latar dan cerita dari buku ini.

Walaupun saya sangat menyukai ide cerita, jalan cerita, dan latar belakang dari novel ini, namun memang ada beberapa detil cerita yang saya kritisi. Contohnya penyelesaian cerita yang terasa prematur, atau biasa. Kemunculan si nenek penyihir secara tiba-tiba untuk menyelamatkan pemeran utama terasa klise. Namun demikian, 80% dari buku ini dapat dirangkum dalam kata “seru!!”.

Bagi yang menyukai cerita-cerita fantasi yang jauh dari manisnya dunia Disney, buku ini dapat menjadi pilihan yang tepat. Jika Anda menyukai Stardust, juga karya Neil Gaiman, Little Prince, atau cerita petualangan dengan sedikit keajaiban, kemungkinan besar Andapun akan menyukai buku ini.

3. Aristotle and Dante Discover The secret of Universe ( Benjamin Alire Sáenz)
wpid-screenshot_2015-10-17-22-13-13.png
Selain kedua buku yang saya ulas secara singkat di atas, saya pun sudah menyelesaikan “Aristotle and Dante Discover The secret of Universe” yang juga harus saya ulas karena dibanding buku lain yang saya baca di dua bulan terakhir, buku ini adalah yang paling saya sukai. Dimana tokoh Soledat, yang bukan tokoh utama, menjadi karakter kesukaan saya karena, menurut saya, karakternya nyata. Walaupun bercerita tentang kisah cinta sesama jenis, buku ini tetap ‘bersahabat’ bagi mereka yang baru mengenal istilah ‘hubungan sesama jenis’. Bahkan, cerita dalam buku ini pun mampu memberi sudut pandang yang lebih jelas mengenai hubungan percintaan antara dua orang dengan jenis kelamin yang sama.

Buku lain yang saya baca adalah trilogi The Girl in The Box. Sebuah cerita tentang para mutan atau manusia super. Namun, saya tidak akan mengulas banyak tentang Sienna dan teman-temannya, karena memang buku ini tidak membuat saya ingin bercerita banyak. Dari tiga seri buku, buku kedualah yang paling saya sukai. Tetap tidak ingin bercerita banyak. Bahkan jika Anda menyukai fiksi ilmiah, saya tidak yakin Anda menganggap buku ini seseru kisah X Men.