Apakah Dengan Menjadi Tren Menunjukkan Perkembangan Buddha?

Semalam saya kembali berkumpul dengan komunitas Buddhis di kawasan Jakarta Barat. Puja Bakti semalam, Sang Bhikku yang mengisi acara mengingatkan kembali pada kami tentang jalan kemuliaan. Materi dasar ketika Anda ingin mempelajari Dhama.

Namun yang menarik bagi saya adalah fenomena Buddha sebagai tren yang diangkat oleh guru kami saat itu. Jadi saat dia berkunjung ke Bali, dia melihat di sana ada banyak pengrajin patung Buddha juga berbagai lukisan Buddha yang dipajang di mana-mana. Bahkan Buddha dijadikan tato oleh beberapa orang. Tidak ketinggalan perhiasan dengan motif Buddha dapat ditemui di mana-mana.

Ini di Bali, di Thailand, simbol dan gambar Buddha lebih banyak lagi ditemukan. Bahkan di seluruh dunia, gambar Buddha merupakan pelengkap fashion yang bisa ditemukan sebagai motif di kaos, jaket, atau kemeja.

Lalu guru kami bertanya, apakah Buddha mengalami penurunan nilai? Dimana Buddha bukan dilihat sebagai simbol guru yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang, tapi sekedar sebagai tren. Buddha menjadi grafis eksotis yang kehilangan makna dan gagal mengingatkan massanya akan kehidupan yang bebas dari kemelekatan.

Hal ini tentu membuat kami semua mengalami momen “oh iya ya” untuk memahami fenomena yang ada sekarang. Niat awal yang bertujuan memberikan pengetahuan dan nilai yang mendalam untuk kehidupan manusia, di tangan beberapa orang menjadi sekedar karya seni, tren, bahkan mungkin subkultur.

Lalu apakah dalam fenomena ini Buddha sendiri? Tidak juga. Soekarno, Gandhi, Che Guevara, bahkan Hitler tercetak di mana-mana untuk melengkapi tren. Kalau mau dibilang ironi, saya rasa ada benarnya juga. Ketika melihat seseorang memakai baju Che Guevara tapi menolak untuk memberikan kursinya pada lansia di angkutan umum. Juga ironi melihat mereka yang memiliki tato Buddha namun menolak berdana untuk kebaikan.

Di sisi lain apakah orang-orang dalam tren ini disebut salah? Tidak juga. Tokoh-tokoh ini memiliki citra yang melekat dan sebagai konsumen, si pembeli karya seni pasti juga menginginkan citra ini setidaknya sedikit melekat pada dirinya.

Misalnya, Buddha diasosiasikan dengan citra cinta damai, lalu Soekarno diasosiasikan dengan revolusioner, lalu Hitler dengan kekejaman, dimana dalam tren ini citra Hitler sedikit berbelok menjadi sekedar galak dan semaunya sendiri. Si pemakai kaos tentunya tahu bahwa orang yang melihat mereka secara otomatis mengaitkan citra dari gambar yang tercetak di bajunya dengan diri si pemakai.

Fenomena ini pasti terjadi dan wajar terjadi. Bahkan guru saya pun mengamini. Bahwa tidak ada yang bisa memaksa si pemakai baju dengan gambar Buddha untuk berhenti mencuri sebelum menggunakan bajunya. Juga tidak ada yang bisa memaksa pemilik foto Bunda Theresa untuk rajin menolong orang sebelum memajang fotonya.

Bagaimanapun mereka tokoh, termasuk Buddha. Buddha tidak selalu memiliki pengikut, terkadang diantara orang yang mengaguminya hanyalah penggemar. Mereka menyukai citranya, gambarnya, dan bukan inti ajarannya.

Sebagai seorang beragama Buddha, saya sendiri tidak bisa mengatakan bahwa saya umat Buddha yang baik. Tidak ada yang bisa menjustifikasi hal ini. Dan saya sadar betul bahwa di kehidupan saya, saya akan bertemu dengan lebih banyak penggemar dari Guru saya ini daripada pengikutnya.

Tapi sekali lagi, apa yang bisa kami lakukan dengan dinamika manusia ini. Hanya ungkapan “tidak apa-apa”.  (dyah : Jakarta, 26 Okt. 17)

Advertisements

Bising

Laron

Hujan

Lalat

Nyamuk

Atau sekedar teriakan mayat hidup kelaparan

Tidak ada yang seramai ini

Dalam redup pengelihatan manusia

Suara dalam nyanyian dan jeritan

Semua merayakan kesunyian

Menyentak, mengejek, merobek dalam jiwa yang sekarat

Kenapa bumi begini ramai

Kenapa aku begini ramai

Sabar

Akan ada saatnya semua diam

Perempuan Tidak Akan Bersaing

Dengan tulisan ini saya berharap makin banyak orang yang mau melihat dan sadar akan peran perempuan. Peran dalam konteks domestik dan juga publik.

Berbicara tentang peran perempuan dan semua seluk beluknya membutuhkan cara pandang yang jernih dan terlepas dari ideologi dan ajaran yang sudah kita kenal sejak kecil. Karena saya yakin, sebagai orang Indonesia, kebanyakan dari kita tumbuh dengan pola pikir bahwa walaupun wanita berpendidikan dan bekerja, mereka harus tetap sempat bangun lebih pagi untuk nge”babu” di rumah sendiri.

Bukannya saya berfikir berlebihan, tapi saya hanya ingin kita semua, laki-laki maupun perempuan, untuk memikirkan ulang apa yang sudah kita anggap lumrah. Saya berharap kita semua dapat berfikir mengapa kondisi kita seperti sekarang.

“Dandan sana di luar saingannya banyak”

Selain ungkapan di atas saya yakin kita pasti banyak mendengar celetukan senada. Seperti jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, dan ungkapan yang membangkitkan rasa bersaing di diri perempuan untuk menjadi yang tercantik, yang paling menonjol, yang paling diperhatikan oleh kaum Adam.

Saya yakin, bahwa ungkapan dan nasehat senada menyuruh perempuan bersaing satu sama lain masih terus dilontarkan oleh para orang tua hingga saat ini. Satu hal yang luput dari perhatian adalah ungkapan inilah yang nantinya akan lahir dalam diri anak perempuan mereka dalam bentuk perilaku.

Maka jangan heran jika saat ini kita melihat perempuan yang menjatuhkan satu sama lain karena urusan perhatian. Jangan pula heran jika kita masih menemukan ibu-ibu muda, atau yang tidak muda lagi, berlomba-lomba untuk mempercantik diri agar suami tidak jatuh ke pelukan perempuan lain. Adapun mereka yang sudah menikah masih menginginkan perhatian lebih dan menganggap teman perempuan lainnya adalah saingan.

Seolah-olah hidup dihabiskan untuk bersaing. Menanamkan pola pikir bahwa perempuan lainnya adalah saingan hanya akan menjauhkan anak-anak perempuan dari memikirkan hal-hal yang lebih penting. Seperti berkontribusi pada masyarakat, atau menolong orang-orang lainnya.

Jika ingin berfikir lebih rumit lagi, baiklah akan saya ungkapkan kecurigaan saya. Mengapa anak perempuan harus diburu sedemikian rupa hingga selalu tampil cantik dan “laku”. Bahkan tidak jarang perempuan diperingatkan untuk merendah dihadapan laki-laki. Seolah mereka tidak boleh lebih pintar, atau lebih maju karena itu bisa mengintimidasi laki-laki. Padahal perasaan terintimidasi oleh perempuan merupakan bentuk didikan dari lingkungan dan norma sosial.

Ya, seolah perempuan hanya boleh cerewet soal uang belanja dan anak-anaknya.

Satu pertanyaan simpel yang ingin saya lontarkan untuk kita semua,

“Mengapa angka perempuan berpendidikan di negara maju lebih banyak daripada di negara miskin?”

Represi terhadap perempuan, bahkan di negara merdeka macam Indonesia, harus terus dikuatkan, karena jika perempuan terdidik dan mapan maka anak-anak akan terdidik dengan baik dan memiliki pemikiran yang maju. Artinya, beberapa puluh tahun kemudian, para tiran dan mereka yang menginginkan kendali atas negara-negara berkembang dan miskin harus berhadapan dengan pemberontak yang menghendaki kemanusiaan dan kemerdekaan.

Ingatkah mengapa RA Kartini bertanya, kalau perempuan tidak terdidik bagaimana dia mendidik anaknya?

Kemajuan perempuan dalam pendidikan bahkan kehati-hatian perempuan dalam memiliki anak hingga mereka siap bukan karena perempuan ingin menjadi saingan laki-laki. Melainkan karena perempuan adalah sekolah pertama bagi setiap manusia. Lalu bagaimana perempuan mau mendidik anaknya kalau dia tidak terdidik, kalau dia belum siap mendidik?

Kemajuan perempuan dalam pendidikan bahkan kehati-hatian perempuan dalam memiliki anak hingga mereka siap bukan karena perempuan ingin menjadi saingan laki-laki. Melainkan karena perempuan adalah sekolah pertama bagi setiap manusia. Lalu bagaimana perempuan mau mendidik anaknya kalau dia tidak terdidik, kalau dia belum siap mendidik?

Lepaskan apa yang lah kita percayai selama ini, mulailah telaah satu per satu doktrin yang kita dengar selama ini. Sudah terlalu banyak korban karena norma bentukan entah siapa, kepercayaan buatan entah siapa, dan hal lain yang harus kita telan pemberian entah siapa.

Silakan permalukan perempuan yang berfikir dengan sebutan – sebutan jahat agar kami malu dan mundur teratur. Mungkin itu caranya supaya manusia bebal merajalela.

Perempuan dengan pemikiran yang baik tidak akan bersaing dengan sesama perempuan sekedar untuk perhatian, perempuan juga tidak akan bersaing dengan laki-laki untuk menjatuhkan mereka. Doktrin tentang perempuan yang menghendaki kesempatan publik yang lebih baik selama ini,  salah. Kami tidak di sini untuk menyebar kebencian dan persaingan tidak sehat, kami di sini karena kemanusiaan.

 

Ulasan: Mari Berbincang Bersama Platon (Lakhes)

Baru saja saya membaca ulang buku yang, menurut saya, mencerahkan. Kembali ke zaman sebelum tahun masehi dimulai. Sebuah percakapan yang diterjemahkan oleh ditafsir oleh A. Setyo Wibowo dan diterbitkan oleh iPublishing. Percakapan yang ditangkap Plato kali ini adalah antara Sokrates, Lakhes (yang juga digambarkan sebagai keberanian), Nikias (digambarkan sebagai ilmu pengetahuan), dengan Lysimakhos (seorang Ayah yang ingin menyekolahkan putranya).

Pada bagian awal buku kita akan diajak untuk melihat sosok Sokrates sekilas. Tentu saja Socrates merupakan seorang bijak yang disegani. Berbeda dengan muridnya, Plato, Socrates tidak menulis buku atau mengajar dalam sebuah sekolah resmi. Sedangkan Plato membuat konsep akademia yang dipakai hingga saat ini.

Namun demikian, sekolah-sekolah filsafat menganggap Sokrates adalah gurunya. Ia mengajar dengan cara berbicara secara langsung dengan murid-muridnya. Gaya hidup yang apa adanya dan berpegang teguh pada prinsip kebijaksanaan ini, membuat Socrates memiliki nama besar hingga saat ini, sekaligus juga membuat ia memilih untuk meminum racun di hadapan pengadilan.

Ada decak kagum pada sosok Socrates saat membaca riwayat singkatnya. Ada satu baris kata yang terngiang dalam pikiran saya setelah membaca buku ini:

Tak seorangpun berumur panjang jika ia harus selalu melawan suara terbanyak. Yang namanya suara terbanyak tidak memiliki prinsip, selalu berubah sesuai temperatur suhu politik,….

Agaknya kondisi inilah yang membuat Socrates tidak bisa menuliskan kata-kata dan pemikirannya. Karena dengan sikap kritisnya, dia bisa saja dihukum mati jauh sebelum tuduhan “penyesatan” dijatuhkan.

Socrates merupakan warga negara yang baik, ia ikut dalam peperangan juga menjadi anggota dewan di polisnya. Di sisi lain, Socrates merupakan sosok yang kritis, terutama dengan sistem demokrasi yang sudah digunakan Athena saat itu.

Kekritisannya akan demokrasi ini juga akan terlihat pada percakapannya dengan Lakhes, Nikias dan Lysimakhos. Sikapnya ini juga yang memberatkannya dengan tuduhan “penyesatan”. Pengadilan menganggap Socrates sebagai orang yang menyebarkan atheisme. Padahal, jika ditelusuri, Socrates juga turut serta dalam upacara-uparacara keagamaan. Bahkan dalam pledoinya, Socrates menyebutkan bahwa ia hanya melakukan apa yang dibisikan oleh daimonionnya (suara ilahi). Kesaksian tentang daimonion ini juga disampaikan di depan pengadilan.

Kehidupan dan kematian Socrates yang terkenal tentunya menyisakan pertanyaan, lalu apa sebenarnya motif dijatuhkan hukuman pada Socrates? Ada yang menganggap bahwa Socrates merupakan sosok berbahaya bagi penguasa polis. Ia kritis terhadap sistem demokrasi, dan pemikirannya ini disampaikan pada murid-muridnya. Adapun anggapan lain, bahwa hukuman bagi Socrates merupakan bentuk kekecawaan terhadap kaum pemikir Yunani saat itu. Merek dianggap tidak memberikan kontribusi bagi kemajuan polis.

Namun, mari kita abaikan sejenak tentang motif penangkapan dan pengadilan Socrates. Yang menarik adalah, pilihan Socrates untuk mati daripada diasingkan. Padahal melihat jasa-jasanya, bisa saja dia tidka dihukum mati, melainkan diasingkan. Tapi demi memegang kebenarannya, Socrates memilih meminum racun.

Jujur, memang bagi saya yang menarik dari buku ini adalah bagian awalnya, yaitu bagian pengantar tentang riwayat Socrates. Setelahnya, bagi yang ingin langsung membaca dialognya, silahkan melompati bagian yang menjabarkan perdebatan tentang siapa sebenarnya yang menulis dialog ini, atau di mana dialog ini berlangsung.

Isi dialog adalah Lysimakhos yang bertanya pada Lakhes dan Nikias tentang pendidikan apa yang cocok untuk putranya. Lakhes mengatakan bahwa sebaiknya seoarang anak laki-laki diajarkan tentang strategi perang. Nikias kemudain mengemukakan pendapatnya bahwa yang terpenting adalah ilmu pengetahuan.

Di tengah perdebatan ini, akhirnya Lakhes dan Nikias meminta Lysimakhos untuk bertanya pada Socrates. Alih-alih memberi jawaban apa yang harus dipilih, Socrates menanggapi dengan pertanyaan pada Lysimakhos. “Apa tujuannya belajar?” Pertanyaan ini sebagai pijakan awal untuk memilih. Socrates menganggap bahwa saran atau pendapat terbanyak belum tenteu yang terbaik. Seseorang harus mencari seorang bijak atau seorang ahli untuk ditanyakan pendapat.

Satu hal lagi yang menarik dari gaya Socrates menengahi perdebatan antara Lakhes dan Nikias mengenai keberanian dan kebijaksanaan adalah ia lebih sering mengutarakan pertanyaan daripada menyimpulkan. Socrates ingin Nikias dan Lakhes menjelaskan sendiri maksudnya, walaupun sebenarnya Socrates memahami apa yang dimaksud oleh kedua temannya itu. Metode ini memancing jawaban sebenarnya dari kedua lawan bicara Socrates. Sikap Socrates ini menunjukkan karakternya sebagai seorang yang selalu memposisikan dirinya pada posisi “tidak tahu”. Hingga akhirnya peserta diskusi lain mendapatkan jawaban dan solusi dengan sendirinya.

Buku ini tidak hanya ditulis untuk sekedar mengetahui riwayat dan dialog Lakhes ini. Lebih dari itu, pemikiran dan sosok Socrates sebagai guru besar filsafat dihidupkan kembali untuk membentuk ulang pikiran kita mengenai hal-hal “lazim” yang terjadi dan ada di sekitar kita. [3/5/2017]

Sumber gambar dari bukalapak.com

 

 

 

 

Kembali

Aku mencari sudut tergelap.

Tempat dahulu aku pernah tumbuh di sana

Biasanya aku akan berada di sana dalam sekejap

Biasanya

Biasanya tempat itu selalu ada, bahkan di saat aku tidak membutuhkannya

Sekarang

Sekarang waktunya pulang

Aku tidak lagi berada di tempat yang gelap

Dan aku  merindukannya

Mirror

What’s behind?
“If you have a goal, then you can go beyond that goal” Sean Lew
“I don’t have plan B” Ed Sheeran
I stumbled, pick it up
Fall again
Keep it up
Drained
Dried out
Will it go far… how far?
I started to pick a figure
Is it even there
Did I pull it near
Did I push it far
How far
The reflection through broke glass
I am not shattered
Never
Shhh yourself
See behind your mirror
Who is watching

Sang Fotografer: Cerita Apik di Ujung Lensa

Sang Fotografer

Judul: Sang Fotografer
Penyusun : Didier Lefèvre, Emmanuel Guibert, Frederic Lemercier
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi Indonesia, Tahun 2011

Sang Fotografer merupakan novel grafis yang memukau bagi saya. Dari segi grafisnya, ilustrasi dan foto, hingga alur ceritanya menghibur sekaligus menyentuh. Sudut pandang Didier, sang fotografer yang ditugaskan di Afganistan saat itu, memberikan wawasan yang berbeda mengenai kehidupan di daerah konflik. Sumbangsih kreatif dari Emmanuel Guibert dan Frederic Lemercier dalam menyusun novel grafis ini tidak dapat pula dinafikkan. Mereka melengkapi buku ini dengan ilustrasi dan tata letak yang apik.

Pada dasarnya novel ini menceritakan petualangan Didier Lefèvre di Afganistan. Didier ditugaskan ke daerah konflik tersebut untuk mengabadikan kegiatan sebuah organisasi kemanusiaan, MSF (Médecins Sans Frontières). Mereka datang dengan misi membantu pelayanan kesehatan di daerah-daerah kecil di Afganistan. Tentu saja buku ini mengabadikan perjalanan mereka dan kisah heroik para aktivis kemanusiaan saat mengobati korban perang dengan fasilitas seadanya.

Adapun yang paling seru adalah bagian saat Didier memutuskan untuk pulang sendiri tanpa didampingi teman-teman aktivis lainnya. Hingga pada satu titik, ia merasa dirinya akan mati sendirian di tengah bebatuan Afganistan. Mungkin inilah yang sering dimaksud oleh teman-teman saya yang doyan berpetualang, “kalo kamu melakukan perjalanan jauh dengan orang lain, karakter asli kalian akan muncul dengan sendirinya”. Didier sendiri kembali dari Afganistan dengan gigi yang berkurang 14 butir karena malnutrisi.

Saat membaca buku ini, emosi saya berganti dalam bilangan detik. Sesekali saya menjadi serius, sesekali trenyuh, dan seringkali tersenyum geli dengan lelucon yang ada dalam cerita. Bagi saya, yang unik dari buku ini adalah sudut pandang utama yang berasal dari seseorang yang baru pertama kali menjelajahi area konflik di Afganistan. Dia belajar bagaimana untuk bisa sampai dengan selamat. Tidak hanya peluru yang menjadi ancaman, kondisi ekonomi yang sulit pun menciptakan banyak kelompok bersenjata yang mencari uang dari para petualang asing.

Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, sudut pandang cerita yang berasal dari orang yang awam mengenai medan perang di Afganistan menjadikan saya memiliki kedekatan dengan tokoh Didier. Sebagai seorang yang pernah tinggal di daerah konflik, Merauke Papua, saya merasakan menjadi seorang sipil yang hanya bisa mengungsi ketika pecah kerusuhan. Namun, pemberitaan yang tidak imbang, desas desus yang kami dengar, justru itu yang membuat suasana jadi mencekam. Memang daerah konflik adalah daerah yang rawan, namun kehidupan tetap ada. Cara bertutur dalam novel grafis ini memberikan pandangan menyeluruh tentang daerah konflik. Dimana ada cerita tentang korban perangnya dan tetap ada cerita tentang kehidupan yang terus berjalan di sana.

Saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja. Ya, benar-benar bagi siapa saja. Karena cerita dari buku ini ringan, tidak mengandung SARA, serta tidak membosankan. Lebih dari itu, buku ini membuka pandangan saya mengenai dunia para relawan.