Saya Hanya Melihat Mereka dan Saya Diasuh

 

Apa yang saya tulis memang hanya percikan-percikan ide yang datang tidak terduga. Muncul saat saya sedang nonton apa saja yang bisa ditonton, atau mendengar apa saja. Karena itu, jangan dianggap serius. Saya tidak akan menghiraukan kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar.

 

Saat liburan Ramadha dan Lebaran, saya dikunjungi oleh Ayah saya. Jangan ditanya, saya sangat senang. Beliau data jauh-jauh dari Papua untuk melihat anaknya ini. Kalau diingat-ingat, saya memang dekat dengan beliau namun ada dendam yang juga masih tersimpan. Selama bertahun-tahun saya menulis buku harian sebagai langkah terapi psikologis. Dan ‘Alhamdulillah’ sudah mulai terlihat perkembangan positif dalam diri saya. Baiklah, akan saya ceritakan sesuatu yang membuat semua anak butuh konseling, walaupun itu bentuknya adalah self healing, seperti yang saya lakukan dengan menulis.

 

Ruang lingkup yang akan saya ambil sebagai contoh adalah tipikal keluarga Indonesia, karena saya memang tidak pernah ke luar negeri kecuali untuk pipis di belakang tugu perbatasan Indonesia – PNG di Merauke, Papua.

Feodal

Saya bukan tipe orang yang akan menghormati orang lain hanya karena dia lebih tua, atau karena orang itu dituakan. Hal itu tentu saja dianggap kasar. Keharusan menghormati orang yang lebih tua memang merupakan hal yang baik, tapi menghormati bukan berarti menyembah. Pelajaran turun temurun yang didapat oleh para orang tua kita saat mereka masih kanak-kanak adalah ‘jadilah orang tua dan lahirkan para pemuja’.

Pelajaran itu pun dibawa, makanya jangan salahkan kalau banyak anak yang mencari tempat dimana mereka bisa didengar. Karena seringkali mereka merasa sia-sia untuk bicara pada orang tua. Bahkan untuk keputusan yang tidak masuk akal pun, anak-anak diharuskan mengamininya dengan alasan ‘namanya juga orang tua’.

Saat ini, memang sudah terjadi perubahan dalam pola pengasuhan anak yang cukup signifikan. Namun untuk keluarga di daerah pinggiran, atau di daerah yang masih memegang keyakinan dengan cara salah, feodalisme masih menjadi pola pengasuhan anak yang umum dilakukan.

Saya punya cerita dari seorang teman. Sahabatnya, dipaksa untuk berhenti kuliah karena Kyai di kampungnya menginginkan dia pulang. Katanya mengurusi pesantren disana. Akhirnya, anak itupun pulang dan membuang semua mimpinya untuk bebas dari daerah yang feodal itu.

Orang tua bukan Tuhan, jadi terbukalah untuk dikritik. Pemuka agama dan adat bukan Tuhan, jadi jangan dimakan mentah-mentah apa yang mereka katakan.

Orang tua tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Karena itulah setiap manusia memiliki otak dan hati yang berbeda. Dan karena itulah manusia harus belajar. Agar kelak ia bisa melihat dan merasakan apa yang baik untuknya, dan apa yang tidak.

 

Pura-Pura

Beberapa teman saya sering menceritakan kondisi keluarganya. Kepalsuan, itulah yang banyak saya temukan dari cerita-cerita mereka.

Banyak orang tua yang ingin terlihat bagus didepan orang lain, padahal dia seperti penjaga pintu neraka di rumahnya. Tidak heran jika kita menemukan anak seorang alim terjerumus dalam pergaulan yang merugikan dirinya dan masyarakat. Mungkin orang tuanya lupa kalau kesalihan tidak diturunkan lewat darah, tapi lewat pendidikan yang baik. Dari keluarga – keluarga yang dipimpin orang alim, banyak saya temukan kekerasan. Itulah yang akhirnya menjadikan anak mereka lebih keras dari orang tuanya. Seandainya saat saya melihat kejadian itu saya sudah punya pengetahuan tentang KDRT  seperti ini, pasti sudah saya laporkan ke polisi. Ya, saya masih ingat waktu perang mulut dengan keluarga saya saat saya tidak mau memakai kerudung. Karena bagi saya, memakai kerudung itu seperti masuk agama baru. Ada akibat sosial dan personal yang harus saya tanggung. Tapi sekarang saya sudah berkerudung dengan harapan semoga pilihan itu baik, setidaknya untuk diri saya sendiri.

Berpura-pura pada orang lain bahwa keluarga kita baik-baik saja menjadi beban bagi anak yang mendengarnya. Karena si anak yang dipaksa untuk merasa baik-baik saja ingin keluar dan bebas dari kepura-puraan. Contoh, orang tua yang pura-pura jadi ‘pasangan bahagia, dan sampai di rumah mereka saling membentak. Hasilnya, saya banyak melihat anak introvert  berasal dari keluarga macam ini. Mereka diam seolah-olah mereka baik-baik saja. Padahal mereka membawa trauma dari masa kecil mereka.

Ketua Yayasan

Banyak anak yang tetap berada didekat orang tuanya hanya karena alasan keuangan. Banyak orang tua yang suka mengancam anaknya dengan uang. Anak-anak seperti ini kemungkinan besar akan meninggalkan orang tua mereka saat mereka sudah bisa mandiri. Saya tidak sok tahu, karena saya adalah anak dan bergaul dengan anak-anak yang merasakan hal ini juga.

Mereka melihat orang tua tidak lebih dari ketua yayasan yang memberi makan dan keamanan fisik sampai akhirnya mereka mandiri. Citra ‘ketua yayasan’ ini biasanaya dilekatkan pada para ayah. Saat si ayah hanya ingin leha-leha di rumah dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak karena alasan capek bekerja cari uang, disitulah si ayah berubah jadi ketua yayasan tempat penampungan anak.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bagi untuk sama-sama kita belajar. Saat saya melontarka kritik tentang pola pengasuhan, banyak orang, terutama yang sudah menjadi orang tua, berkata “jadi orang tua tu susah, kamu kan belum pernah merasakan’. Satu balasan untuk orang-orang yang berkata seperti itu. “ EMANGNYA JADI ANAK GAK SUSAH?! APALAGI KALAU ORANG TUANYA KAYAK KALIAN”

2 thoughts on “Saya Hanya Melihat Mereka dan Saya Diasuh

  1. Hermin Prajayani mengatakan:

    I can feel your anger! (I’ve experience it before so i can understand) BUT
    First, just try to believe that it will be good for you somehow.
    Seperti Mbak berjilbab sekarang. sedikit banyak pasti membawa kebaikan padamu. Don’t deny it!
    (walaupun tadinya dilakukan dengan tidak ikhlas)

    Second, BELIEVE it! seandainya nanti Mbak dah jadi orang tua.
    PASTIKAN agar anak-anak tidak merasakan apa yang Mbak pernah rasakan. Tetap ingatkan sejarah itu agar tidak berulang kepada generasi-generasi berikutnya. Kesalahan yang sama tidak boleh terulang, itu saja.

    Selama Orang tua tidak membawa kita kepada kemusrikan kita wajib menghormati semua orang tua, betapapun menjengkelkannya.
    Tapi mereka adalah orang tua yang harus dihormati. Just like you said, hormat berbeda dengan menyembah. Mungkin mereka salah dalam mencari penghormatan, tapi ketika kita benar-benar menghormati mereka dengan cara yang benar, Insyaalloh semua akan baik :)

    berdamailah dan temukan kedamaian. :*

  2. didik mengatakan:

    Sinis sekali dek… Ya tapi ada sebagian hal memang seperti itu,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s