Bukan Hanya Papa dan Ayah

Saat itu Lina melepas pandangannya di angkasa. Ia merasakan nyeri yang sekuat tenaga ia redam. Perlakuan kawan-kawannya di sekolah memang sudah keterlaluan. Bukan salah dia untuk tidak mengenal orang tua kandungnya. Dan juga bukan salah dia kalau akhirnya dia hanya punya ayah. Ya, dua ayah sekaligus yang merawat dan memberi kasih sayang selayaknya orang tua ‘normal’ lainnya.

Lina menatap hampa pada kumpulan awan yang berarak menujun selatan. Tingkah burung yang terbang membentuk anak panah menghidupkan langit biru yang sepi.

“Lina! Makan dulu sayang.”

“Ya Ayah!”

Papa dan Ayah. Begitulah Lina memanggil untuk membedakan keduanya. Papa adalah orang yang berwibawa. Ia duduk di ujung meja dan ayah adalah lelaki lembut yang penuh perhatian. Ayah duduk tepat berhadapan dengan Lina.

“Lina, akhir-akhir ini kamu sering sekali duduk sendirian di halaman belakang. Kamu tidak ingin bermain denga teman-temanmu yang lain?” Papa membuka suara.

“Tidak Papa. Aku hanya ingin berfikir sambil menulis buku harian. Ada dua buku yang ingin aku habiskan sebelum libur bulan depan.” Lina masih dapat menyembunyikan alasan sebenarnya.

“Kamu sedang mengerjakan proyek? Apa kamu mau menulis blog atau buku? Ayo cerita. Mungkin kami bisa bantu.” Ayah terlalu sensitif untuk ditipu.

“Oh, tidak. Cuma iseng.”  Lina menyodorkan piringnya pada Ayah. “Aku mau sayurnya”. Ayah meraih piring dari tangan Lina dan menyiduk sayur.

Lina bisa melihat Ayah menyinggungkan senyumnya, ia pun sadar bagaimana mereka dengan susah payah membuat Lina mau makan sayuran. Sampai akhirnya Ayah menemukan bahwa Lina suka sayur yang ditumis setengah matang.

“Ini sayang.” Ayah menyodorkan piring pada Lina.

“Maksih.”

“Lina, bagaimana sekolahnya? Kegiatan apa yang kamu suka?”

“Lina gak begitu suka sama teman-teman. Mereka suka gosip. Dan yang laki-laki Cuma suka main. Tidak ada yang menarik di sekolah.”

“Sayang, kalau ada yang ingin kamu ceritakan. Omongkan saja, Papa dan Ayah selalu disini untuk kamu.”

“Ya. Pasti” Lina sadar bahwa Ayah dapat membaca kegugupan gerak-geriknya saat ditanya soal sekolah.  Dia bukan orang yang pemilih dalam berteman, tapi memang tidak ada yang ingin berteman dengannya.

 

“Lina, Anak dari Dua Ayah”

Sebuah artikel terpampang di majalah dinding sekolah. Dan artikel itu adalah headline untuk minggu ini. Dari judulnya, dapat dipastikan hampir seluruh penghuni sekolah akan tertarik dan memberi banyak tanggapan. Namun apakah ada yang sadar kalau daiantara ratusan pembaca artikel itu, ada satu orang yag merasa terganggu.

Saat Lina melangkahkan kaki ke kelasnya, seluruh mata tertuju padanya. Para siswa berbisik satu sama lain sambil menutupi mulut mereka, dan mata mereka tetap menancap pada sosok Lina.

Lina mecoba menahan emosinya dan duduk ditempat duduknya. Ketukan sol sepatu Ibu Hana mengeheningkan kelas. Serentak semua murid berdiri dan memberi salam bersama-sama. Ibu Hana adalah guru Bahasa Inggris yang paling disiplin. Lina paling menunggu pelajaran ini, karena hanya dialah yang tidak pernah menjadikan keluarganya untuk contoh dan candaan di kelas.

“Sekarang kita akan belajar tentang “respond”. Jika seseorang berpendapat tentang sesuatu dan kita menanggapi, makan akan terjadi sebuah percakapan. Karena itu, ibu ingin kalian belajar menanggapi. Menanggapi pertanyaan atau pendapat adalah kemampuan yang harus dilatih dalam sebuah percakapan. Bagaimana kalian menanggapi, kata, tata bahasa, sampai isyarat tubuh. “

“Lina!” Lina mendongak saat namanya disebut.

“Maju Nak. Kita belajar menanggapi.” Lina bangkit dari kursinya ke depan kelas. Di depan kawan-kawan sekelasnya yang menatap nya dengan tatapan meremehkan. Ia berdiri menatap seluruh murid di kelas, sambil menunggu perintah Bu Hana selanjutnya.

“Berkomunikasi artinya ada yang melontarkan ide dan ada yang menanggapi. Kalau seseorang hanya berbicara sendiri tanpa peduli pembicaraannya ditanggapi atau tidak, itu artinya dia tidak berkomunikasi dengan orang lain. Ada yang mau bertanya atau kasih pendapat untuk Lina, supaya dia bisa menanggapi.”

Semua murid terdiam. Mereka paham apa yang dimaksud oleh Bu Hana.

Bu Hana menghela nafas, ia melanjutkan. “Artikel yang jadi topik utama di mading. Semua pasti sudah tahu. Dan sebelum artikel itu ada, kita juga sudah tahu apa yang terjadi disekitar kita. Banyak orang yang menganggap dirinya benar, malah mengumpat orang lain dibelakang. Itu artinya dia salah.” Bu Hana menatap mata muridnya satu persatu, lalu mengalihkan pandangannya pada Lina.  “Lina, selama ini orang-orang hanya mendengar suara mereka sendiri dan bangga jadi pengecut dibelakang kamu. Ada yang ingin kamu tanggapi tentang artikel di mading?”.

Lina menarik nafas dalam, kelebat wajah Ayah dan Papa melintas di benaknya. Mereka adalah orang tua yang baik. Lina tidak peduli apakah mereka pasangan yang baik, tapi mereka orang tua yang baik. Pasti banyak perempuan yang memimpikan punya suami seperti mereka.

“Tanggapan saya tentang artikel di Mading. Maaf kalau gramar saya tidak bagus. Saya tidak malu dengan kondisi keluarga saya. Mereka orang tua saya dan kami saling menyayangi karena kami keluarga. Dan saya betah di rumah karena mereka orang tua yang baik. Saya menerima mereka, karena kalau tidak pasti saya sudah bunuh diri sejak lama.”

Otak-otak muda yang mendengarkan hal ini tentu harus berfikir ekstra untuk bisa mengerti apa yang disampaikan Lina. Anatara doktrin norma orang tua dan rasa toleransi yang memang sejatinya merambat dalam hati mereka.

Bu Hana menangkap kebingungan itu. Ia tidak buta untuk melihat bahwa sehari-hari Lina berdiam di perpustakaan karena tidak ada yang ingin berteman dengannya. Juga ejekan-ejekan yang terlontar dari hampir seluruh siswa di sekolah ini. Bahka, para guru pun bergunjing dan mengejeknya dengan cara menajdikan keluarganya sebagai contoh buruk di kelas.

“Setuju dan tidak setuju itu adalah hak kalian. Yang menjadi kewajiban kalian adalah menanggapi dengan cara yang benar. “ Bu Hana menoleh kearah Lina dan menyuruhnya duduk.

“Sekarang ambil pena dan buku tugas kalian. Tulis dua paragraf dengan tema  “Senadainya orang tua saya adalah Ayah dan Ayah atau Ibu dan Ibu”, silahkan dipilih mana yang kalian suka. Kita akan pilih dua tulisan dan semua murid akan menanggapi tulisan itu.”

Bu Hana menghela nafas dalam, “ anak-anakku, penindasan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan diri pada posisi pihak yang tertindas.”

 

Akhir-Akhir Ini

Satu lagi tulisan sampah yang aka saya tampilkan, selamat menikmati.

 

Saya mengakui akhir-akhir ini sering melihat video kreatif. Tentang dekorasi kue sampai pembuatan klip musik. Ada suara-suara di alam bawah sadar yang mendorong saya untuk merangkak ke ranah kreatif lagi. Saya merindukan bagaimana asyiknya saat kita bisa melihat sesuatu dalam pandangan yang berbeda, berfikir diluar kewajaran. Menciptakan makhluk-makhluk dan bentuk aneh yang hanya muncul dalam khayalan, juga memikirkan detil pembuatan sesuatu.

Saat ini saya memang berada dalam era kejatuhan, dimana saya tidak merasakan lagi apa yang namanya ‘writer’s block’ karena tulisan yang saya hasilkan akhir-akhir ini memang bisa dibilang kontemplasi sendiri. Saya tidak memikirkan diksi dan apakah orang akan menerima tulisan-tulisan ini. Saat saya merasakan ada penghalang ketika saya berkarya, itu karena saya memiliki konsep. Layaknya kerangka dalam tubuh manusia, dan ketika proses pembuatan karya itu terjadi, terkadang konsentrasi teralihkan. Dan saat kembali lagi ke titik semula, halangan itu muncul. Seperti tidak tahu apa lagi yang mau ditulis, padahal semuanya sudah ada dalam konsep awal.

Saya tidak mengalami rintangan seperti itu lagi, karena saya tidak serius dalam melakukan proses kreatif saya. Saya tidak menggunakan kerangka atau konsep. Sehingga tulisan dan karya lain yang saya kerjakan setengah-setengah dan tidak sistematis.

Tapi itulah asyiknya saat kita memang ingin melakukan sesuatu lebih dari sekedar ingin diterima. Kita melakukannya untuk bersenang-senang. Tidak ada alasan bagi seorang karyawan seperti saya untuk tidak bersenang-senang dan berantakan.

Dengan video di Youtube yang makin membuat saya sadar bahwa berkarya itu menyenangkan, saya ingin berpesan pada Anda semua. Bersenang-senanglah dengan karya kalian.

 

Menggali Kuburan Leluhur

Saya mulai untuk berfikir lagi tentang mutiara-mutiara kebijaksanaan yang sering dicampakkan. Ungkapan jati diri yang sering digemakan para aktivis dan pemikir, adalah jati diri berupa kefanatisan. Kefanatisan akan pemikiran dan adab yang bukan merupakan buah rahim dari tanah Indonesia. Lagi pula pertanyaan tentang ‘jati diri’ itu perlu dilemparkan lagi ke muka si penanya. Jati diri yang seperti apa? Ada sekitar 350 suku bangsa di zamrud katulistiwa ini. Semuanya punya latar belakang dan proses pembentukan jati diri yang berbeda. Maksudnya yang mana?

saya yakin pertanyaan ini membuat kita akhirnya melirik keluar. mengenyampingkan kemampuan berfikir mendalam dengan menenggak semua pemikiran dan ideologi dari negara lain yang kita anggap rasional. Beberapa teman saya bahkan menyebut diri mereka atheis, dan beberapa lain nya memilih jalur Islam Sosialis, dan lain-lain. Tentu saja saat bersama mereka, tidak banyak yang bisa saya bicarakan. Karena kebanyakan apa yang mereka sampaikan sudah pernah saya baca di buku, majalah, artikel di internet, atau diselebaran demonstrasi mahasiswa. Akhirnya, kalau diladeni malah jadi debat kusir, bukan bertukar pikiran.

Saat membaca tentang kerajaan-kerajaan di tanah Jawa, karena butuh waktu lama untuk bisa membaca satu kerajaan, saya menangkap bahwa pada dasarnya watak orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan watak manusia di negara lain pada saat ini. Hanya saja memang, keinginan untuk dihormati, dan diuntungkan menjadi watak dominan yang harus diubah.

Perubahan karakter sosial ini, tentu tidak lepas dari pengaruh bangsa Penjajah yang mendoktrin sedemikian rupa sehingga para orang tua kita percaya kalau mereka lemah. Budaya membaca makna yang mengharuskan manusia berfikir mendalam ditinggalkan, para anak bangsawan dan keturunan raja bertapa dan mati-matian mencari ilmu di dusun. Kecintaan akan sastra dan kebijaksanaan yang dibawa para Resi saat berada di medan perang membawa para panglima pada kemenangan. Sangat berbeda dengan apa yang kita lihat saat ini.

Saya yakin ada sebuah pengaruh luar, jauh sebelum negara ini dijajah, yang berakulturasi dengan pengaruh dari dalam watak keseharian di nusantara yang menjadikan bangsa ini mudah dibodohi dan merasa diri kerdil.  Hal ini diperparah dengan doktrin Belanda yang menganggap bangsa ini bodoh dan belum pantas merdeka.

Ada pengaruh yang entah dari mana asalnya membuat bangsa ini secara turun temurun mencari kebaikan diluar dan menjiplaknya, bukan mengembangkan atau mempelajari. Membuat bangsa ini secara turun temurun mengagumi keindahan di tempat lain sampai lupa menggali kecantikan diri sendiri. Melihat apa yang kita punya dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Saat ini peninggalan Belanda yang saya lihat adalah, pertanian Indonesia, rel kereta api, pandangan bahwa bangsa barat selalu lebih baik, dan wanita berkulit putih lebih cantik. Memang tidak bisa seluruh dosa kita timpakan pada bangsa penjajah dalam membentuk watak sosial kita saat ini. Ada satu akar dimana semua itu bermula dan belum kita temukan.

Saatnya kita melihat kebelakang sejenak dan mencari. Mencari mengapa kita seperti sekarang ini. Agar kesalahan turun temurun yang kita lakukan tidak dapat lagi sembunyi dibalik pembenaran “orang tua saya juga bagitu”. Juga agar tidak lagi kita memicingkan mata melihat bangsa sendiri dengan kepesimisan dan kebencian, karena sejatinya kita seperti sekarang ini pasti ada sejarahnya. Seandainya kita mengerti perjalanan panjang karakter sosial ini, pasti kita juga akan paham bahwa segala sesuatunya bisa berubah dengan menggunakan apa yang kita miliki.

Kenapa harus bepergian jauh, kalau sebenarnya kebijaksanaan itu terserak dibelakang kita. Kita merangkai kearifan dari para leluhur. Karena jati diri bukan sekedar Jaipong, Gamelan, Tari Tor-Tor, atau patung Asmat.

 

Hitam Warna Harapan

Isi kepala kami menguap. Menjadikan awan-awan kecil putih yang menggelayut dalam kehampaan. Semua masih saja kerontang. Retak-Retak.

Kami butuh sesuatu yang membuat semua menjadi gelap dan hitam. Agar kami bisa mendengar gemuruh kekuatan harapan, serta melihat gagahnya halilintar.

Entah kapan kami berani menengadah. Bahagia saat melihat harapan kami menumpahkan segala keinginan dan menyiram jiwa yang kerontang.

Apakah langit masih ingin cerah?

Saya Hanya Melihat Mereka dan Saya Diasuh

 

Apa yang saya tulis memang hanya percikan-percikan ide yang datang tidak terduga. Muncul saat saya sedang nonton apa saja yang bisa ditonton, atau mendengar apa saja. Karena itu, jangan dianggap serius. Saya tidak akan menghiraukan kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar.

 

Saat liburan Ramadha dan Lebaran, saya dikunjungi oleh Ayah saya. Jangan ditanya, saya sangat senang. Beliau data jauh-jauh dari Papua untuk melihat anaknya ini. Kalau diingat-ingat, saya memang dekat dengan beliau namun ada dendam yang juga masih tersimpan. Selama bertahun-tahun saya menulis buku harian sebagai langkah terapi psikologis. Dan ‘Alhamdulillah’ sudah mulai terlihat perkembangan positif dalam diri saya. Baiklah, akan saya ceritakan sesuatu yang membuat semua anak butuh konseling, walaupun itu bentuknya adalah self healing, seperti yang saya lakukan dengan menulis.

 

Ruang lingkup yang akan saya ambil sebagai contoh adalah tipikal keluarga Indonesia, karena saya memang tidak pernah ke luar negeri kecuali untuk pipis di belakang tugu perbatasan Indonesia – PNG di Merauke, Papua.

Feodal

Saya bukan tipe orang yang akan menghormati orang lain hanya karena dia lebih tua, atau karena orang itu dituakan. Hal itu tentu saja dianggap kasar. Keharusan menghormati orang yang lebih tua memang merupakan hal yang baik, tapi menghormati bukan berarti menyembah. Pelajaran turun temurun yang didapat oleh para orang tua kita saat mereka masih kanak-kanak adalah ‘jadilah orang tua dan lahirkan para pemuja’.

Pelajaran itu pun dibawa, makanya jangan salahkan kalau banyak anak yang mencari tempat dimana mereka bisa didengar. Karena seringkali mereka merasa sia-sia untuk bicara pada orang tua. Bahkan untuk keputusan yang tidak masuk akal pun, anak-anak diharuskan mengamininya dengan alasan ‘namanya juga orang tua’.

Saat ini, memang sudah terjadi perubahan dalam pola pengasuhan anak yang cukup signifikan. Namun untuk keluarga di daerah pinggiran, atau di daerah yang masih memegang keyakinan dengan cara salah, feodalisme masih menjadi pola pengasuhan anak yang umum dilakukan.

Saya punya cerita dari seorang teman. Sahabatnya, dipaksa untuk berhenti kuliah karena Kyai di kampungnya menginginkan dia pulang. Katanya mengurusi pesantren disana. Akhirnya, anak itupun pulang dan membuang semua mimpinya untuk bebas dari daerah yang feodal itu.

Orang tua bukan Tuhan, jadi terbukalah untuk dikritik. Pemuka agama dan adat bukan Tuhan, jadi jangan dimakan mentah-mentah apa yang mereka katakan.

Orang tua tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Karena itulah setiap manusia memiliki otak dan hati yang berbeda. Dan karena itulah manusia harus belajar. Agar kelak ia bisa melihat dan merasakan apa yang baik untuknya, dan apa yang tidak.

 

Pura-Pura

Beberapa teman saya sering menceritakan kondisi keluarganya. Kepalsuan, itulah yang banyak saya temukan dari cerita-cerita mereka.

Banyak orang tua yang ingin terlihat bagus didepan orang lain, padahal dia seperti penjaga pintu neraka di rumahnya. Tidak heran jika kita menemukan anak seorang alim terjerumus dalam pergaulan yang merugikan dirinya dan masyarakat. Mungkin orang tuanya lupa kalau kesalihan tidak diturunkan lewat darah, tapi lewat pendidikan yang baik. Dari keluarga – keluarga yang dipimpin orang alim, banyak saya temukan kekerasan. Itulah yang akhirnya menjadikan anak mereka lebih keras dari orang tuanya. Seandainya saat saya melihat kejadian itu saya sudah punya pengetahuan tentang KDRT  seperti ini, pasti sudah saya laporkan ke polisi. Ya, saya masih ingat waktu perang mulut dengan keluarga saya saat saya tidak mau memakai kerudung. Karena bagi saya, memakai kerudung itu seperti masuk agama baru. Ada akibat sosial dan personal yang harus saya tanggung. Tapi sekarang saya sudah berkerudung dengan harapan semoga pilihan itu baik, setidaknya untuk diri saya sendiri.

Berpura-pura pada orang lain bahwa keluarga kita baik-baik saja menjadi beban bagi anak yang mendengarnya. Karena si anak yang dipaksa untuk merasa baik-baik saja ingin keluar dan bebas dari kepura-puraan. Contoh, orang tua yang pura-pura jadi ‘pasangan bahagia, dan sampai di rumah mereka saling membentak. Hasilnya, saya banyak melihat anak introvert  berasal dari keluarga macam ini. Mereka diam seolah-olah mereka baik-baik saja. Padahal mereka membawa trauma dari masa kecil mereka.

Ketua Yayasan

Banyak anak yang tetap berada didekat orang tuanya hanya karena alasan keuangan. Banyak orang tua yang suka mengancam anaknya dengan uang. Anak-anak seperti ini kemungkinan besar akan meninggalkan orang tua mereka saat mereka sudah bisa mandiri. Saya tidak sok tahu, karena saya adalah anak dan bergaul dengan anak-anak yang merasakan hal ini juga.

Mereka melihat orang tua tidak lebih dari ketua yayasan yang memberi makan dan keamanan fisik sampai akhirnya mereka mandiri. Citra ‘ketua yayasan’ ini biasanaya dilekatkan pada para ayah. Saat si ayah hanya ingin leha-leha di rumah dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak karena alasan capek bekerja cari uang, disitulah si ayah berubah jadi ketua yayasan tempat penampungan anak.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bagi untuk sama-sama kita belajar. Saat saya melontarka kritik tentang pola pengasuhan, banyak orang, terutama yang sudah menjadi orang tua, berkata “jadi orang tua tu susah, kamu kan belum pernah merasakan’. Satu balasan untuk orang-orang yang berkata seperti itu. “ EMANGNYA JADI ANAK GAK SUSAH?! APALAGI KALAU ORANG TUANYA KAYAK KALIAN”