0X0=0, 0+0=0, 0:0=0, 0-0=0

Hari-hari yang dilewati makin kosong tanpa gerak yang nyata. Banyak yang bergumul dengan mimpi kosong yang melenakan. Hati menjadi kosong dan makna, jangan ditanya lagi kekosongannya. Semua yang terucap serasa omong kosong. Silikon kosong dikubur didalam kulit bibir, mungkin juga kepala. Makanan yang hanya numpang lewat, membuat tubuh semakin kosong.

Semuanya adalah kekosongan. Yang dimasukan kosong, yang dikeluarkan juga kosong. Menghasilkan imaji kosong dan segepok omong kosong bernama Dollar, Rupiah, dan apapun itu namanya.

RENUNGAN MIMPI

Oleh: Artitik Dyah Ikhsanti

Tulisan yang saya buat ini bukan berdasarkan pada film Sang Pemimpi arahan Riri Riza, karena saya sama sekali belum menontonnya. Semua ini bermula dari keinginan sederhana untuk melihat orang-orang yang terasa nyata dan sepertinya dekat dengan saya. Entah itu keluarga atau idola. Saya merasa tangan saya terlalu pendek. Dan inilah yang ada dalam benak saya.

Saya memberanikan diri untuk keluar dari kota saya karena saya ingin membangun mimpi-mimpi saya. Menjadi sesuatu dan seseorang. Tapi, seiring perjalanan hidup, saya menemukan bahwa selama ini saya tidak memiliki apa-apa. Semua mimpi yang saya bangun makin menguap. Lama kelamaan saya pun mulai menyederhanakan harapan-harapan saya. Menjadi lebih sederhana dan biasa saja. Padahal, tidak saya pungkiri, selama ini ada sisi lain dalam hati dan pikiran yang terus bergejolak. Entah apa itu, namun semua yang saya lihat meredam gejolak itu. Saya mulai menyesuaikan cita-cita dengan harapan sederhana saya, dan tanpa saya sadari saya mulai merasa semakin lemah. Kekuatan besar yang selama ini saya abaikan makin padam.

Mungkin ini sebuah fase dalam hidup. Tapi yang saya takutkan, semuanya menjadi akhir dalam hidup saya. Apakah saya akan berakhir dengan biasa saja? Atau sebagai yang luar biasa? Semua itu pilihan, tapi bagaimana saya memilih sedangkan disekeliling saya tidak terdapat pilihan?

Suara – suara yang terabaikan itu berbunyi:

Saya ingin macam-macam!!

Saya tidak mau yang biasa saja!!

Saya harus mulai dari sekarang!!

Mulai!! Mulailah untuk tidak diam!!

Dan inilah peredamnya:

Iya kalo berhasil, kalo tidak?

Iya kalo resikonya tidak lebih besar, kalo malah jadi lebih berantakan situasinya?

Masa’ bisa?

Mana ada waktu?

Bagaimana dengan ini dan itu yang sudah kamu punya?

Sudahlah, perempuan juga dirumah.

Saya memasuki tahun baru Hijriah dan Masehi dengan segala kegamangan dan kegelisahan. Meraba-raba mimpi yang dulu ada. Mencoba menyingkirkan penghalang dalam hati dan pikiran. Saya bertambah lemah dan rapuh. Makin saya menafikan semua mimpi yang dulu, makin saya bertambah rapuh.

Saat ini mata saya terpejam. Apakah saya Dyah seperti tahun 2000-2008 dulu yang penuh gairah dan semangat? Ataukah saya Dyah 2009 yang menggali kuburannya sendiri dalam sunyi?

Dinding ini rasanya lebih tebal dari Harem Mernissi.

Tidak, saya harus keluar!! Bagaimanapun caranya. Tidak sekedar bangkit, tapi melangkah, berjalan, lalu berlari.

Ya, saya ingin macam-macam!! Dan tidak ingin berakhir menjadi biasa saja. Saya hanya mencoba untuk memungut kembali bata mimpi yang pertama.

Nama dan Kemudahan

Pertarungan antara Polri dan KPK yang ternyata melibatkan banyak pihak, nyatanya menjadi isu hangat yang santer diberitakan. Namun, sebagai orang sastra yang tidak tertarik mengutak-atik ‘ladangnya’ orang hukum, bukan berarti saya tidak mau ikut rame-rame. Ide menulis artikel ini didapat dari celetukan teman saya WW tentang penamaan. Cicak-buaya yang tidak hanya merepresentasikan KPK-Polri, melainkan juga tautan lain yang dasosiasikan dengan dua binatang tersebut.

Jika buaya terkenal, mungkin sudah wayahnya, tapi kalo cicak? Seperti durian runtuh binatang ‘biasa banget’ ini tiba-tiba menjadi terkenal, sekaligus jadi idola. Cicak dikaitkan dengan institusi KPK yang kerdil namun memberantas nyamuk nakal. Tapi tidak hanya KPK saja, cicak juga akhirnya diasosiasikan dengan segala institusi atau pihak yang dirugikan hukum. Hukum yang besar dan ganas, seperti halnya buaya. Sontak istilah tikus tidak gema lagi. Bagaimana mau bergema, tikusnya sudah jadi buruan cicak dan buaya, padahal tikus kan lebih besar ya daripada cicak. hehehehe………

Pak Susno Duadji dan pegawainya mungkin merasa terhibur karena celetukan ringan mereka. Ditengah permasalahan kriminalisasi KPK, istilah yang mereka ciptakan menyebar kemana-mana. Mempermudah para demonstran bahkan wartawan untuk menyebut segala kerumitan dalam dua sebutan hewan ini. Sama halnya sebutan tikus yang diasosiasikan dengan orang yang melakukan korupsi, kolusi nepotisme. Tikus membuat asosiasi mudah yang memungkinkan para demonstran membuat teatrikal yang eye catching. Sekaligus, mempermudah penyebutan oknum yang melakukan segala kejahatan birokrasi.

Terlepas dari segala tuduhan yang hanya Alloh SWT yang tahu Susno salah atau benar, berbagai pihak harus berterima kasih padanya karena memperkaya khasanah bahasa Indonesia dengan kata ‘cicak’ dan ‘buaya’. Juga terima kasih untuk yang mempopulerkan istilah ‘tikus’. Walaupun kata ini banyak digunakan oleh Iwan Fals dalam lagu-lagunya, namun apakah benar istilah ini memang hasil celetukannya juga?

Saya punya usul… Bagaimana kalau ada kasus lagi, diberi nama tumbuhan saja. Biar perancang teatrikal demonstrasi se Indonesia tambah kreatif.

pengasingan

aku menyadari semua orang butuh kesendirian. siapa yang mengharapkan pengasingan, namun mungkin banyak yang membutuhkan pengasingan sementara. he2, yah mengasingkan diri dari proyek yang tidak selesai, pekerjaan tetap yang tak kunjung didapat, juga dari kewajiban tetek bengek lainnya.

manusia, dia akan merasa bebas jika memiliki semuanya sendiri. terasing dalam tumpukan invetaris pribadi. seolah-olah hidupnya berada di tingkat aman.

ketenangan dalam kesendirian atau menyendiri dalam keramaian. intinya, manusia terkadang butuh diasingkan.

diasingkan dalam riuh redam ketergesa-gesaan. dalam kedamaian di masa pensiun. juga dalam lelap di kamar pribadi.

insomnia

jam tidur yang berubah jadi jam kerja emang bukan hal baru. biasanya juga tidak pernah jadi masalah. bahkan presdir pun mengalaminya-setidaknya waktu masih jadi buruh.
jam tiga kurang lima belas, untuk fresh grad sepertiku kebiasaan begadang semasa mahasiswa masih dapat dilaksanakan. terutama kalo ada kerjaan. semua tentu tahu bahayanya begadang. dari penyakit anemia sampai kelainan jantung. lalu bagaimana mengatasinya?

tulisan ini emang gak ada ilmiahnya. hanya berdasar pengalaman. bicara tentang insomnia, ada yang mengatakan itu merupakan gejala wajar masa muda atau emang seringnya terjadi pada remaja (23 tahun remaja bukan ya?). yang ngomong ini tentu bukan aku, tetapi seorang psikolog yang emang masih keluarga. reaksi hormon dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. ada juga yang mengatakan bahwa hal ini merupaka indikasi kelainan jantung. ada juga yang mengatakan insomnia tuh hasil dari sugesti. atau, kita lihat dulu ja penyebab sederhananya, seperti dikejar dateline kerja atau diserbu nyamuk.

wah… banyak juga penyebabnya (itu belum semua lho).

mengatasinya juga macam-macam. mulai dari minum obat tidur, sampai hipnotis. hipnotis dimaksud untuk merangsang sugesti, biar bisa tertidur. namun, cara yang saya temukan sendiri yaitu, dengan imajinasi. yaitu membayangkan diri kita berbaring di tempat yang menurut kita paling nyaman. kalo ketiga solusi emang gak mempan, mending melakukan hal lain yang berguna.

yang penting, jangan sampai insomnia terjadi dalam jangka waktu yang lama. solusinya Anda sendiri yang menentukan. saran saya carilah solusi dengan resiko terendah terhadap kesehatan fisak maupun mental.

selamat tidur….

Bulan dan Malam

Semua tentang kebodohan antara aku dan bulan. Dia memang sangat indah dan sampai kapanpun dia kan tetap jadi wakil bagi matahari saat malam tiba. Semua jadi gelap dan dialah yang tercantik dan terdekat.

Tapi malam tetap tidak akan pernah bersahabat. Karena saat malam tiba, semua orang masuk ke rumah mereka. Disitulah semua ketakutan barmula karena malam menjadi peluang bagi kejahatan. Tapi aku akan selalu merindukan di saat semua mata terpejam dalam kedamaian dan beristirahat sampai matahari menyapa. Namun, aku tidak pernah menemukan dunia yang pasti untuk sisi diriku yang lain.

Aku tidak menyempurnakan apapun bagi hari ini maupun kemarin. Aku pun tidak tahu apakan besok bisa jadi lebih baik, karena malam dan siang akan terus berganti. Seandainya panas di siang hari bisa membakar habis semua amarah dan malamnya dapat menyuburkan rasa cinta pada sesama. Karena daun baru akan terus tumbuh dan bunga akan terus bermekaran.

Apa itu semua sangat sulit untuk didapatkan. Mungkin juga manusia memang tercipta untuk membenci dibalik senyuman. Tak ada yang bisa dipastikan, hanya bisa diperkirakan.

CITA – CITA

Langkah-langkah orang yang gundah menyeruakan bau dari tanah. Entah datang dari mana, yang pasti semuanya membuat dunia menjadi tidak seperti biasanya. Di bawah matahari yang meninggi, seorang wanita berkaki satu duduk di kursi roda yang didorong seorang pria. Mungkin itu suaminya. Indahnya jika demikian. Mereka menyebrang jalan dalam kehati-hatian namun tetap cekatan.

Kira-kira apa yang terlintas dalam benak gadis kecil tak beralas kaki di jembatan penyebrangan. Tingkahnya manut dalam gandengan ibunda. Apa ketakutan masa depan sudah bergelayut di benaknya? Atau semua terasa biasa saja baginya. Aku seperti bocah yang masih belajar banyak tentang dunia. Yang mencari dengan gelisah misteri lain tentang takdir dan kemungkinan.

Apa yang diharapkan dari penghasilan seorang penulis?” Dengan pandangan nyinyir Mbak Asih melontarkan kata-kata itu lagi. “Chairil Anwar hanyalah 1 dari seribu kemungkinan.”

Kepalaku menunduk sambil menggenggam pensil lebih kuat. Apa yang dapat kuperbuat. Aku hanya bias belajar dengan tekun, menggunakan buku dan alat tulisku seperlunya. Apa yang dapat kuperbuat? Aku hanya seorang gadis kecil yang dihidupi kakaknya.

Andai dia memahami betapa inginnya aku berhenti menuliskan pikiranku dalam cerita. Sudah kutahan sekuat hati keinginanku untuk menuliskannya di buku catatanku, namun rasa itu memanggil. Menuntutku untuk menuangkannya dalam lembaran-lembaran ini.

Kriiing….” Bel sekolah menandakan waktu istirahat. Teman-teman sekelasku bersorak riang dan riuh dalam rencana bermainnya. Aku diam di tempatku. Matakau terpaku pada buku tulis satu-satunya yang isinya semua mata pelajaran. Jantungku berdegup. Suara-suara di kepalaku memburu. Mengajak tanganku mencoretkan kata-kata di atas lembaran-lembaran bergaris itu. Tanganku mengeras. “Tidak boleh!” Kalau Kakak tahu buku ini habis bukan karena pelajaran, aku tidak akan dibelikan lagi. Dia sudah mengatakannya berkali-kali.

Tanganku meraba-raba laci setiap meja. Kutemukan lembaran-lembaran kertas bekas teman-temanku saling melempar. Aku menulis di bagian yang masih kosong. Kutemukan kertas-kertas di lantai. Sebagian sudah tidak utuh, namun masih ada sedikit tempat disana untuk kutuliskan sesuatu.

Hatiku berdesir. Jadilah setiap di sekolah, aku mengais kertas-kertas bekas untuk kutuliskan sesuatu di sela-sela coretan didalamnya.

Aku tersenyum saat seorang anak kecil berseragam kotak-kotak oranye memandangiku. Kuberikan buku di tanganku padanya.

Kak, tanda tangannya juga!” kutanda tangani lembar pertama buku itu, lalu kuserahkan kembali padanya.

Makasih Mbak Tari.” Kata Ibunya yang tidak kalah girangnya. “Jarang ada yang mau nulis buku cerita anak kayak Mbak. Sukses ya.”

Terima kasih Bu.” Aku sedikit membungkuk dan mengacak-acak rambut anak itu.

Aku melangkah mengikuti desiran hatiku yang lain. Bumi menjadi hening saat derap kaki manusia menghantam jembatan penyebrangan yang basah diguyur hujan semalam.

—–

entah kenapa semuanya menjadi tidak menynangkan. Ya Allah. apa karena aku dengan sengaja mengabaikan perintahMu

banyak fenomena di sekitar kita yang emnunjukan betapa msayarkat Indonesia belum bisa menerima arti kalah. kalah dan berbesar hati untuk menghadapi ujian yang sama. seringkali kita dengar Ya Tuhan, salah apa aku? pantaskah? tentu saja.

tadi sore saya berbelanja dengan salah seorang teman saya, yang akhirnya pertemana di dunia ini menjadi semakin semu. biasa perempuan, tidak akan pulang hanya dengan barang yang dibutuhkan. hal ini membuat saya tidak bisa menunaikan sembahyang. yah, dunia makin diisi dengan orang-orang yang tidak penting. dan ketika kita tidak tegas, kita pun menjadi tidak penting.

saat saya marah karena hal ini, teman saya itu malah menertawakan seolah sembahyang adalah hal kecil baginya. begitulah dunia yang memaksa manusia untuk sok relatif. mungkin itulah yang sampai saat ini membuatku merasa berang. perasaan harus menjadi orang yang selalu mengerti tanpa harus dimengerti.

terserah bagi dia sembahyang tidak penting. bagiku ini penting!

aku ingin sekali bisa dimengerti. merindukan seseorang yang sabar mendengar ocehanku di sampingnya. membawa hal – hal baru dan mengeluarkanku dari kejenuhan.

ya Allah, aku terima apa yang Kau timpakan padaku hari ini. bantu aku agar aku tidak mendapatkannya lagi di hari nanti. berdamai dengan waktu, membunuh nafsu.

aku ingin perang terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi.

Happy Beauty Day

Lazimnya, semua perempuan sangat ingin terlihat cantik. Tidak hanya cantik dalam artian wajah yang cantik, lebih dari itu, cantik dalam artian memiliki tubuh yang sehat dan terawat. Namun, ada sebuah fenomena yang saya temukan di kalangan aktivis perempuan tentang kebutuhan akan kecantikan ini. Contohnya, saat saya membawa cermin di pertemuan persma, saya dicibir oleh salah seorang teman. Baginya, seorang aktivis persma tidak sepantasnya berlaku seperti perempuan lainnya, yaitu menjaga penampilan. Sebenarnya, saya dulu juga beranggapan serupa. Alasannya pun beragam; karena tidak ada waktu luang, malas, bahkan merasa hal itu tidak penting. Jelas saja, sejak SD sampai saat ini, saya adalah orang belakang layar dalam organisasi, kecuali SMA dimana saya menjadi anggota tim softball, jelasnya posisi tersebut tidak membutuhkan penampilan menarik. Namun, semuanya berubah saat saya bertemu dengan lebih banyak gadis seumuran saya di Jember.

            Berawal dari ketergiuran saya untuk menjalankan bisnis MLM sebuah produk kosmetik. Tentu saja, awalnya saya ragu karena saya sendiri tidak pernah tertarik sebelumnya dengan dunia kecantikan. Namun, saya dapat menjalankan bisnis itu dengan baik tanpa perlu berdandan layaknya teman-teman saya yang lain. Kemudian, saya diajarkan mengidentifikasi jenis kulit dan metode perawatan yang dibutuhkan oleh anggota yang lain. Dari sinilah awal perawatan intensif tiu dimulai.

            Jika Anda berfikiran bahwa mempercantik diri hanya sekedar untuk menarik lawan jenis atau perhatian orang lain, Anda salah besar. Ada sensasi tersendiri ketika saya mencoba “mempercantik diri”. Pekerjaan yang tidak ada habisnya dari kampus, membuat pikiran saya butuh relaksasi. Seketika pikiran saya jadi tenang saat scrub meneglupas kulit ari di wajah dan tubuh saya. Saya menggunakan facial wash atau face cleanser lainnya. Aroma lembut dari pemebrsih wajah akan mebuat Anda menjadi lebih tenang. Lebih baik lagi jika Anda memijat wajah Anda perlahan. Atau menggunakan masker dengan mata yang ditutup mentimun atau kantung teh yang didiamkan sehari, tentu saja wajah Anda sebelumnya juga harus dibersihkan. Belakangan, saya malah melakukan masker pada bagian tubuh yang lain, seperti tangan dan kaki. Jangan dibayangkan saya memakai peel off masker atau masker bubuk di tangan dan kaki. Potong sebatang lidah buaya, lalu usapkan isinya yang berlendir di tangan dan kaki. Sensasi dinginnya bikin badan jadi rileks, apaplagi lidah buaya bermanfaat untuk merangsang regenerasi kulit. Selain lidah buaya, tanaman lain pun bisa, seperti tomat, mentimun, atau kentang. Untuk yang terakhir ini, harus diparut terlebih dahulu, dan rasanya “wuiih!” lebih dingin dari mentimun, kulit langsung terasa halus setelah memakai masker kentang. Anda juga bisa melakukan perawatan rambut, dengan minyak cem-ceman misalnya. Aroma cem-ceman juga segar dan kepala terasa dingin. Kalau punya waktu agak luang, pijat saja tubuh dengan minyak cendana atau zaitun.

            Manfaat relaksasi inilah yang paling saya cari dari merawat tubuh. Apalagi kalau tidak punya waktu dari pagi sampai larut malam. Tubuh dan pikiran yang lelah terkadang tidak bisa terobati sekedar dengan tidur. Cara mudah dan murah ini pun jadi pilihan. Manfaat ganda yang saya rasakan ini, akhirnya membuat teman sekamar saya yang tidak peduli pada kondisi kulitnya, jadi ikut-ikutan. “Mbak, ternyata dandan itu bukan untuk menarik lawan jenis ya. Tapi bikin kita jadi senang.” Itulah intinya saudari-saudariku. Dengan memanjakan diri, walau sebentar, dapat merubah mood yang lagi buruk menjadi bersemangat. Akhirnya, kita pun jadi percaya diri untuk menghadapi banyak orang. Perasaan senang dan bersemangat inilah yang nantinya akan menimbulkan aura positif dalam beraktifitas.

            Di sisi lain memang ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu untuk tidak berdandan secara berlebihan. Berdandanlah seperlunya, yaitu, sesuai dengan kebutuhan. Kalau mau memberi warna pada wajah dengan blush on, lipstick, atau eye shadow, gunakanlah warna yang serasi dengan pakaian dan kulit, dan jangan terlalu tebal. Sebaiknya pemulasan harus disesuaikan dengan bentuk wajah. Karena tema kali ini aktivis perempuan, pewarnaan wajah tidak terlalu dibutuhkan, walaupun juga dapat dilakukan. Cukup dengan menjaga wajah agar tetap segar dan tidak kusam. Hal ini dapat dilakukan dengan memakai pelembab bibir dan alas bedak yang ringan, jangan sampai Anda merasa tidak nyaman dengan bahan make up yang digunakan. Lebih bagus lagi kalau ditambah sunscreen atau sunblock. Kalau Anda merasa wajah cepat kusam atau lelah, sediakan face cleanser two in one, kapas, dan bedak di dalam tas. Kalau mau yang ringkas, sediakan saja face spray atau tisu basah.  

            Semua itu adalah cara untuk mempertahankan semangat bekerja. Namun, akan percuma jika tanpa peningkatan kemampuan dalam organisasi yang digeluti. Nah. Aktivis perempuan, cara mudah relaksasi ini dapat dilakukan di rumah, bahkan tidak mempengaruhi budget belanja bulanan. Mudah kan, selamat mencoba. Awali hari dengan semangat!   

 

*Tips ini sudah dicoba sebelumnya. No animal tested. No hydrocinon and mercuri. Water base till 100% (emang ingridient?).

He…he, artikel ini terinspirasi dari “pandangan alergi” beberapa kawan perempuan dengan make up.    

Bangsa tanpa Identitas

Menggali kultur lokal pada masing-masing daerah agaknya menjadi sangat sulit bagi orang Indonesia dewasa ini. Pasalnya, pola pikir yang disebut modern, kekotaan, atau yang juga disebut gaul adalah yang Jakarta minded. Padahal, masyarakat asli Jakarta sendiri sudah tersingkir dari kehidupan ibu kota. Lalu mengapa kita berkiblat pada tempat yang tidak mampu mempertahankan identitasnya? Tentu saja ini merupakan agenda politik.

Seperti bom waktu yang bisa saja meledak setiap detiknya. Saat ini kita merasakan panasnya tapi tidak mau menyentuh ke sumber percikan itu. Bom itu akan meledak dalam bentuk disintegrasi yang indikasinya sudah dapat kita rasakan saat ini.

Kerusuhan atas nama etnis dan ideologi merebak di beberapa daerah di Indonesia. Semua ini membuat kita kembali mempertanyakan tentang semboyan yang diajarkan oleh ibu dan bapak guru kita dahulu ’berbeda tapi tetap satu jua’. Kenyataannya semboyan persatuan itu tidak diimplementasikan secara proporsional. Masyarakat Indonesia dicuci otaknya atas nama persatuan. Tentu kita pernah mendengar ungkapan bahwa yang ada di Indonesia ini bukanlah ’persatuan’ melainkan ’persatean’.

Agaknya kita harus mempertanyakan kembali, apakah yang namanya bersatu harus mengikis kearifan lokal kemudian berkiblat pada ibu kota? Mengapa harus ada nasi untuk makanan nasional Indonesia? Padahal di tiap daerah punya makanan daerahnya masing-masing? Kenapa ke Jakarta lebih membanggakan daripada ke Manado atau Ambon? Kenapa untuk menjadi keren, banyak anak muda Indonesia yang menggunakan ’loe’ atau ’gue’ daripada bahasa daerah atau Indonesia yang benar? Kalau ini yang namanya persatuan, berarti jarum pada bom waktu itu sudah bergerak mendekati angka nol.

 

Ledakan Itu….

Banyak terjadi perlawanan dari masyarakat terhadap pemerintah. Saat ini banyak kita saksikan orang-orang yang menyuarakan demokrasi, tapi itu semuanya hanyalah jargon. Demokrasi yang tidak terkontrol ini akhirnya tidak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat melainkan menghambat kerja pemerintah dan jalannya perbaikan.

Kondisi ini dapat diartiakn sebuah kewajaran. Saat Orde Baru menguasai negeri ini, identitas lokal dikikis demi sebuah kekuasaan. Tidak hanya dalam praktek politik atau pengambilan kebijakan, segi ekonomi dan budaya juga menjadi sasaran sentralisasi. Akibatnya, rakyat Indonesia menjadi jauh dari realitas sekitarnya. Bahkan hingga saat ini, pencarian jati diri masih dilakukan.

Euforia demokrasi merebak dimana-mana. Alih-alih mengontrol kebijakan untuk perdamaian, malah bikin kerusuhan. Rakyat yang tidak puas dengan kinerja penguasa dari periode ke periode berlomba memunculkan kiblat baru. Dari yang berasaskan agama, sampai yang agnostik. Salah? Tidak ada yang salah untuk orang yang belajar. Parah? Tentu saja. Sudah enam puluh dua tahun merdeka masih mencari identitas.

 

 

« Entri lama