Dyahikhsanti’s Weblog











{Januari 30, 2012}   The Junkyard

I’m out of what you called useful

A piece of place you never want to be there

 

Alone in my space

Taking the bliss you waste

The sun sets and rises clearly above me

You’ve lost it

I got it

 

That is how it works

I’m taking the power of sorrow

I turn sadness into the sand

Until one day u will miss what you’ve thrown

 

I’m here

Never been anywhere but here

You got me

I’m always here

 

You know how to find me

=====================================================

November 15th 2011

17:45

 



{Januari 27, 2012}   Besties

I start a new  shit. I promised to myself to write about what I saw along the way to work and to the mall.

Besties. That what came up first in my mind, so beautiful.

This morning I don’t feel really well. Feels like I screw up my throat in my sleep. I woke up with this terrible throat, but I got things to do at the office. So I decided to go.

After walking couple meters  and cursing my throat, my bad mood swings into something, heartwarming I can say. I see some kids run through me, they are laughing. And behind them there are other kids that just walk and talk to each other.  It is cool to have people with you on the way home. They just think about what happen to them yesterday and today, when thing get tough friendship turns out into clash. But who gives a shit to the bad future. I was in their shoes, when all I knew was I got someone. When it came the time I have to face it alone, it was kinda frustrated, but I survived. My heart wishpers, ‘they will learn’.

 

I turned left, following the short cut to the main road. And a group of boys are talking so loud. “It’s ok! Just come in!” well, group of boys always reaminds me of partner in crime. They talk about having something, sound like they want a certain cards. So, today’s kids still collect  cards?

 

Finally I reach the gate to the main road. My throat hurts and I feel a bit sleepy, but I have to work to pay the bills. Two girls sit on a bank under the gate. One of them talks a bit loud so I can, somehow, hear her. She talks, I keep walking, I pass them  by. After a while I still hear the same voice. Ow, so the girl talks about her problem and her friend listen to her without interruption. Two thumbs up for the listener.  Lucky girl, she got somene listens to her. I remember one of my friend said to me, “I like to talk to you. You never give advice but you listen. And it is relieving. “  Good,  I have younger generation of listeners. Being listener is sometimes suckes. You have to hold the emotion, because even your conversation partner say something stupid you have to listen to controll the situation. And what more important is, listening makes your friend feels better.

 

Different day…………..

I have to buy my dvd device and find someone to repair my shoes.  I went to a traditional market near my area. It is a sunny day, but yet crowded. The smoke of burning gasoline and the sound of those vehicle, make this open area feels so small. People talk to each other, offering service or their selling things.

There it is. I am glad I find a man with a box and dozen of shoes soles.

“Excuse me sir, can you sew the soles around?”

“You got two pairs?” He opens up my bag carrier. He finds I tore my shoes right at the front side.

“Yes, how much?

“30 thousands” usualy I will bargain, but it’s too hot. I don’t want to stay longer.

“ok.” I think of waiting him finish the work, but this place just too crowded. The sounds of  all the things here blend into one. But this is the place where the people run their economy activity.

“Sir, what time it is closed?

“Eight P.M.. Are you going somewhere?”

“Yes, I’ll be back to take the shoes. Do I need to bring a bill note or something?”

“No. just came back to take the shoes.” This place is so Indonesia. I trust him and likewise.

“Oh. Ok. Thank you”

 

I walk a bit faster. We got a junction at the front of the market, and no police stays there. So the vehicles just run all the way they want. If you don’t fast, you’ll get hit, or at least cursed. The push the honks everytime they want. This place is fucked up. I stand on said of the road, we don’t have sidewalk or bus stop. Creepy , because actually I am standing on the part of the road. Some sellers use side walk to sell to sell their things, so we get use to walk or stand on the side part of the road. If a car or bus hit you, somehow, you can’t blame them. Because you are standing on the road. In indonesia, you can stop the public transportations anywhere you want, we don’t need bus stops. Eeven the busses never really stop when you jump in, so maybe that’s why we don’t need any bus stop, except for the a special bus called busway.

Next to me, there is a guy sells cold drink. Two boys stop and buy some drink. I see them bring a durian in a bag. They look verry excited about the stink fruit. Regardless durian is not my favorite, I can see they are bestfriends. Sometimes we plan something simple with our friends like cooking  ramen, or buying some fruits, not a big deal but awesome. Because after that you can say, mission acomplished and you have a good time with the simple thing you got.  I see something beautiful. I do not reallize I stare at them. Well, you guys will appreciate this time when you are older. When it is not only about fruits or toys, you can hardly notice who is your friend.

 

Good, the red small bus. I jump in, fortunatly I find a seat. I look out the window so I can see the market once again. Friendship, something that I will appreciate for my life.



Akhir-akhir ini, sekitar dua bulan belakang, saya sering sekali nonton video dari para artis Youtube. Mereka bukan artis maistream yang memiliki sponsor dari Production House ternama, mereka membuat film indie, dan menciptakan lagu-lagu yang dijual dengan label mereka sendiri. Bahkan yang menjadi pelanggan mereka, saya yakin, lebih banyak dari pada para artis Hollywood atau penyanyi tenar dunia lainnya. Ryan Higa contohnya, yang punya lebih dari empat juta pelanggan.

 

Ada hal baru yang kreatif dan segar dalam video keseharian mereka. Kalau dari segi fisik mereka tidak setampan Jason Statham, atau seimut para penyanyi K-Pop. Namun mereka adalah seniman yang muda yang tidak membosankan. Tidak membosankan karena mereka mengerjakan karya mereka tanpa tekanan. Kebanyakan produksi dilakukan dengan melibatkan teman-teman atau anggota keluarga. Seperti Kevin Wu yang banyak membuat video kesehariannya bersama ayahnya. Jadilah Mr. Wu, yang terkenal dengan sebutan Papa Jumba, memiliki basis penggemar di Facebook.  Menjadi selebritis Youtube tentu memiliki keuntungan tersendiri, yaitu mereka tidak perlu repot dengan paparazi, karena tidak ada media yang membeli cerita tentang kehidupan pribadi mereka.

 

Karena kealamiahannya, tayangan Youtube ini jadi menarik. Mereka memang bukan para aktor hebat, tapi cukup menghibur. Mereka tidak peduli dengan citra atau sikap, karena mereka tidak terikat pada label tertentu. Dengan menjadi bagian dari industri independen, mereka bisa bebas mengekspresikan diri.  Tayangan yang banyak saya lihat merupakan tayangan komedi dan musik. Benar-benar menghibur dan karya mereka adalah karya yang jujur. Jujur karena apa yang mereka sampaikan memang benar terjadi disekitar kita, walaupun dibawakan dengan gaya yang kocak.

 

Anak-anak ini memang menghasilkan banyak uang dengan menghasilkan jutaan orang yang melihat video mereka. Kebanyakan mereka memang pelawak. Mereka membuat video lucu tentang kesehariannya, atau membuat video parody. Bahkan mereka juga menjual beberapa single lagu di Itunes. Mereka juga menjadikan chanel mereka sebagai alat donasi, seperti JumbaFund dan The Supply. Makin banyak yang menyaksikan video mereka, makin banyak pulan uang yang dapat mereka sumbangkan. Contuhnya The Supply yang mendapatkan 500 Dolar Amerika dari donatur jika video mereka mencapai angka dua puluh ribu pemirsa, dan saat ini The Supply sudah menghasilkan lima ribu dolar Amerika untuk pembangunan sekolah di Kenya. Sedang JumbaFund sendiri telah menghasilkan lebih dari seribu dolar Amerika untuk disumbangkan ke Kenya.

 

Perkembangan internet pada sisi yang satu ini, terus terang sangat menguntungkan. Karena sebagai seorang penikmat karya seni, saya tidak harus ke bioskop untuk terhibur, Cukup di rumah, menyaksikan ulah para pelawak ini, sekaligus bisa berpartisipasi untuk kegiatan amal.

 

Bagi teman-teman yang ingin menikmati hiburan indie yang berkualitas, namun tetap dekat dengan keseharian kita, silahkan mengunjungi kanal KevJumba, JumbaFund, NigaHiga, Higa TV, atau kanal lainnya yang bisa kalian temukan di Youtube. Bagi mereka yang menyukai kegilaan unik bisa menginjungi kanal Fred atau Smosh. Dan bagi pecinta musik, ada KinaGrannis, Victorking, ChesterSee, DavidChoi, ChatyNguyen, dan banyak yang lainnya. Bagi yang menyukai fashion bisa mengunjungi kanal MichelePhan. Dan banyak kanal-kanal lain memang yang belum saya jelajahi.

Selamat menikmati santai bersama Youtubers….



Saya baru saja selesai membaca novel karya Sinta Yudisia “Takhta Awan”. Novel ini merupaka seri kedua dari trilogi “The Road to Empire”, mengisahkan tentang salah satu generasi keturunan Khubilai Khan, Sang penguasa Mongolia.

Banyak sekali pelajaran yang saya petik dari novel ini. Memang, secara cerita novel ini bukan pemuas bagi mereka yang berharap akan cerita aksi peperangan. Setiap bab menceritakan masing-masing tokoh yang berperan penting dalam sebuah gerakan besar. Sinta lebih banyak menjabarkan tentang bagaimana taktik dan konspirasi disusun untuk menuju agenda besar, atau mempertahankan agenda besar. Mempertaruhkan seorang kaisar demi sebuah cita-cita.

Pelajaran yang banyak saya petik dari buah pemikiran para tokoh cerita dalam novel ini adalah, bahwa agenda besar yang akan membesarka seseorang. Seorang penguasa selalim apapun, akan memikirkan lebih dari dirinya sendiri. Dia akan memikirkan bagaimana menjaga kepercayaan orang-orang disekitarnya, mencari orang yang memiliki agenda sama dengannya, bahkan tidak jarang ia mengorbankan orang yang dicintai dan dirinya sendiri untuk tujuan tertentu.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari novel ini.

Kepentingan Bersama dalam Membangun Negara

Semua orang, bahkan saat ia merupakan bagian dari sebuah kelompok, pasti memiliki keinginan dan tujuannya sendiri. Memunculkan sebuah konflik yang mengharuskan orang lain mengenyampingkan kepentingan pribadi bukan perkara mudah. Seorang penguasa seperti Khubilai Khan, dalam novel ini digambarkan memiliki watak sama dengan keturunannya Arghun Khan, membangun pemerintahan bagi para pengelana. Ia mewacanakan Mongolia sebagai bangsa yang berkuda, menginginkan kebebasan dan berteman dengan alam. Namun dengan cara itulah ia mendapat kesetiaan dari para suku pengelana.

Dengan mempertontonkan kekuasaannya ia memperoleh ketundukan dari berbagai suku di Mongolia yang memang menyukai peperangan. Ekspansi, menjadi kepentingan bersama yang mebuat para pengelana duduk dan bersatu dalam sebuah rapat dewan. Merencanakan dan menyusun strategi untuk mendapat daerah taklukan baru. Bisa dimaklumi, saat negara aman, akan sulit memperoleh kesetiaan rakyat jika tidak memiliki agenda besar yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Takudar Khan, seorang kaisar muslim Mongolia yang banyak mendapat pengaruh pemikiran Persia dan Cina menjadikan pendidikan dan pertanian sebagai agenda besar. “Kalau bisa merampas, untuk apa mengusahakan sendiri”, begitulah salah satu petikan kalimat dalam novel ini. Gambaran suku-suku di Mongolia yang mengukur kekuatan dan kehormatan lewat penaklukan bukan masalah kecil bagi kaisar muda seperti Takudar Khan. Ditambah keyakinannya yang berbeda dari kebanyakan orang Mongolia. Akhirnya, ia pun tersingkir dengan cepat dari singgasana karena pemahamannya akan peradaban dimaknai kelemahan bagi banyak orang, usahanya merapikan administrasi dan kekayaan negara dianggap keinginan campur tangan atas harta pribadi para pejabat. Ya, sosok Takudar yang digambarkan tegas dan sederhana mengingatkan saya pada kisah Kong Fu Tze (Confusius) dari Cina. Beliau tersingkir dari jabatannya di pemerintahan karena para bangsawan yang menginginkan keutungan pribadi yang berlipat. Ia menetapkan hukum yang bersebrangan dengan kebiasaan para bangsawan.

Kepentingan bersama yang coba diagendakan sebuah pemerintahan tidak akan berguna jika mengenyampingkan kebiasaan dan kultur masyarakatnya. Ada sebuah pemahaman yang saya insyafi, bahwa kebijakan yang aneh sekalipun datang dari pemikiran untuk sebuah tujuan besar. Mustahil keinginan pribadi dapat mengejawantah dalam bentuk undang-undang. Namun, itulah pemimpinnya, bagaimana orang disekitarnya. “High Man” bagi Nicky Minaj seperti nafas yang mengiringi pertunjukannya. Begitupula orang yang menjadi tangan kanan penguasa. Ia harus memilih, namun kerumitan dalam situasi Arghun Khan, ia pada akhirnya yang dipilih oleh tangan kanannya. Kepalang basah berada di takhta, akhirnya ia harus terus bergerak menjalankan pemerintahan yang diisi oelha orang-orang yang tidak bisa dia percaya sepenuhnya. Cerita makin menarik walau berjalan lambat, membuat saya penasaran, bukan pada akhir ceritanya melainkan pada ‘apa yang mereka pikirkan selanjutnya’. Setiap saat langkah diambil, situasi berubah, lalu tindakan apa yang diambil pihak lawan.

Saya akui Sinta Yudisia membeberkan isi kepala dan hati mereka dengan apik. Sehingga konflik dalam novel ini lebih saya rasakan bersifat psikologis. Pertarungan para pendekar, kematian, semuanya hanyalah letupan kecil dari sati agenda besar yang diatasnamakan kepentingan bersama.

Keharusan Belajar dari Pengalaman

Saat membaca novel ini, saya seperti membuka lembar pemikiran baru. Baru bukan berarti asng sama sekali. Saya banyak mengalami kesulitan dan kemudahan, sama seperti orang lain. Namun novel ini memberi cara pandang baru atas apa yang pernah saya hadapi. Kematangan, saya memang jauh dari sifat matang, begitupun yang difahami banyak tokoh dalam novel ini. Mereka menghadapi perang, konspirasi politik yang tidak sederhana, namun mereka sadar bahwa mereka jauh dari sempurna. Makin mereka menarik pelajaran dari setiap peristiwa, makin mereka merasa harus kembali mengukur kekuatan sendiri.

Baik Arghun maupun Takudar, dalam novel ini digambarkan sebagai dua tokoh yang bertolak belakang. Namun keduanya tidak lantas berleha-leha saat keinginan sudah ditangan. Kebiasaan untuk terus belajar dan tidak berhenti pada satu titik kesuksesan membuat mereka terus meraih kesetiaan pengikutnya. Bahkan saat Arghun akhirnya masuk penjara atau saat Takudar menjadi buronan negara. Kedua kaisar muda ini selalu mencari langkah untuk membangun apa yang sudah mereka tanamkan sebagai fondasi kehidupan bernegara. Mereka mengevaluasi lalu berhitung langkah. Belajar dari musuh terbesar untuk menjadi lebih baik. Bahkan tokoh Arghun Khan yang kejam pun membuat saya kagum akan ketekunannya memikirkan apa yang ada disekitarnya, keberanian mengambil langkah, dan keberanian mengambil resiko. Mereka belajar dari pengalaman untuk memilih siapa yang mendapat kepercayaan seratus persen, setengahnya, atau tidak sama sekali. Serta mereka belajar bagaimana mendudukan orang yang tidak bisa dipercaya sama sekali demi kepentingan keutuhan negara.

Bahkan tokoh-tokoh pendukung seperti pelayan Almamuchi, Rasyidudin pendekar dari Syabz, dan tokoh pendukung lain merupakan daya tarik tersendiri. Bukan kisah mereka akhirnya bagaimana yang ditunggu, tapi langkah apa, pelajaran apa yang mereka ambil. Pengalaman terpahit sekalipun membesarkan pikiran dan melapangkan hati mereka untuk menjadi lebih hebat.

 

 

Tokoh Rasyidudin pendekar dan guru dari Syabz, merupakan tokoh faforit saya dalam novel ini, selain Inalchuk, si pelatih tentara bayaran. Mereka memiliki sifat yang mirip, hanya saja Inalchuk tidak memilih untuk terlibat dalam urusan pemerintahan, sedang Rasyiduin memilih untuk menjadi pelindung Takudar setelah lama berpisah. Inalchuk dalah tokoh yang tidak tergesa-gesa. Ia tidak mudah tergiur dengan tawaran kekuasaan. Buka karena ia orang suci, namun karena ia sudah berhitung resiko. Bukan resiko untuk dirinya sendiri, tapi resiko bagi Mongolia. Ia tidak sejalan dengan penguasa, tapi ia tidak lantas mengkudeta. Ia mengakui Takudar bukan orang yang pantas menyandang nama klan Khan, karena dia bukan raja penakluk, tapi apa yang salah kalau rakyat sejahtera dan kehidupan bernegara tertata dengan baik. Tokoh ini mengingatkan saya pada sifat fanatik yang masih kental pada masyrakat kita. Fanatik terhadap tokoh agama ataupun tokoh-tokoh lainnya. Membuat mereka memaknai segala sesuatu secara mentah dan bertindak gegabah. Cerita Inalchuk juga mengajarkan kebesaran hati untuk mengakui bahwa orang yang tidak kita suka itu memang hebat. Sesuatu yang sulit dilakukan, tapi kita harus belajar agar tidak jatuh ke lembah fanatisme buta.

Karakter Rasyidudin digambarkan sebagai pendekar dan guru agama yang saleh. Makin menarik saat penceritaan tokoh ini digambarkan sempurna sebagai manusia. Sempurna sebagai manusia karena ia digambarkan bisa marah, sedih, bingung, juga bertindak cerdas dan bijaksana. Posisinya sebagai pemimpin ekspedisi pencarian kaisar yang terlempar membuat tokoh ini memeiliki peranan penting dalam cerita. Karena ialah yang mengumpulkan semua kekuatan dan persiapan jauh sebelum penggulingan kekaisaran dijalankan. Ketenangan Mongolia saat Takudar naik takhta tidak membuatnya lengah akan bahaya yang mengintai. Memang pada awalnya bukan bahaya kudeta yang ia perkirakan, melainkan bahaya melemahnya kaisar dalam mempertahankan tujuan mulia menjadikan Mongolia memiliki peradaban yang tinggi seperti Cina dan Persia. Kisah Rasyidudin mengajarkan saya untuk tidak terjebak dalam posisi aman.  Karena berada dalam posisi aman seringkali membuat  seseorang tidak menyadari bahaya disekitarnya.

Di banyak sisi tokoh Rasyidudin menampar psikologis saya sebagai pembaca. Karena saat ini, saya akui saya merasakan apa yang dinamakan sebagai zona aman. Saat berada di zona ini, orang biasanya lupa bahwa hidup lebih dari sekedar dirinya sendiri. Begitulah seharusnya manusia memahami posisi sebagai makhluk sosial. Tindakan dan perbuatan tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri melainkan lingkungan dan orang sekitar.

Novel ini memang tidak diperuntukan bagi mereka yang mementingkan aksi dan cerita beralur cepat. Menyelami pemikiran dan kondisi kejiwaan tokoh-tokoh didalamnya memang membosankan kalau yang dicari adalah ketegangan dalam cerita. Novel ini menarik bagi saya karena terkadang saya merasa disadarkan dan disindir dengan pemikiran para tokohnya . Mata saya terbuka lebar untuk memaknai apa yang saya lihat lebih dalam.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi mereka yang ingin belajar kepemimpinan. Memang buku ini tidak secara gamblang mengajarkan bagaimana menggerakan pendukung disekitar kita, namun ceritanya akan membuat kita berfikir tentang apa yang terjadi disekitar kita, dan bagaimana mengilhami bahwa siapapun yang berada disekeliling kita membawa kepentingannya masing-masing.



{Oktober 31, 2011}   Bukan Hanya Papa dan Ayah

Saat itu Lina melepas pandangannya di angkasa. Ia merasakan nyeri yang sekuat tenaga ia redam. Perlakuan kawan-kawannya di sekolah memang sudah keterlaluan. Bukan salah dia untuk tidak mengenal orang tua kandungnya. Dan juga bukan salah dia kalau akhirnya dia hanya punya ayah. Ya, dua ayah sekaligus yang merawat dan memberi kasih sayang selayaknya orang tua ‘normal’ lainnya.

Lina menatap hampa pada kumpulan awan yang berarak menujun selatan. Tingkah burung yang terbang membentuk anak panah menghidupkan langit biru yang sepi.

“Lina! Makan dulu sayang.”

“Ya Ayah!”

Papa dan Ayah. Begitulah Lina memanggil untuk membedakan keduanya. Papa adalah orang yang berwibawa. Ia duduk di ujung meja dan ayah adalah lelaki lembut yang penuh perhatian. Ayah duduk tepat berhadapan dengan Lina.

“Lina, akhir-akhir ini kamu sering sekali duduk sendirian di halaman belakang. Kamu tidak ingin bermain denga teman-temanmu yang lain?” Papa membuka suara.

“Tidak Papa. Aku hanya ingin berfikir sambil menulis buku harian. Ada dua buku yang ingin aku habiskan sebelum libur bulan depan.” Lina masih dapat menyembunyikan alasan sebenarnya.

“Kamu sedang mengerjakan proyek? Apa kamu mau menulis blog atau buku? Ayo cerita. Mungkin kami bisa bantu.” Ayah terlalu sensitif untuk ditipu.

“Oh, tidak. Cuma iseng.”  Lina menyodorkan piringnya pada Ayah. “Aku mau sayurnya”. Ayah meraih piring dari tangan Lina dan menyiduk sayur.

Lina bisa melihat Ayah menyinggungkan senyumnya, ia pun sadar bagaimana mereka dengan susah payah membuat Lina mau makan sayuran. Sampai akhirnya Ayah menemukan bahwa Lina suka sayur yang ditumis setengah matang.

“Ini sayang.” Ayah menyodorkan piring pada Lina.

“Maksih.”

“Lina, bagaimana sekolahnya? Kegiatan apa yang kamu suka?”

“Lina gak begitu suka sama teman-teman. Mereka suka gosip. Dan yang laki-laki Cuma suka main. Tidak ada yang menarik di sekolah.”

“Sayang, kalau ada yang ingin kamu ceritakan. Omongkan saja, Papa dan Ayah selalu disini untuk kamu.”

“Ya. Pasti” Lina sadar bahwa Ayah dapat membaca kegugupan gerak-geriknya saat ditanya soal sekolah.  Dia bukan orang yang pemilih dalam berteman, tapi memang tidak ada yang ingin berteman dengannya.

 

“Lina, Anak dari Dua Ayah”

Sebuah artikel terpampang di majalah dinding sekolah. Dan artikel itu adalah headline untuk minggu ini. Dari judulnya, dapat dipastikan hampir seluruh penghuni sekolah akan tertarik dan memberi banyak tanggapan. Namun apakah ada yang sadar kalau daiantara ratusan pembaca artikel itu, ada satu orang yag merasa terganggu.

Saat Lina melangkahkan kaki ke kelasnya, seluruh mata tertuju padanya. Para siswa berbisik satu sama lain sambil menutupi mulut mereka, dan mata mereka tetap menancap pada sosok Lina.

Lina mecoba menahan emosinya dan duduk ditempat duduknya. Ketukan sol sepatu Ibu Hana mengeheningkan kelas. Serentak semua murid berdiri dan memberi salam bersama-sama. Ibu Hana adalah guru Bahasa Inggris yang paling disiplin. Lina paling menunggu pelajaran ini, karena hanya dialah yang tidak pernah menjadikan keluarganya untuk contoh dan candaan di kelas.

“Sekarang kita akan belajar tentang “respond”. Jika seseorang berpendapat tentang sesuatu dan kita menanggapi, makan akan terjadi sebuah percakapan. Karena itu, ibu ingin kalian belajar menanggapi. Menanggapi pertanyaan atau pendapat adalah kemampuan yang harus dilatih dalam sebuah percakapan. Bagaimana kalian menanggapi, kata, tata bahasa, sampai isyarat tubuh. “

“Lina!” Lina mendongak saat namanya disebut.

“Maju Nak. Kita belajar menanggapi.” Lina bangkit dari kursinya ke depan kelas. Di depan kawan-kawan sekelasnya yang menatap nya dengan tatapan meremehkan. Ia berdiri menatap seluruh murid di kelas, sambil menunggu perintah Bu Hana selanjutnya.

“Berkomunikasi artinya ada yang melontarkan ide dan ada yang menanggapi. Kalau seseorang hanya berbicara sendiri tanpa peduli pembicaraannya ditanggapi atau tidak, itu artinya dia tidak berkomunikasi dengan orang lain. Ada yang mau bertanya atau kasih pendapat untuk Lina, supaya dia bisa menanggapi.”

Semua murid terdiam. Mereka paham apa yang dimaksud oleh Bu Hana.

Bu Hana menghela nafas, ia melanjutkan. “Artikel yang jadi topik utama di mading. Semua pasti sudah tahu. Dan sebelum artikel itu ada, kita juga sudah tahu apa yang terjadi disekitar kita. Banyak orang yang menganggap dirinya benar, malah mengumpat orang lain dibelakang. Itu artinya dia salah.” Bu Hana menatap mata muridnya satu persatu, lalu mengalihkan pandangannya pada Lina.  “Lina, selama ini orang-orang hanya mendengar suara mereka sendiri dan bangga jadi pengecut dibelakang kamu. Ada yang ingin kamu tanggapi tentang artikel di mading?”.

Lina menarik nafas dalam, kelebat wajah Ayah dan Papa melintas di benaknya. Mereka adalah orang tua yang baik. Lina tidak peduli apakah mereka pasangan yang baik, tapi mereka orang tua yang baik. Pasti banyak perempuan yang memimpikan punya suami seperti mereka.

“Tanggapan saya tentang artikel di Mading. Maaf kalau gramar saya tidak bagus. Saya tidak malu dengan kondisi keluarga saya. Mereka orang tua saya dan kami saling menyayangi karena kami keluarga. Dan saya betah di rumah karena mereka orang tua yang baik. Saya menerima mereka, karena kalau tidak pasti saya sudah bunuh diri sejak lama.”

Otak-otak muda yang mendengarkan hal ini tentu harus berfikir ekstra untuk bisa mengerti apa yang disampaikan Lina. Anatara doktrin norma orang tua dan rasa toleransi yang memang sejatinya merambat dalam hati mereka.

Bu Hana menangkap kebingungan itu. Ia tidak buta untuk melihat bahwa sehari-hari Lina berdiam di perpustakaan karena tidak ada yang ingin berteman dengannya. Juga ejekan-ejekan yang terlontar dari hampir seluruh siswa di sekolah ini. Bahka, para guru pun bergunjing dan mengejeknya dengan cara menajdikan keluarganya sebagai contoh buruk di kelas.

“Setuju dan tidak setuju itu adalah hak kalian. Yang menjadi kewajiban kalian adalah menanggapi dengan cara yang benar. “ Bu Hana menoleh kearah Lina dan menyuruhnya duduk.

“Sekarang ambil pena dan buku tugas kalian. Tulis dua paragraf dengan tema  “Senadainya orang tua saya adalah Ayah dan Ayah atau Ibu dan Ibu”, silahkan dipilih mana yang kalian suka. Kita akan pilih dua tulisan dan semua murid akan menanggapi tulisan itu.”

Bu Hana menghela nafas dalam, “ anak-anakku, penindasan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan diri pada posisi pihak yang tertindas.”

 



{Oktober 20, 2011}   Akhir-Akhir Ini

Satu lagi tulisan sampah yang aka saya tampilkan, selamat menikmati.

 

Saya mengakui akhir-akhir ini sering melihat video kreatif. Tentang dekorasi kue sampai pembuatan klip musik. Ada suara-suara di alam bawah sadar yang mendorong saya untuk merangkak ke ranah kreatif lagi. Saya merindukan bagaimana asyiknya saat kita bisa melihat sesuatu dalam pandangan yang berbeda, berfikir diluar kewajaran. Menciptakan makhluk-makhluk dan bentuk aneh yang hanya muncul dalam khayalan, juga memikirkan detil pembuatan sesuatu.

Saat ini saya memang berada dalam era kejatuhan, dimana saya tidak merasakan lagi apa yang namanya ‘writer’s block’ karena tulisan yang saya hasilkan akhir-akhir ini memang bisa dibilang kontemplasi sendiri. Saya tidak memikirkan diksi dan apakah orang akan menerima tulisan-tulisan ini. Saat saya merasakan ada penghalang ketika saya berkarya, itu karena saya memiliki konsep. Layaknya kerangka dalam tubuh manusia, dan ketika proses pembuatan karya itu terjadi, terkadang konsentrasi teralihkan. Dan saat kembali lagi ke titik semula, halangan itu muncul. Seperti tidak tahu apa lagi yang mau ditulis, padahal semuanya sudah ada dalam konsep awal.

Saya tidak mengalami rintangan seperti itu lagi, karena saya tidak serius dalam melakukan proses kreatif saya. Saya tidak menggunakan kerangka atau konsep. Sehingga tulisan dan karya lain yang saya kerjakan setengah-setengah dan tidak sistematis.

Tapi itulah asyiknya saat kita memang ingin melakukan sesuatu lebih dari sekedar ingin diterima. Kita melakukannya untuk bersenang-senang. Tidak ada alasan bagi seorang karyawan seperti saya untuk tidak bersenang-senang dan berantakan.

Dengan video di Youtube yang makin membuat saya sadar bahwa berkarya itu menyenangkan, saya ingin berpesan pada Anda semua. Bersenang-senanglah dengan karya kalian.

 



{Oktober 14, 2011}   Menggali Kuburan Leluhur

Saya mulai untuk berfikir lagi tentang mutiara-mutiara kebijaksanaan yang sering dicampakkan. Ungkapan jati diri yang sering digemakan para aktivis dan pemikir, adalah jati diri berupa kefanatisan. Kefanatisan akan pemikiran dan adab yang bukan merupakan buah rahim dari tanah Indonesia. Lagi pula pertanyaan tentang ‘jati diri’ itu perlu dilemparkan lagi ke muka si penanya. Jati diri yang seperti apa? Ada sekitar 350 suku bangsa di zamrud katulistiwa ini. Semuanya punya latar belakang dan proses pembentukan jati diri yang berbeda. Maksudnya yang mana?

saya yakin pertanyaan ini membuat kita akhirnya melirik keluar. mengenyampingkan kemampuan berfikir mendalam dengan menenggak semua pemikiran dan ideologi dari negara lain yang kita anggap rasional. Beberapa teman saya bahkan menyebut diri mereka atheis, dan beberapa lain nya memilih jalur Islam Sosialis, dan lain-lain. Tentu saja saat bersama mereka, tidak banyak yang bisa saya bicarakan. Karena kebanyakan apa yang mereka sampaikan sudah pernah saya baca di buku, majalah, artikel di internet, atau diselebaran demonstrasi mahasiswa. Akhirnya, kalau diladeni malah jadi debat kusir, bukan bertukar pikiran.

Saat membaca tentang kerajaan-kerajaan di tanah Jawa, karena butuh waktu lama untuk bisa membaca satu kerajaan, saya menangkap bahwa pada dasarnya watak orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan watak manusia di negara lain pada saat ini. Hanya saja memang, keinginan untuk dihormati, dan diuntungkan menjadi watak dominan yang harus diubah.

Perubahan karakter sosial ini, tentu tidak lepas dari pengaruh bangsa Penjajah yang mendoktrin sedemikian rupa sehingga para orang tua kita percaya kalau mereka lemah. Budaya membaca makna yang mengharuskan manusia berfikir mendalam ditinggalkan, para anak bangsawan dan keturunan raja bertapa dan mati-matian mencari ilmu di dusun. Kecintaan akan sastra dan kebijaksanaan yang dibawa para Resi saat berada di medan perang membawa para panglima pada kemenangan. Sangat berbeda dengan apa yang kita lihat saat ini.

Saya yakin ada sebuah pengaruh luar, jauh sebelum negara ini dijajah, yang berakulturasi dengan pengaruh dari dalam watak keseharian di nusantara yang menjadikan bangsa ini mudah dibodohi dan merasa diri kerdil.  Hal ini diperparah dengan doktrin Belanda yang menganggap bangsa ini bodoh dan belum pantas merdeka.

Ada pengaruh yang entah dari mana asalnya membuat bangsa ini secara turun temurun mencari kebaikan diluar dan menjiplaknya, bukan mengembangkan atau mempelajari. Membuat bangsa ini secara turun temurun mengagumi keindahan di tempat lain sampai lupa menggali kecantikan diri sendiri. Melihat apa yang kita punya dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Saat ini peninggalan Belanda yang saya lihat adalah, pertanian Indonesia, rel kereta api, pandangan bahwa bangsa barat selalu lebih baik, dan wanita berkulit putih lebih cantik. Memang tidak bisa seluruh dosa kita timpakan pada bangsa penjajah dalam membentuk watak sosial kita saat ini. Ada satu akar dimana semua itu bermula dan belum kita temukan.

Saatnya kita melihat kebelakang sejenak dan mencari. Mencari mengapa kita seperti sekarang ini. Agar kesalahan turun temurun yang kita lakukan tidak dapat lagi sembunyi dibalik pembenaran “orang tua saya juga bagitu”. Juga agar tidak lagi kita memicingkan mata melihat bangsa sendiri dengan kepesimisan dan kebencian, karena sejatinya kita seperti sekarang ini pasti ada sejarahnya. Seandainya kita mengerti perjalanan panjang karakter sosial ini, pasti kita juga akan paham bahwa segala sesuatunya bisa berubah dengan menggunakan apa yang kita miliki.

Kenapa harus bepergian jauh, kalau sebenarnya kebijaksanaan itu terserak dibelakang kita. Kita merangkai kearifan dari para leluhur. Karena jati diri bukan sekedar Jaipong, Gamelan, Tari Tor-Tor, atau patung Asmat.

 



{Oktober 8, 2011}   Hitam Warna Harapan

Isi kepala kami menguap. Menjadikan awan-awan kecil putih yang menggelayut dalam kehampaan. Semua masih saja kerontang. Retak-Retak.

Kami butuh sesuatu yang membuat semua menjadi gelap dan hitam. Agar kami bisa mendengar gemuruh kekuatan harapan, serta melihat gagahnya halilintar.

Entah kapan kami berani menengadah. Bahagia saat melihat harapan kami menumpahkan segala keinginan dan menyiram jiwa yang kerontang.

Apakah langit masih ingin cerah?



 

Apa yang saya tulis memang hanya percikan-percikan ide yang datang tidak terduga. Muncul saat saya sedang nonton apa saja yang bisa ditonton, atau mendengar apa saja. Karena itu, jangan dianggap serius. Saya tidak akan menghiraukan kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar.

 

Saat liburan Ramadha dan Lebaran, saya dikunjungi oleh Ayah saya. Jangan ditanya, saya sangat senang. Beliau data jauh-jauh dari Papua untuk melihat anaknya ini. Kalau diingat-ingat, saya memang dekat dengan beliau namun ada dendam yang juga masih tersimpan. Selama bertahun-tahun saya menulis buku harian sebagai langkah terapi psikologis. Dan ‘Alhamdulillah’ sudah mulai terlihat perkembangan positif dalam diri saya. Baiklah, akan saya ceritakan sesuatu yang membuat semua anak butuh konseling, walaupun itu bentuknya adalah self healing, seperti yang saya lakukan dengan menulis.

 

Ruang lingkup yang akan saya ambil sebagai contoh adalah tipikal keluarga Indonesia, karena saya memang tidak pernah ke luar negeri kecuali untuk pipis di belakang tugu perbatasan Indonesia – PNG di Merauke, Papua.

Feodal

Saya bukan tipe orang yang akan menghormati orang lain hanya karena dia lebih tua, atau karena orang itu dituakan. Hal itu tentu saja dianggap kasar. Keharusan menghormati orang yang lebih tua memang merupakan hal yang baik, tapi menghormati bukan berarti menyembah. Pelajaran turun temurun yang didapat oleh para orang tua kita saat mereka masih kanak-kanak adalah ‘jadilah orang tua dan lahirkan para pemuja’.

Pelajaran itu pun dibawa, makanya jangan salahkan kalau banyak anak yang mencari tempat dimana mereka bisa didengar. Karena seringkali mereka merasa sia-sia untuk bicara pada orang tua. Bahkan untuk keputusan yang tidak masuk akal pun, anak-anak diharuskan mengamininya dengan alasan ‘namanya juga orang tua’.

Saat ini, memang sudah terjadi perubahan dalam pola pengasuhan anak yang cukup signifikan. Namun untuk keluarga di daerah pinggiran, atau di daerah yang masih memegang keyakinan dengan cara salah, feodalisme masih menjadi pola pengasuhan anak yang umum dilakukan.

Saya punya cerita dari seorang teman. Sahabatnya, dipaksa untuk berhenti kuliah karena Kyai di kampungnya menginginkan dia pulang. Katanya mengurusi pesantren disana. Akhirnya, anak itupun pulang dan membuang semua mimpinya untuk bebas dari daerah yang feodal itu.

Orang tua bukan Tuhan, jadi terbukalah untuk dikritik. Pemuka agama dan adat bukan Tuhan, jadi jangan dimakan mentah-mentah apa yang mereka katakan.

Orang tua tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Karena itulah setiap manusia memiliki otak dan hati yang berbeda. Dan karena itulah manusia harus belajar. Agar kelak ia bisa melihat dan merasakan apa yang baik untuknya, dan apa yang tidak.

 

Pura-Pura

Beberapa teman saya sering menceritakan kondisi keluarganya. Kepalsuan, itulah yang banyak saya temukan dari cerita-cerita mereka.

Banyak orang tua yang ingin terlihat bagus didepan orang lain, padahal dia seperti penjaga pintu neraka di rumahnya. Tidak heran jika kita menemukan anak seorang alim terjerumus dalam pergaulan yang merugikan dirinya dan masyarakat. Mungkin orang tuanya lupa kalau kesalihan tidak diturunkan lewat darah, tapi lewat pendidikan yang baik. Dari keluarga – keluarga yang dipimpin orang alim, banyak saya temukan kekerasan. Itulah yang akhirnya menjadikan anak mereka lebih keras dari orang tuanya. Seandainya saat saya melihat kejadian itu saya sudah punya pengetahuan tentang KDRT  seperti ini, pasti sudah saya laporkan ke polisi. Ya, saya masih ingat waktu perang mulut dengan keluarga saya saat saya tidak mau memakai kerudung. Karena bagi saya, memakai kerudung itu seperti masuk agama baru. Ada akibat sosial dan personal yang harus saya tanggung. Tapi sekarang saya sudah berkerudung dengan harapan semoga pilihan itu baik, setidaknya untuk diri saya sendiri.

Berpura-pura pada orang lain bahwa keluarga kita baik-baik saja menjadi beban bagi anak yang mendengarnya. Karena si anak yang dipaksa untuk merasa baik-baik saja ingin keluar dan bebas dari kepura-puraan. Contoh, orang tua yang pura-pura jadi ‘pasangan bahagia, dan sampai di rumah mereka saling membentak. Hasilnya, saya banyak melihat anak introvert  berasal dari keluarga macam ini. Mereka diam seolah-olah mereka baik-baik saja. Padahal mereka membawa trauma dari masa kecil mereka.

Ketua Yayasan

Banyak anak yang tetap berada didekat orang tuanya hanya karena alasan keuangan. Banyak orang tua yang suka mengancam anaknya dengan uang. Anak-anak seperti ini kemungkinan besar akan meninggalkan orang tua mereka saat mereka sudah bisa mandiri. Saya tidak sok tahu, karena saya adalah anak dan bergaul dengan anak-anak yang merasakan hal ini juga.

Mereka melihat orang tua tidak lebih dari ketua yayasan yang memberi makan dan keamanan fisik sampai akhirnya mereka mandiri. Citra ‘ketua yayasan’ ini biasanaya dilekatkan pada para ayah. Saat si ayah hanya ingin leha-leha di rumah dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak karena alasan capek bekerja cari uang, disitulah si ayah berubah jadi ketua yayasan tempat penampungan anak.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bagi untuk sama-sama kita belajar. Saat saya melontarka kritik tentang pola pengasuhan, banyak orang, terutama yang sudah menjadi orang tua, berkata “jadi orang tua tu susah, kamu kan belum pernah merasakan’. Satu balasan untuk orang-orang yang berkata seperti itu. “ EMANGNYA JADI ANAK GAK SUSAH?! APALAGI KALAU ORANG TUANYA KAYAK KALIAN”



{Juli 19, 2011}   Puisi 19 Juli 2011

19 Juli 2011

 

Merekahlah perlahan dari timur sana

Menyembul diantara kepulan awan

Semburat merah memudar saat langit terang benderang

Misteri baru pun dimulai

Ada yang menentukan jalannya

Ada yang memilih mengikuti nasib

Manusia yang bermandikan cahaya,

Turun ke jalan mengais sedikit harapan

Hingga surya kembali menutup diri

Dalam kegelapan, manusia ada yang tidur

Ada yang merancang harapan baru



dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.