New Mexico Residents Ask Governor to Ban Horse Slaughter

Reblogged from Straight from the Horse's Heart:

Click to visit the original post

Source: Wild Horse Observers Association

Open Letter to New Mexico Governor Martinez

Governor Martinez Office of the Governor
490 Old Santa Fe Room 400
Santa Fe, NM 87501 505-476-2200
Date: 3/25/2013

Re: Please Ban Horse Slaughter in New Mexico – Petition results (every 5000 report) Dear Governor Martinez,

I am writing to you on behalf of New Mexican Citizens Against Horse Slaughter and more than 5800 petition signers attached to ask that you to please sign an Executive Order to ban horse Slaughter in New Mexico.

Read more… 782 more words

animal killing practise for sport or amusment purposes should be stopped

GAYATRI (Bagian 1)

“GAYATRI!!!” seseorang meneriakan namaku. Aku tidak ingat bagaimana aku sampai disini. Di sebuah taman labirin, tapi semua penghalang terbuat dari dinding bata. “GAYATRI!!!” suara itu lagi. Nama itu terdengar asing, tapi itu adalah namaku. Aku memutar pandanganku, melihat sekeliling, mencari tahu dimana jalan keluar. “GAYATRI!!!”

Suara itu bagai memukul belakang kepalaku. Aku tiba-tiba terbangun, dan badanku gemetar. Aku memimpikan hal yang sama. Anehnya, aku tidak pernah bermimpi secara utuh, kemana taman labirin itu berujung. Aku bangun dan memperhatikan refleksi diriku di cermin. Cermin ini menangkap seluruh citraku sebagaimana benda-benda lain dalam jangkauan mata dibelakangku. Aku mencoba mengingat-ingat kapan pertama kali mimpi itu hadir. Setelah latihanku dengan Caitlyn? Ah,,,bukan, lalu kapan?

Pertama kali aku sadar akan spesiesku adalah saat pertama kali bertemu Caitlyn. Mimpi itu belum hadir, aku bahkan tidak bisa tidur setiap malam. Ingin rasanya memanggil Caitlyn kesini, tapi apakah benar jika aku harus mengganggunya lagi.

Hari ini aku harus kuliah lagi. Kutengok jam di dinding, masih ada lima belas menit waktu luang sebelum aku bersiap ke kampus. Aku memejamkan mataku, tangan ku kujulurkan menyentuh cermin. Aku mencoba memanggil kembali setiap memori yang sudah kulalui.

“Hey, Neng geulis. Mau kerak telor Neng?”

Aku membuka kembali mataku. Tidak disangka kejadian kecil itu yang menyebabkan mimpi aneh ini. Sekarang aku harus apa? Penjual kerak telor itu, dimana mencarinya. Dia bukan wanita yang terlalu tua, mungkin umurnya 40 tahunan. Sial, kenapa aku tidak curiga, pakaiannya sedikit terlalu rapi untuk ukuran pedagang kaki lima.

“Gayatri, berhenti!” Kesadaranku kembali disambar oleh suara Caitlyn. Selama beberapa minggu aku tidak bisa menghubunginya, bahkan dengan kemampuan telepatiku. Sekarang dia tiba-tiba menyambar kepalaku dengan pesan telepatiknya.

“Caitlyn, ada apa?”

“Berhenti melacaknya. Dia akan behasil menangkapmu jika kamu terus melacaknya.”

“Siapa dia?” kali ini aku merasa harus tahu.

“Tidak, dia melacak pikiran kita. Nanti, aku cari cara untuk menghubungi kamu.”

Seperti kesadaranmu yang menghilang secara tiba-tiba. Caitlyn menutup dirinya.

Baiklah, aku akan keluar untuk mencari energi baru. Mungkin Caitlyn benar untuk tidak mencari tahu tentang orang itu. Aku membuka kembali mataku. Kalau aku ingat-ingat, aku bahkan tidak mendengar suara hatinya, atau pikirannya. Apakah dia tahu cara memutus komunikasi telepati. Atau, apa mungkin dia salah satu dari kami? Tapi kenapa Caitlyn melarangku untuk melacaknya? Sekarang, aku mencium bahaya.

Cinta, benci, sombong, amarah, kesal, senang, atau dendam. Aku punya banyak pilihan menu. Keuntungan menjadi vampir cenayang adalah, tidak butuh donor, hanya korban. Sebaiknya aku makan dari mereka yang memang mau pulang.

Pertama kali aku belajar memanipulasi energi secara benar, saat Caitlyn mengundangku di acara kemah keluarganya. Awalnya aku hanya merasakan bahwa aku membawa perubahan pada setiap orang yang aku sentuh. Aku tidak tahu kapan harus menyerap dan kapan aku bisa menahan untuk tidak menyerap energi mereka. Seringkali, aku menyerap energi teman-temanku secara tidak sengaja.

“Kalian gosp apa sih? Ikut dong.” Lalu tawa kami pecah.

“Atri, rajin amat jam segini ke kampus.” Lina memang bukan teman baikkua, tapi sesekali aku memang menghampirinya. Dia selalu ceria, apalagi kalau gadis tercantik di fakultas ini sedang ada masalah. Tampaknya hari ini dia kelebihan ceria.

“Hahaha… bir bisa cum laude.”

Sederhana saja, aku cukup berada didekatnya beberapa inci. Membuka jalur energi dengan mengatur nafas dengan benar, lalu, secara perlahan aku merasakan aliran energi itu merasuk lewat beberapa jalur energiku. Sedikit demi sedikit aku merasa kesegaran dan kekuatanku pulih kembali. Tawa Lina perlahan lenyap. Pikirannya bingung, mengapa ia merasa lemas dan tidak bergairah seperti beberapa detik lalu.

“Ayo kita makan dulu di warteg atau dimana saja deh.” Aku mengajak mereka makan agar Lina bisa memulihkan sedikit tenaganya.

“Aku kok rasanyamalas ya. Rasanya pengen mandi dulu.”

“Ah.. ayo makan dulu. Bareng-bareng biar bisa ngobrol.”

“mmm…”, reaksi korban memang merasa tidak bergairah dan butuh mandi untuk penygaran fisiknya. Lina terlihat berfikir sejenak, namun akhirnya dia mau ikut untuk makan siang ini.

Kami duduk di sebuah bangku panjang yang langsung menghadapkan kami dengan etalase makanan. Aku berusaha membuat suasana selalu ceria, agar Lina tidak terlalu jelek suasana hatinya. Seperti biasa, aku hanya memesan mi goreng. Teman-temanku selalu menanyakan kebiasaan makanku yang aneh. Tidak pernah makan nasi, seperti kebanyakan orang Indonesia, hanya makan sekali, itupun dalam porsi kecil. Mau diapakan lagi, semuanya ada dalam gen ku, dan ilmu pengetahuan modern pun belum bisa menjelaskan tentang adanya spesiesku.

Tiba-tiba seseorang masuk ke warteg, dan menghampiri kami.

“Baru pada pulang kuliah adek-adek?”

“Iya Bu” wanita itu tersenyum, namun matanya dapat kurasakan tajam menatap mataku.

Kenapa aku tidak bisa merasakan ad a yang datang saat dia masuk? Jelas dia bukan manusia yang bisa kubaca pikirannya. Tunggu, dia, dia penjual makanan kaki lima itu.

“Gayatri, lari!” Caitlyn menyambar pikiranku lagiu dengan telepatinya.

“Mba, mi goreng saya dibungkus saja ya.”

“Lho? Mau kemana?” Sisil bertanya, karena tadinya aku yang mengajak mereka makan siang.

“Aku mules tiba-tiba, Sil.”

Wanita itu masih menunggu pesanannya. Jelas aku harus keluar duluan. Saat aku selesai membayar makananku, aku segera keluar dari warung itu.

Aku sengaja mempercepat jalanku, selain membaca pikiran dan manipulasi energi, aku tidak punya kekuatan apa-apa lagi. Aku memusatka pikiranku pada Caitlyn.

“Dari mana dia tahu aku disini? Dan dari mana kamu tahu dia sudah dekat dengan aku?”

“Pagi ini kamu melacaknya, setiap malam kamu kamu mendapat mimpi itu karena dia sedang melacakmu. Hanya perasaanku saja yang tidak enak. Tiba-tiba aku merasa kamu dalam bahaya.”

“Caitlyn!” Sial! Dia menutup komunikasi lagi. Mungkin itu cara dia agar selamat. Aku menoleh, dan benar saja wanita itu berada dibelakangku. Langkahnya cepat, dia pasti sedang berusaha menangkapku. Selang beberapa detik aku merasa ada yang menyambar tubuhku.

“Kamu harus mati.”

Aku terperanjat mendengar kata-katanya. Selama ini aku bahkan tidak pernah membunuh orang. Aku tidak melakukan ritual pengorbanan, tidak ada vampir yang melakukan ritual pengorbanan. Firasatku langsung bekerja, aku menatap matanya. Dan mencoba masuk kedalam kesadarannya, kali ini tidak seperti berkomunikasi, melainkan lebih seperti menyerang kesadarannya.

“Aku gak tahu kamu siapa. Apapun tujuanmu nyari aku atau spesiesku, sebaiknya kamu pergi.”

Kata-kataku tidak berguna, cengkramannya di tanganku makin kuat. aku mengatur kembali nafasku. Agak sulit membuat nafasku teratur dalam keadaan seperti ini. Aku membuka jalur energiku untuk menyerap energinya, namun aku malah merasakan sengatan di telapak tanganku.

“Siapa kamu?!”

Kami akhir masuk ke sebuah mobil yang memang sudah diparkir dari tadi di depan kampusku.

“Dengar, kamu tidak perlu tahu siapa aku. Tugasku adalah membersihkan spesies manusia dari spesies mutan seperti kalian.”

“Kami bukan mutan!”

“Manusia biasa tidak bisa memanipulasi energi.”

Mobil berjalan entah kemana, mereka melumpuhkanku dengan sengatan listrik.

“Kita harus cepat bawa dia ke lab.” Klaimat terakhir yang kudengar sebelum aku pingsan.

Perlahan aku mencium aroma lembut. Uhh, aroma itu membawa kesadaranku kembali. Aku mencoba menggerakan tanganku. Kenapa, aku tidak dapat menyentuh apa-apa? Kugerakan perlahan kepalaku, tidak menyentuh apa-apa juga. Aku buka mataku perlahan. Samar aku melihat titik-titk putih bergerak, lamat-lamat aku bisa melihat dengan jelas.

Sial! Buat apa aku digantung terbalik seperti ini. Aku mencoba menoleh ke samping kiriku, ada seorang gadis, dan disampingnya lagi ada seorang laki-laki seumuran denganku. Mereka pingsan. Lalu di sebelah kananku, ada seorang gadis dan laki-laki juga. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku harus membangunkan mereka. Itupun kalau mereka masih hidup.

Aku hadapkan wajahku ke gadis yang ada di sebelah kiriku. Aku mencoba mnyambar kesadarannya, bicara dari dalam kepalanya. Semoga dia masih hidup.

“Bangun..kita dimana?” Perlahan, dia mulai mengeluarkan suara. Kepalanya bergerak sedikit demi sedikit. Ia membuka matanya, dan perlahan menoleh ke arahku.

“Kita dimana?” Masih tidak ada jawaban. “Aku Gayatri. Aku ditangkap karena aku adalah vampir. Kamu siapa?”

Gadis itu membuka mulutnya hampir berteriak, “Shhhh…”

“Aku Nilam, aku juga vampir.”

“Jadi ada kemungkinan semua yang disini adalah vampir.”

“Kita harus bangunkan yang lainnya.”

Aku dan Nilam mulai merasuki kesadaran mereka satu per satu. Akhirnya aku tahu bahwa tidak ada satupun diantara kami yang paham mengapa kami disini. Juga, ternyata kami semua adalah vampir. Aku mencoba mengingat apa yang wanita itu katakan sebelum aku pingsan. “Membersihkan spesies manusia dari spesies mutan”, apa itu artinya kami akan dibunuh?

“Kalian siapa!!!”

“Nilam, jangan berteriak.”

“Kita lihat saja.”

Seseorang dengan seragam laboratorium yang lengkap menghampiri. Ia membawa sesuatu. Sepertinya itu adalah suntikan, apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain menggantung vampir? Saat orang itu mendekati Nilam, seseorang yang juga digantung terbalik di sebelah kiri Nilam lalu mengayunkan tubuhnya. Ia menggapai kepala orang itu dan menariknya hingga jatuh. Lalu tangannya menggapa kepala korbannya, ia membuka penutup kepala orang itu, lalu menyerap energinya dengan sekali sentuhan.

“Kembali ke mejamu lalu lepaskan kami, atau energimu akan habis.”

“Terima kasih,” aku benar-benar terkesan dengan rencana mereka.

“Tidak masalah, aku sepupu Nilam, Damar.”

Saat itu untung saja pekerja lain berada di luar ruangan ini, sehingga mereka tidak melihat kejadian tadi. Pekerja itu berdiri di belakang seperangkat komputer. Dia menekan beberapa tombol. Serentak ikatan di pergelangan kaki kami terlepas. Bagian terburuknya, kami semua jatuh dengan kepala membentur lantai terlebih dahulu.

“Gunakan kemampuan manipulasi energi kalian.” Damar memberi petunjuknya secara telepatis.

“Tapi dimana jalan keluarnya, kita tidak tahu sekarang ada dimana?”

“Itu urusan nanti”, kata anak laki-laki yang satunya lagi.

Kami mengendap, Damar masih mempengaruhi kesadaran pekerja tadi. Dia tidak bergerak, dan itu kesempatan bagus. Jelas, anak-anak ini lebih lama belajar dari aku. Aku hanya bisa memberi pesan untuk satu orang, tetapi mereka bisa menyebar kemampuan telepatisnya ke beberapa orang sekaligus. Gerakanku gesit, sehingga, begitu kami keluar, tugasku adalah memaipulasi energi para pekerja. Mereka yang telah dimanipulasi energinya, seketika lemas dan bingung.

Kami terus menulusuri koridor yang berbelok-belok. Aku menyerang seseorang yang berusaha menghalangi jalan kami. Aku menjadikannya penuntun jalan keluar. Dia tidak bisa melawa dibawah pengaruhku. Kami berjalan melewati beberapa belokan dan sederetan ruangan. Pertanyaan “tempat apa ini?” belum terjawab. Jelas ini sebuah laboratorium, tapi untuk apa? Untuk apa mereka mengumpulkan vampir seperti kami.

Setelah hapir sejam menyusuri lorong dan menyerang beberapa pekerja yang menghalangi kami, akhirnya kami sampai di pintu keluar, lebih tepatnya pintu belakang. Aku tidak lagsung melepaskan ‘cengkraman’ku dari kesadaran pekerja tadi. Saat kami berada di luar gedung, ada sebuah pagar yang dibangun mengelilingi tempat ini. Pasti ada pintu kecil atau, celah agar kami bisa keluar dengan selamat.

“Tunjukan pintu keluar dari sini,” pekerja itu mendengar bisikan dari dalam kepalanya sendiri. Dia berjalan membawa kami ke sebuah pintu kecil, yang hampir tidak terlihat.

Damar menyerang beberapa orang sekaligus disekitar kami. Membuat mereka membeku ditempatnya. Pekerja yang bersamaku mengambil kartu pengenal dari saku jaket putihnya. Ia menekan kode pengenalnya lalu menempelkan tanda pengenal di layar kecil disamping pintu. Seperti aku, Damar pun belum melepaskan cengkramannya dari beberapa pekerja dan penjaga yang ia buat beku. Kami keluar satu per satu dari lingkungan laboratorium itu. Kami lalu berlari scepatnya menjauhi tempat itu. Secara perlahan, cengkraman kami terhadap para pekerja itu pun lepas.

Kami berlari, tanpa memperhatikan apakah ada jalan setapak yang bisa kami lewati. Aku sendiri tidak bisa menebak tempat apa ini. Ini seperti hutan, udaranya sejuk, sepertinya kami ada dikawasan pegunungan. Kalau mereka berhasil membawa aku sejauh ini, artinya tadi aku pingsan lama sekali. Semua pertanyaan itu bisa menunggu, aku terus berlari mengikuti Nilam yang berlari didepanku. Kami berlari menuruni bukit, tidak tahu berapa lama kami berlari, yang pasti kami harus selamat dulu.

STUCKED

Apa saya pernah bilang merasa seperti terjebak? Oh ya… berkali-kali saya mengatakan hal itu. Seolah-olah saya tidak punya kehidupan lain selain empat dinding ini. Saya harap saya hany orang yang suka melebih-lebihkan, bahwa saya merasa terjebak dan kelelahan. bukan secara fisik, tapi secara psikologis. Tidak bisa juga saya mengatakan bahwa semua ini karean tetek bengek dalam kehidupan saya. Yah, hadapi saja aku sudah dewasa. Aku bukan lagi anak kecil yang cukup dihibur dengan Candy Candy, Remi, atau Doraemon. Bukan lagi anak kecil yang harus demam seminggu karena ingin dibelikan CD dan kaset Sherina. Aku sudah dewasa, yang sesekali menghabiskan malam bernyanyi dengan teman, atau nonton konser. Aku orang dewasa punya blog dan rencana untuk hidupku dimasa depan.

 

Sekarang malah aku merasa terjebak dengan segala hal dewasa yang harus aku lakukan. Bekerja, berfikir, walaupun mungkin aku tidak cukup dewasa untuk menyadari bahwa kamarku harus rapi. Bukan berarti aku ingin kembali kemasa film kartunku dulu. Aku ingin menjadi dewasa, aku ingin melakukan apa yang dilakukan orang mandiri pada umumnya. Perasaan terjebakku ini mebuat aku ingin lari, dan berbuat hal yang lain.

 

Mungkin aku terlalu takut. Ini buka Australia, Inggris, atau Amerika, atau negara maju lainnya yang punya sistem wellfare untuk menjamin kebutuhan mendasar mereka. Ini Indonesia, dimana mimpi seringkali terbentur dengan kenyataan pahit. Kecuali memang Tuhan punya mukjizat yang ditujukan untuk kita. Apa lagi yang kuminta, sudah cukup banyak mukjizat Tuhan berikan untutkku.

 

Aku berbaring mendengarkan Devlin dan Yasmin mendendangkan lagu tentang pelarian.

We’ll neverknow until we break the barricade …….

 

 

 

Dalam Progres

Saya mencoba untuk menjadi kritis terhadap diri saya sendiri. Mengingat saya merasakan kondisi badan dan mental saya yang semakin melemah. Kelelahan,, itulah yang paling pantas menjelaskan kemandegan dalam progres saya di akhir tahun 2012 masehi ini.

Mencoba dan berusaha seperti merangkak dengan seluruh beban diatas diri saya. Kalau ada yang mau membantu, tolong hancurkan dinding yang makin menghimpit.

Ya… kalau saya hanya bisa merangkak, saya akan merangkak sampai mencapai kata bebas.

i’m fucked up :(

Ini hanya cerita sederhana tentang kondisi saya saat ini.

Passion…. when the word hits my mind I suddenly feel like I let this ages of time passed me by. I don’t say i go nowhere, obviously I reached something in my life. I do something, at least, for my self. But the story would be different if talk about passion. My friend once said, spare your time for your passion. I trusted her to heaven and back. Passion helps me to get through the nasty thing, and to heal my psychological trauma. The thing is, would you actively do your passion when you are psychologicaly tired.