Menjadi Partner Yuzzlin; Aman, Terpercaya, dan Memuaskan

Saat memutuskan untuk menjadi penulis lepas, saya tahu bahwa saya akan membutuhkan Paypal untuk kebutuhan transaksi. Awalnya saya ragu untuk membuat akun Paypal, karena saya pikir harus punya kartu kredit untuk bertransaksi. Hingga pada suatu hari saya diberi tahu oleh teman saya bahwa untuk menggunakan akun Paypal tidak harus punya kartu kredit. Kita bisa membeli saldo secara online untuk mengisi saldo di akun kita.

Tepatnya bulan September 2013, saya mulai fokus dengan pekerjaan baru saya sebagai penulis. Untuk mengisi saldo di Paypal, saya coba saran saya untuk menggunakan jasa penjual saldo secara online. Pada mulanya saya memang sempat takut tertipu, namun saya mencoba menggunakan mesin pencari untuk penyedia jasa jual beli saldo Paypal yang aman.

Awalnya saya berkenalan dengan Yuzzlin melalui mesin pencari. Nama situsnya berada di halaman pertama dari hasil pencarian. Setelah saya pelajari, ternyata usaha jual saldo Paypal sudah lumrah dilakukan. Terutama, sebagian besar masyarakat Indonesia memang lebih memilih kartu debit dibanding kartu kredit. Jasa penjual saldo Paypal secara online, sangat membantu masyarakat Indonesia yang lebih suka dengan kartu debit.

Saya lalu membeli saldo sejumlah $30, hanya sekedar untuk coba-coba saja. Saya sempat kaget ternyata setelah beberapa jam memasukan permintaan di situs Yuzzlin, saya langsung mendapat e mail. Hingga saldo Paypal saya terisi, jangka waktu pengurusan tidak sampai 24 jam. Siapa yang tidak puas kalau dilayani dengan cepat.

Sekarang saya masih menekuni karir dan hobi sebagai penulis. Yuzzlin dan Paypal menjadi teman baik saya dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan honor menulis saya. Bahkan, melalui Yuzzlin saya bisa mencairkan saldo dari akun Paypal saya langsung ke ATM. Sekali lagi, prosesnya tidak sampai sehari!

Sejujurnya saya puas dengan pelayanan yang diberikan Yuzzlin pada saya. Pelayanannya cepat dan terpercaya. Oleh karena itu, saya dengan senang hati merekomendasikan Yuzzlin untuk menjadi rekan Anda dalam bertransaksi melalui Paypal.
Jangan lupa kunjungi situsnya juga. http://yuzzlin.com/

Artitik Dyah Ikhsanti
Penulis Lepas, Jakarta

Apa yangsaya lakukan selama ini, dan -mungkin- Anda tidak tahu

                Setahun yang lalu saat ayah dari teman saya, Nuran, meninggal, Nuran menulis tentang proses meninggal ayahnya. Tulisan itu muncul di wall Home FB saya tidak lama setelah ayahnya meninggal. Saat itu saya berfikir saya bisa setegar dia dan siap untuk berbicara tentang meninggalnya ayah saya, kalau sudah waktunya. Bulan Agustus 2013, tepatnya pada bulan puasa, ayah saya meninggal. Perkiraan saya meleset, saya selalu kesal ketika orang bertanya tentang meninggalnya beliau, yang dapat saya sembunyikan dengan baik. Bahkan, saya butuh beberapa bulan untuk siap menulis dan terbuka tentang beliau di blog ini.

                Saat berita meninggalnya ayah saya, saya tidak merasakan kaget, atau sedih yang berlebihan. Saya cukup tenang bahkan menelpon beberapa anggota keluarga saya untuk memberi kabar. Keesokan harinya, saya masuk kerja, namun pada siang harinya saya mengalami panick attack. Syukur serangan itu hanya berlangsung 30 menit, setelah itu saya bisa membantu teman saya masak, bahkan kami pergi karaoke. Selanjutnya saya pulang ke tanah kelahiran saya di Merauke pada tanggal 16 Agustus. Selama empat hari disana saya cukup bahagia karena bertemu keluarga dan teman-teman saya. Salah satu peristiwa yang membahagiakan adalah saat saya berkumpul lagi dengan anak-anak asuh ayah saya.

                Sepulang dari Merauke, saya bekerja dan menjalankan rutinitas seperti biasa. Walaupun saya sempat kehilangan orientasi, tapi saya bisa pulang pergi untuk bekerja seperti biasa. Lalu saya mengalami panick attack kedua, dan bos saya langsung memanggil seorang psikiater hari itu juga. Konsultasi berlangsung selama satu jam ditambah latihan relaksasi. Terus terang tidak banyak membantu, saat itu.

                Saya mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan saya yang lama, karena memang saya berniat untuk menjadi penulis lepas. Selain itu, saya yakin dengan mengerjakan hal yang saya sukai, keadaan psikologi saya akan terus membaik.

                Proses kedua dalam recovery saya, setelah saya tidak bekerja lagi, adalah melakukan penelitian. Saya mulai membaca teori dan dokumenter mengenai keTuhanan, mencoba untuk mempelajari konsep kematian, alam semesta dari berbagai sudut pandang, religius sampai materialis. Bagi teman-teman saya di Tegalboto (majalah kampus Universitas Jember) topik seperti ini pastinya tidak asing, oleh karena itu saya sudah terbiasa dengan proses memahami konsep-konsep baru.

                Saya juga mulai melakukan meditasi, dan mempelajari secara ilmiah mengenai bagaimana sebenarnya otak manusia bekerja. Kondisi otak manusia saat bekerja, tenang, dan tidur. Ilmu-ilmu baru ini terus terang memberi saya wawasan tentang cara untuk mengatasi rasa gelisah dan membuat saya untuk tetap kreatif dan aktif. Saya bahkan mengikuti sesi meditasi di sebuah kuil beberapa kali. Walaupun saya orang Islam, saya akui saya lebih tenang saat meditasi dibandingkan saat shalat. Bahkan shalat saya terasa lebih menenangkan dan khusyuk setelah saya melakukan meditasi. Saya memang sudah tidak melakukan meditasi beberapa hari ini, namun ketika otak saya lelah bekerja saya akan diam beberapa menit untuk menyegarkan otak.

                Saya tahu teman saya mencoba meyakinkan bahwa agama Islam itu paling benar. Dia melakukan hal ini karena tahu saya ikut sesi meditasi, tapi saya tidak menceritakan padanya lebih dalam mengapa saya mengikuti sesi meditasi karena saya tidak suka berdebat. Tulisan ini juga semoga dapat dibaca oleh kawan saya mengapa saya menjadi lebih tenang ketika meditasi. Saya juga berharap siapapun yang berusaha mendebat pemikiran dan kebiasaan baru saya dengan ayat Al Qur’an untuk mencari teori ilmiah dulu. Salah satunya saya tidak menceritakan hal ini kepada mereka yang ‘bergama samawi’ karena, sesuai pengalaman saya, saya akan dihakimi bukan dibantu. Terbukti kawan saya itu langsung bilang ‘jangan terpengaruh sama orang lain’ sebelum saya menceritakan lebih lanjut. Terus terang saat itu saya langsung ‘turn off’ untuk menanggapi. Tapi saya tidak boleh punya perasaan negatif pada siapapun, karena energi negatif dalam diri saya dapat mengundang energi negatif dari luar.

Orang-orang akan bilang berdoa supaya arwah beliau akan tenang. Saya yakin saudara-saudara saya yang lain akan langsung memasrahkan kepada ‘tuhan’ tentang nasib keluarga saya di alam lain. Namun, entah jalan pikiran saya yang aneh, karena sesuai pengalaman saya aneh sendiri dalam keluarga, saya harus tahu apa yang terjadi setelah seseorang meninggal. Dan pertanyaan ini menuntun saya ke berbagai teori, artikel, jurnal, diskusi ilmiah, dan dokumenter mengenai berbagai hal, saya bahkan menemukan kembali teori lama mengenai eksistensialisme yang sudah saya tinggalkan di Jember. 

Ada sisi baik dari perjalanan terapis saya setelah meninggalnya ayah saya. Saya jadi banyak membaca dan kembali mempelajari sejarah. Sejarah Islam, free spirited, sejarah Jawa, menyebarnya Islam di Indonesia, bahkan mencari film dokumenter mengenai penelitian psikologis.

Ok, saya yakin pasti banyak yang bertanya mengapa satu kejadian itu bisa menuntun saya kejalur ilmiah yang, kalau Anda mau sebut, ribet. Disaat orang-orang mengambil liburan, atau berusaha mencari ketenangan setelah berduka, saya malah membenamkan diri dengan artikel dan video penelitian. Proses meninggalnya ayah saya memang terlihat biasa dan wajar. Beliau sakit, hemoglobinnya menurun, lalu meninggal. Namun pemicu penyakitnya ini yang membuat saya mempertanyakan kembali eksistensi kepercayaan saya dan ajarannya. Ditambah temuan-temuan saya dalam artikel, buku, dan video yang saya dapat, pikiran saya menjadi lebih terbuka untuk berbagai perubahan.

Orang boleh mengatakan itu takdir, tapi bagi saya ‘pemicu’ sakit ini (saya tidak akan menyebutkannya) bukanlah takdir yang dibuat Tuhan, Yang Esa, Allah, Bapa, atau apapun kalian menyebut The Higher Up. Mengingat pengetahuan beliau mengenai agama, beliau bahkan seorang sosiolog, saya jadi mempertanyakan sebenarnya apa fungsi agama. Tentangga saya yang beragama lain,  bahkan menderita kanker payudara saat ayah saya mulai sakit, namun beliau bisa kembali sehat seperti sedia kala. Orang akan bilang, doakan saja, ikhlaskan saja. Semua itu bisa saya lakukan, namun semua kejadian ini membuat saya melihat sebuah proses yang lebih besar dari sekedar ‘doakan saja’ dan ‘ikhlaskan saja’.

Saya juga tidak menyangka, dari menyaksikan kamar tidur dimana saat ayah saya meninggal, saya lalu tergerak untuk melihat kondisi makro yang selama ini, boleh dibilang, tertutup dogma. Saya tidak bilang sistem agama itu salah. Sebuah masyarakat memang membutuhkan sistem yang lebih kuat dari hukum positif, untuk membuat mereka lebih teratur dan beradab. Dalam hal ini yang saya sesalkan adalah, bagaimana orang mempelajari agama tanpa memahami esensinya. Bagaimana orang menjalankan ritual tanpa mengerti maksudnya. Bagaimana orang hanya menerima tanpa mau berfikir, hanya karena ada kalimat ‘saya dengar saya taat’.

Semua proses ini juga terasa seperti déjà vu. Saat saya SMP (saya lupa kelas berapa), saya suka sekali tidur-tiduran di kamar sembari berfikir apakah Tuhan itu ada, kenapa kita butuh sistem dalam masyarakat, kenapa kita butuh sistem sebagai individu. Syukurlah saya melewati fase itu, dan sampai pada kesimpulan Tuhan ada, dan manusia memang butuh sistem, sebagai individu dan masyarakat. Namun sistem seperti apa?

Kalau bicara tentang agama, saya sangat setuju dengan pemikiran Yusuf Estes, ‘agama bukan masalah bukti, tapi masalah keyakinan’. Semua agama melarang umatnya untuk berbuat jahat pada orang lain, semua agama mengajarkan untuk berbuat adil, semua agama mengajarkan ada ganjaran baik dan buruk untuk setiap perbuatan. Anda boleh berpendapat bahwa saya bersikap berlebihan dan terlalu dramatis, namun saya bukan orang yang hanya karena orang lain  bilang apel itu manis saya percaya apel itu manis tanpa mencoba. Saya tahu dalam fase ini saya menyentuh ranah yang abu-abu, ilmiah dan supranatural. Ranah yang diperdebatkan, terutama kalau Anda membaca tentang teori penciptaan alam semesta, Big Bang bukanlah teori satu-satunya.

Sebenarnya ada ketakutan dalam diri saya ketika saya menulis tentang hal ini, apakah nanti saya akan mendapat ‘penghakiman’ dari beberapa pihak. Tapi saya berada dalam posisi, saya ambil resiko itu. Bahkan walaupun hal itu mungkin akan datang dari keluarga saya. Saya sudah sadar dari sejak lama bahwa keluarga belum tentu memahami kita, kitalah yang harus memahami diri kita dengan baik, dan saya adalah pemikir. Bukan memuji diri sendiri, tapi saya memang suka berfikir.

Saya sudah bisa memperkirakan, karena semua orang yang saya ceritakan mengenai hal ini berkata ‘yang salah itu individu’, kalau ini masalah individu berarti saya juga bisa berkata ‘yang benar itu individu’. Saya percaya Tuhan ada dan membuat sistem yang kita sebut sebagai alam semesta, namun apakah sistem ‘berkemanusiaan’ yang selama ini kita jalankan adalah juga sistem dari Tuhan? Orang tidak perlu mengenal sistem riba untuk mengetahui bahwa mengambil hak orang lain dan mengambil keuntungan berlebihan adalah salah. Sebelum Cina mengenal hukum Islam bahwa seorang pencuri harus dipotong tangannya, Confusius sudah membuat hukum itu, dan Confusius adalah murid Lao Tze pendeta Tao.

Dalam hal ini saya tidak berusaha untuk mengajak pembaca meragukan hukum dalam Islam, yang ingin saya tekankan adalah ada kesalahan berfikir dari orang-orang yang beragama, syukurnya tidak semua. Mereka tahu agama adalah pengatur atau sebuah sistem, di satu sisi agama bukan sekedar objek ilmiah melainkan juga keyakinan. Saya melihat banyak orang yang merupakan pemuka agama melakukan hal-hal yang melanggar ‘sistem’ tersebut, namun mereka tetap memberikan doktrin pada umatnya. Sebagaimana pencerahan dari Yusuf Estes, bahwa agama bukan bukti melainkan keyakinan, orang-orang ini hanya meletakkan agama sebagai bukti, bukan keyakinan. Hasilnya adalah doktrin, kemandegan berfikir, karena agama diperlakukan sebagai bukti, hal untuk dilihat dan dipercaya, bukan diyakini. Hal ini juga membuat orang-orang percaya bahwa agamanya benar, tapi tidak mau berbuat baik karena mereka berfikir ‘asal percaya dengan keyakinan tertentu, pasti masuk surga’ (kepercayaan ini bukan hanya dalam Islam), pertanyaannya ‘tahu dari mana?’. Tentu saja mereka percaya hal ini karena itu tertulis dalam kitabnya, namun pernahkan mereka mempertanyakan kepercayaannya itu. Kalau berbicara keyakinan, kita akan bicara ranah supranatural, tidak mungkin tersentuh secara ilmiah. Belum tentu semua orang yang percaya agama, yakin akan agamanya sendiri. Kalau hal itu terjadi, dunia ini akan aman, dan tidak ada catatan perang dalam sejarah. Keyakinan adalah yang menuntun seseorang dalam mencapai pencerahan spiritual, kalau dalam Islam disebut hidayah, dalam Buddha disebut buddhi (kesadaran), atau dalam bahasa Renaisance kita kenal dengan ‘pencerahan’ atau ‘enlightment’.

Oleh karena itu, bagi saya perdebatan antar agama untuk menunjukan agama mana yang paling benar adalah konyol dan buang-buang waktu. Karena agama adalah masalah keyakinan, masalah spiritual yang notabene supranatural.  Bicara soal bukti ilmiah, setiap agama pernah diteliti secara ilmiah dan memiliki konsep masing-masing dalam hal alam supranatural. Fenomena tentang pemuka agama yang melakukan hal yang bertentangan dengan inti ajaran semua agama, yaitu kasih sayang, menunjukan bahwa mereka mendasarkan pemahaman agamanya hanya pada bukti yang merupakan natural, bukan keyakinan. Perlu saya informasikan mengani fenomena ini, saya saksikan dengan mata saya sendiri, dan terjadi pada orang-orang yang dekat dengan saya. Maka saya tidak heran kalau ujungnya saya berfikir ulang tentang sistem kepercayan dan keyakinan yang umum di masyarakat kita.

Saya bukan orang suci yang sudah menemukan pencerahan spiritual seperti Mosses, Yesus, Buddha, atau Muhammad. Saya hanya mencoba untuk berfikir ulang kembali tentang pengertian saya selama ini mengenai kepercayaan yang saya anut. Kalau orang yag saya lihat berkotbah, melakukan ritual, dapat terjebak dengan pemahamannya sendiri, apalagi saya.

Satu informasi lagi, memang butuh waktu untuk memaafkan ayah saya. Saya butuh penjelasan, seperti ‘clossure’ tentang mengapa terjadi seperti itu? Namun dengan meditasi, olah pernafasan, dan proses terapi mandiri, saya berhasil menenangkan diri dan memaafkan ayah saya. Saya mengubah keingnan saya untuk menuntut ‘clossure’ menjadi keinginan untuk mendapat jawaban mengenai ‘apa yang salah’. Dengan mengubah kemarahan menjadi rasa ingin tahu, saya berharap untuk tetap dapat bersikap positif terhadap apapun nanti yang saya hadapi.

Semoga racauan saya bermanfaat bagi Anda.

8 Selebriti Yang Mengalami Kecelakaan Mobil

(in Courtesy of iMoney)

       Tidak ada orang yang mau mengalami kecelakaan. Namun kecelakaan tidaklah mungkin terduga. Kita tidak akan tahu kapan ada pengemudi mabuk atau ngantuk yang akan menabrak mobil kita. Oleh karena itu, kiranya kata bijak dari tetua kita menjadi pegangan, “sedia payung sebelum hujan”. Asuransi jiwa atau kesehatan sudah banyak disadari sebagai kebutuhan, seharusnya kesadaran untuk mengasuransikan mobil juga menjadi kebutuhan. Bolehlah kita tengok kisah beberapa selebriti yang mengalami kecelakaan mobil.

1. Kecelakaan AQJ

kecelakaan AQJ

Belum lepas dari ingatan, berita hangat kecelakaan putra bungsu Ahmad Dhani. 8 September 2013 lalu, mobil yang ditumpangi AQJ (yang juga disapa Dul), mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi. Selain merenggut nyawa, dan membuat AQJ luka parah, mobil yang ditumpangi AQJ pun rusak. Menurut pengakuan AQJ saat diperiksa, kecelakaan terjadi karena AQJ sudah kelelahan karena berkendara sejak sore. Sampai saat ini diketahiu jumlah korban meninggal akibat kecelakaan ini adalah tujuh orang.

2. Rowan Atkinson

rowan atkinson

Pelawak internasional ini kehilangan kendali saat mengemudi McLAren F1. Automobil mahalnya itu menabrak pohon, lalu menabrak lampu jalan, kemudian terbakar. Beruntung Rowan bisa selamat. Kecelakaan ini membuat Rowan Atkinson tidak ingin membeli produk dari Prosche lagi. Pada Agustus 2011, pemeran Mr. Bean ini berhasil mencairkan asuransi mobilnya sejumlah Rp 12,5 milyar.

3. Ayu Ting Ting

kecelakaan ayu ting ting

Ketika dalam perjalanan menuju lokasi konser di Agam, Sumatra Barat, mobil yang ditumpangi Ayu Ting Ting dan pengisi acara lainnya mengalami tabrakan dengan Kijang Innova BA 511 UM. Sebelumnya mobil kijang ini ditabrak mobil pick up yang dating dari arah Simpang Gudang menuju Tiku. Walaupun akhirnya Ayu Ting Ting dan rekan pengisi acara lainnya dapat tiba di lokas konser, mobil yang ditumpanginya rusak. Kecelakaan yang terjadi pada 21 April 2012 ini tidak merenggut korban jiwa.

4. Nike Ardila

nike ardila

Masih segar di ingatan, kecelakaan yang menimpa Nike Ardila. Walaupun hal ini terjadi di tahun 1995, namun nama Nike Ardila masih banyak dibicarakan. Honda Civic yang ditumpanginya menabrak tembok setinggi satu meter. Penyanyi ini pun meninggal seketika, dan untuk mengenang almarhum, didirikan museum Nike Ardila di Bandung, Jawa Barat.

5. George Michael

george michael

Penyanyi berusia 50 tahun ini sempat dirawat di rumah sakit selama dua minggu karena kecelakaan mobil. Tanggal 16 Mei 2013 lalu, Range Rover yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, anehnya tidak ada kendaraan lain yang terlibat. Selain mobilnya yang mengalami kerusakan, George Michael pun mangalami luka di bagian punggungnya.

6. Paul Walker

Paul Walker car crash scene  3

30 November lalu dunia perfilman internasional dikejutkan dengan meninggalnya Paul Walker. Aktor dalam film Fast and Furious itu mengalami kecelakaa mobil, dan nyawanya tidak sempat diselamatkan. Mobil Prosche yang ditumpanginya dan temannya ini menabrak sebuah tiang dan kemudian terbakar. Paul Walker meninggal dunia di usianya yang ke 40 tahun. Salah satu rekan mainnya dalam Fast and Furious, Tyrese Gibson dan penyanyi Ludacris menciptakan sebuah lagu untuk mengenang sahabat mereka itu.

7. Charlie Sheen

charlie sheen

Entah bagaimana perasaan pemenang Golden Globe ini ketika melihat berita kecelakaan mobilnya di televisi. Mercedes Benz milik Charlie Sheen ini dicuri secara otomatis, naasnya saat mobil ini mala terperosok ke jurang. Untungnya aktor Two and A Half Men ini tidak berada dalam mobil saat kecelakaan terjadi.  

8. Dennis Rodman

dennis rodman

Bisa selamat dari kecelakaan seperti yang dialami Dennis Rodman bisa dibilang keajaiban. Mantan bintang NBA ini mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan mobil Range Rover nya terbalik. Dennis bisa selamat tanpa cedera yang berarti, sedangkan mobilnya rusak parah, dan langsung dibawa ke tempat pembuangan.

        Kejadian yang tidak terduga seperti kecelakaan atau kehilangan, mengharuskan semua pemilik kendaraan bermotor untuk berjaga-jaga agar dapat ditolong dari efeknya. Belajar dari kecelakaan yang menimpa publik figur yang disebutkan sebelumnya, menunjukan kita harus berhati-hati dalam mempersiapkan diri dan kendaraan sebelum berkendara. Selain itu juga harus berhati-hati dalam berkendara, dan kalau terjadi kecelakaan, kita sudah siap untuk memperkecil dampak buruk dari efek kecelakaan, yaitu dengan mengasuransikan kendaraan kita.  

 

Dapatkan asuransi mobil Anda online sekarang juga di http://www.iMoney.co.id/asuransi-mobil

Sumber

  1. http://showbiz.liputan6.com/read/729950/terkuak-misteri-kecelakaan-dul-ahmad-dhani
  2. http://prayerstore.blogspot.com/2013/02/supercar-mclaren-f1-kepunyaan-mr-bean.html
  3. http://m.riaupos.co/11702-berita-ayu-ting-ting-kecelakaan,-mobil-ringsek.html
  4. http://www.tmz.com/2013/05/29/george-michael-out-of-the-hospital-car-accident-head-injury/
  5. http://www.theguardian.com/film/2013/dec/01/paul-walker-dies-car-crash
  6. http://www.celebritycarsblog.com/top-10-most-idiotic-celebrity-car-accidents/

For Those Who Keep Thinking

matahari jember

Have you ever felt like you don’t need to bother thinking about events occur miles away from you. Maybe somtimes, you even think you don’t have to care abou people surround you.

What I am trying to describe is, sometimes you don’t have to bother any events surround you, but for certain events, of course you need to pay extra attention.

Reading, like the first verse delivered to muslim’s prophet Muhammad SAW, was it about he read like literally ‘read’? He couldn’t even read. Ok this is my thought, you entitled to your own thought. I think he was told to read in broader way. Read doesn’t always have to be book or writing. Moreover, it is about being observant, reading the situation, reading people’s mind, people’s atitude, so we can survive. I think reading is one of human’s way to adapt and survive.

Then, what means by reading, we only read and believe? No. Why there are many people hat each other, saying nasty things to public figure solely based on why they read? I met some college students that take what they read just the way it is. I am sure everybody is familiar with the word contemplation. Reading is not only about knowing, we can survive because we understand. It is important to be contemplative toward what we read. Sometimes our mind play some tricks on us. Admit that. So we need to contemplation to prevent the damage of blinding believe in something tricky. Be real, the world is tricky.

The action we take, or words we say, are the result of these two processes. It is really imporatant to take an action if we have knowledge about it, and analyze. Be a sensitive person is helping when we need to tale a decission.

I believe if we keep thinking, reading, we wouldn’t end up in a dark pit full of hatred and sadness. Even if it is words, action, or events that our parents tell us, we still need to read them through.

I just hope people wouldn’t stop to think. Not only thinking what benefits them, but also about other’s wellbeing. Reading makes people think, don’t ever stop to think, maybe by doing it you can inspire people with simple positivity.

Gift For Today

This is may not a professional work, but I decided to post it here because I think it is a pretty interesting topic to talk about.

 

I met up with my old friends for college, they look cute with their girlfriends, I am so proud of them. The talk about what they are doing, and how what they are doing right now is their passion. I am impressed by their passion and how they dedicate their live to chase what they love. The other day I had a talk with one of doctors from my previous office about passion and goal. She said, the difference between people who have goals in life and those who don’t is we can see, if they focus or not. Some people just live the life they have, and discard the passion or the call they’ve been having for, maybe, their entire life because they scare or just being negative. And just now, I read an article about passion, and what holding us back from achieving our call. That is why, I decided to write what I think about right now, because I can say I am a strugling writer, and I still have a hope for the word called passion.

 

I tried to ask some of my friends about what is their passion, what they really want to do in their life. Passion is not a coommon word for most Indonesia people, so I had to elaborate about the definition. Once they understood, they told me what things that they loved to dot, things made them happy when they did them. I can say, actually each of us has our own call, passion, whatever you want to call. In this modern world, we might not directly get what we want, or having job suits our passion. But if we try to notice, is that really what holding us back from doing what we want?

 

You may a nurse, accountant that love writing or singing. You may math teacher that love dancing, or you may even a full time mom and you love martial art. You may be anything that you don’t plan to be, but actually there is some other thing that you love to do. Have you ever noticed, what holding you back from doing what you love. Based on my experience, I can say time, energy, money, community, other adult resposibilities, and facility. Don’t you know by doing things you love in your spare time, it actually energizes you to do your main jobs. Well, at least I feel it, God gave us right and left brains not for nothing.

 

I am doing what I want to do now, after years of work. I decided to refresh my right brain, my creativity. I don’t think doing what you love is useless. You might inspire other people to regain positivity in their lifes simply by doing what you love. Doing what you love also gains positivity inside you. Because you simply love what your doing, and any step you make, you see it as progress, and any obstacle you find, you see it as challenge. 

 

People might let you down by saying how uselees you are for doing such things. Well, I can only advise you to follow your gut, maybe that’s the guide. 

 

Keep doing what you love so you can gain positivity in your life, and recharge your energy to do your other resposibilities. 

dyahikhsanti:

animal killing practise for sport or amusment purposes should be stopped

Originally posted on Straight from the Horse's Heart:

Source: Wild Horse Observers Association

Open Letter to New Mexico Governor Martinez

Governor Martinez Office of the Governor
490 Old Santa Fe Room 400
Santa Fe, NM 87501 505-476-2200
Date: 3/25/2013

Re: Please Ban Horse Slaughter in New Mexico – Petition results (every 5000 report) Dear Governor Martinez,

Placitas Wild OnesI am writing to you on behalf of New Mexican Citizens Against Horse Slaughter and more than 5800 petition signers attached to ask that you to please sign an Executive Order to ban horse Slaughter in New Mexico.

These signatures are representative of the 80% of Americans who like you, are against horse slaughter for Human consumption per the recent Lake Research Poll.

This petition is closely followed by a SECOND petition to Ban Horse Slaughter in New Mexico and now a THIRD Petition to STOP THE RED NECK NATION killing of prairie dogs, coyotes, bears, cougars and horses in New Mexico…

View original 718 more words